Ketika Istri Tak Lagi Menarik

Ketika Istri Tak Lagi Menarik
Pusat Perhatian


__ADS_3

Selama mencari bahan masakan di super market, Mikaya menjadi pusat perhatian para pengunjung pria. Setiap kali berpapasan dengan seorang pria bahkan yang suami orang, perhatian mereka seolah tersita pada Mikaya. Hal itu membuat Andovi merasa heran sekaligus tidak suka istrinya menjadi pusat perhatian banyak orang. Bahkan ada beberapa orang yang langsung menyapa Mikaya dan Mikaya menanggapi mereka.


"Hai .." Sapa seseorang yang lewat berpapasan dengan seulas senyum manis.


"Gak usah caper, dia istri saya!" Andovi berusaha menegur orang yang baru saja menyapa Mikaya.


Pria itupun segera minta maaf lalu melipir pergi melanjutkan langkahnya. Wajah Andovi terlihat sangat kesal.


"Kamu kenapa, mas?" tanya Mikaya sembari melihat suaminya yang berdiri selangkah di belakangnya yang sedang menggendong Afgari, sementara Mikaya sendiri mendorong trolli belanjaan.


"Bisa gak sih kamu abaikan saja mereka."


Mikaya mengerutkan keningnya. Perasaan ia tidak membuat kesalahan, aka tetapi kenapa wajah suaminya terlihat sangat kesal.


"Maksud kamu?"


"Kamu sengaja kan, tebar pesona sama orang-orang itu?"


Mikaya semakin bingung, padahal ia hanya berusaha ramah pada setiap orang yang menyapanya.

__ADS_1


"Mas-"


"Besok-besok kalau ke sini lagi kamu gak usah ganti baju apalagi dandan. Pakai aja daster kebangsaan kamu itu."


Andovi memutar bola matanya malas, sejak kapan Mikaya menjadi pusat perhatian banyak pria seperti sekarang. Ya, ia akui istrinya memang cantik, tapi sebelumnya ia rasa tidak pernah seperti ini.


"Ya begitulah istri, mas. Di mata suami, istri itu sama sekali gak menarik. Tapi tanpa kamu sadari, istri kamu itu menarik perhatian banyak pria."


Andovi merasa tersindir oleh kata-kata Mikaya, ya memang benar, Mikaya memang tidak lagi menarik di matanya, tapi dia mampu menarik banyak perhatian para pria.


"Itu karena kamunya aja yang caper!"


Mikaya hanya bisa menghela napas. Entah ia harus bagaimana lagi supaya tidak salah di mata suaminya.


***


Pagi ini Andovi berangkat telat ke kantor lantaran tidak ada meeting ataupun sesuatu yang membuatnya harus terburu-buru datang. Selain itu, karena makasan Mikaya menu sarapan pagi ini yang membuat pria itu lebih lama duduk di kursi makan.


Sampai di kantor, ia bertemu dengan Mira dan wanita itu sangat wangi. Mira memakai parfum pemberian darinya.

__ADS_1


"Selamat pagi, pak," sapa wanita itu dengan seulas senyum di bibirnya.


"Iya, pagi. Kamu wangi sekali, pakai parfum yang kemarin?"


Mira mengangguk. "Iya, pak. Terima kasih sudah untuk parfumnya. Padahal ini wangi sekali, tapi kok bisa ya bu Mikaya gak suka sama wanginya."


"Iya, sama-sama. Gak tahu juga, mungkin itu memang bukan wangi yang Mikaya suka."


"Oh, begitu. Tapi pak Andovi suka kan wanginya?"


Andovi mengangguk. "Iya, suka."


Mira tidak menyangka jika ia akan mendapat parfum yang selama ini ia inginkan. Wangi parfum mahal yang sangat elegan.


Andovi sendiri tidak memberikan parfum itu secara langsung untuk Mira. Ia berpura-pura membelinya untuk Mikaya, lalu dia mengatakan jika Mikaya tidak suka bau parfum tersebut. Sehingga ada alasan untuk dirinya memberikan parfum itu pada Mira.


"Kalau begitu saya mau ke ruangan saya dulu, pak. Untuk berkas yang pak Andovi minta, tadi saya sudah letakan di atas meja kerja bapak. Maaf tadi saya lancang masuk ke ruangan bapak. Permisi."


"Iya."

__ADS_1


Meskipun Mira sudah pergi, akan tetapi wangi parfum itu masih tercium. Pantas saja harganya cukup fantastis dan cukup menguras isi rekening. Tapi bagi Andovi itu tidak sebanding dengan kerja keras Mira yang berhasil membuat klien mengurungkan niat untuk membatalkan kontrak kerja sama yang nantinya sangat menguntungkan.


_Bersambung_


__ADS_2