
Saat ini Andovi, Mikaya dan Afgari tengah berada dalam perjalanan. Mikaya tak henti-hentinya mengulas senyum saking senangnya. Terakhir jalan-jalan pada saat Afgari masih dalam kandungan.
"Kamu gak apa-apa libur ngantor, mas? Kerjaan kamu bagaimana? Emang kamu lagi gak sibuk?" tanya Mikaya setelah lama saling diam.
"Gak usah bawel. Aku udah minta Mira buat handle semuanya."
Lagi-lagi Mikaya mendengar suaminya menyebutkan nama Mira di depannya. Mungkin ini kesempatan untuk dirinya bertanya siapakah sosok Mira itu.
"Mira sekretaris baru kamu, mas?"
Andovi menoleh ke arah Mikaya sekilas, sebelum kemudian fokus lagi pada jalanan.
"Iya, dia sekretaris aku yang baru. Tapi udah dua bulan."
Mikaya sedikit terkejut ternyata wanita bernama itu sudah lumayan lama bekerja di kantor suaminya. Mikaya jadi berpikir apa perubahan suaminya memang karena kehadiran sekretarisnya itu. Akan tetapi ia segera menepis pikiran tersebut, sebab ini bukan waktunya untuk ia berdebat dengan suaminya. Ini waktunya mereka bersenang-senang guna melepas penat setelah sekian lama tidak refresh otak.
Setelah menempuh waktu hampir satu jam, mobil yang mereka tumpangi sudah sampai pada tujuan. Dan selama perjalanan, Afgari sama sekali tidak rewel. Sekalipun dia tidak menangis. Mungkin karena Afgari mengerti jika ini waktu yang sangat berharga.
Andovi sengaja memilih tempat yang sejuk dan asri untuk mereka refresing. Mereka akan menginap selama tiga malam di villa yang terletak tidak jauh dari pegunungan.
Andovi menurunkan koper dari bagasi mobil, sementara Mikaya menggendong putranya dan menenteng tas kecil berisi botol susu dan termos kecil.
Mereka di sambut hangat oleh seorang penjaga villa tersebut. Dan di antar hingga masuk ke dalam villa, di tunjukan dimana letak kamar yang akan mereka tempati tiga hari ke depan.
Mikaya tidak lupa mengucapkan terima kasih pada bapak penjaga villa tersebut.
__ADS_1
Mikaya membaringkan Afgari di atas tempat tidur karena bayi itu kini tertidur. Setelah itu ia meletakkan bantal dan guling di sisi kiri kanan Afgari sebagai pembatas agar dia tidak jatuh seperti kemarin.
Mikaya melihat Andovi tengah berdiri di balkon luar kamar yang terdapat skat jendela besar, memperlihatkan keindahan alam yang membentang luas.
Mikaya memutuskan untuk menghampiri pria itu usai memastikan jika Afgari akan aman jika di tinggal sebentar.
Andovi terkejut melihat kehadiran Mikaya yang secara tiba-tiba berdiri di sampingnya.
"Afgari mana? Kamu tinggal lagi sendiri?" tanya pria itu menunjukkan kekhawatiran.
"Aman kok, mas. Aku udah taro guling sama bantal buat pembatas," jawab Mikaya dengan santai.
"Awas ya kalau Afgari sampai kenapa-kenapa lagi, kamu yang harus tanggung jawab."
"Aku senang kamu begitu perduli sama Afgari, mas," ucap Mikaya kemudian.
"Ya terus kamu pikir aku gak perduli apa? Afgari itu anak aku, darah aku mengalir di tubuhnya."
"Iya, mas. Aku senang kamu seperti ini. Aku harap kamu bisa mempertahankan sikap kamu yang sekarang sampai seterusnya."
Andovi diam, melirik wajah Mikaya yang tengah melempae senyum manis padanya. Penampilan Mikaya saat ini sama seperti ketika Mikaya belum melahirkan. Dia tampak cantik dan anggun juga elegan. Jika Mikaya tetap berpenampilan seperti ini, mungkin ia akan betah berada di rumah.
"Ok, tapi aku juga punya satu permintaan sama kamu," sahut pria itu.
"Apa, mas?" tanya Mikaya penasaran.
__ADS_1
"Aku lebih suka penampilan kamu yang seperti ini. Aku malas lihat penampilan kamu yang kalau di rumah cuma pakai daster. Aku juga mau kamu yang lemah lembut seperti sekarang, bukan Mikaya yang cerewetnya melebihi emak-emak yang darah tingginya lagi kumat."
Mikaya terkekeh kecil mendengar permintaan suaminya sampai Andovi langsung diam menatapnya. Mikaya pun menghentikan tawanya.
"Kenapa, mas?" Mikaya pikir dia salah karena tertawa barusan.
"Aku baru saja menemukan Mikayaku kembali," ucap Andovi.
Mikaya tidak paham akan maksud suaminya, tapi setelah ia pikir lagi, ternyata ia menyadari jika ia pun baru saja menemukan dirinya telah kembali.
Setelah sekian lama Mikaya kehilangan tawa bahkan senyumnya. Dan hari ini, senyum dan tawa itu telah kembali.
Pelupuk mata Mikaya mulai berkaca-kaca, mengingat sejauh ini ia telah kehilangan senyum dan dirinya sendiri. Selama ini hari-harinya di penuhi oleh tangis kepiluan.
Mikaya berusaha menahan air matanya agar tidak turun saat itu. Ia tatap wajah suaminya dengan jarak yang cukup dekat.
"Aku boleh peluk kamu, mas?" pinta Mikaya.
Andovi pun merentangkan tangannya dan Mikaya langsung menghambur ke dalam pelukan suaminya. Barulah air mata Mikaya turun terjun bebas di pipinya.
Mikaya mencium aroma tubuh Andovi dalam-dalam. Sudah begitu lama ia merindukan pelukan suaminya. Pelukan yang membuat dimana ia merasa nyaman, tenang dan damai. Pelukan itu baru bisa ia rasakan lagi sekarang.
Andovi pun tidak lupa mendaratkan ciuman singkat di puncak kepala istrinya. Sampai pelukan mereka berakhir karena mendengar suara tangis Afgari yang terbangun.
_Bersambung_
__ADS_1