Ketika Istri Tak Lagi Menarik

Ketika Istri Tak Lagi Menarik
Memberi Penjelasan


__ADS_3

Usai mendapati kedatangan putrinya pulang ke rumah, tuan Garha jelas marah pada menantunya. Ia segera menghubungi Andovi dan memintanya untuk datang ke rumah guna meminta penjelasan apa yang terjadi sebenarnya. Sementara Mikaya kini sedang di kamar bersamanya mamanya.


"Apa yang membuat kamu memutuskan untuk pulang ke rumah, sayang? Apa Andovi menyakitimu?" tanya nyonya Alnes, mama dari Mikaya.


Mikaya terisak di dalam pelukan mamanya. Dia kelihatan bingung sekaligus malu untuk menceritakan masalah rumah tangganya.


Dulu, Mikaya berusaha meyakinkan kedua orang tuanya untuk menerima Andovi menjadi bagian dari keluarganya. Akan tetapi hari ini pria itu mengecewakannya.


"Sudah, tenangkan dirimu. Nanti kalau kamu sudah siap, kamu bisa cerita. Jangan terlalu di pikirkan jangan jangan khawatir, kamu bersama mama dan papa."


Mikaya melepaskan pelukannya kemudian mengangguk. Ia memang sedang butuh pelukan untuk masalah ini. Butuh seseorang yang menguatkan dirinya, yang meyakinkan dirinya jika semua akan baik-baik saja.


"Iya, ma."


Nyonya Alnes lekas membelai rambut putrinya, meninggalkan sebuah kecupan di kening Mikaya.


"Kamu istirahat aja, nanti kalau Afgari bangun, biar mama yang jaga Afgari."


Mikaya mengangguk lagi. Ia beruntung sekali memiliki orang tua yang perduli dan perhatian terhadap dirinya di saat seperti ini.


"Mama keluar dulu, ya," pamit wanita paruh baya itu di angguki oleh Mikaya.

__ADS_1


Nyonya Alnes pun beranjak pergi dari kamar Mikaya. Beliau berdiri di depan pintu kamar Mikaya setelah keluar, lalu tertegun sejenak.


Sejauh ini, Mikaya terlihat baik-baik saja. Ia tidak pernah melihat putrinya seterpuruk ini. Ia yakin jika Andovi pasti sudah melakukan kesalahan fatal sehingga Mikaya sampai nekad untuk pulang.


Mikaya terus memandangi wajah Afgari yang tengah tertidur pulas. Air matanya terus mengalir tanpa henti. Ia bingung harus bagaimana sekarang. Di satu sisi, ia sudah muak dengan sikap Andovi yang seolah mempermainkan perasaannya. Tapi di sisi lain ia juga memikirkan nasib putranya. Ia memiliki impian untuk keluarga kecilnya. Namun sayang jika semuanya harus berakhir.


Selalu saja anak yang menjadi pertimbangan untuk mempertahankan rumah tangga yang sebenarnya sudah tidak layak untuk di pertahankan.


***


Andovi kini sudah berhadapan dengan tuan Garha, mertuanya dan sekaligus merupakan papa Mikaya. Ketegangan mulai terjadi di antara mereka. Tuan Garha sudah tidak sabar mendengar penjelasan dari Andovi.


"Sebenarnya ini masalah yang seharusnya aku dan Mikaya bicarakan baik-baik, pa, ma."


Andovi berusaha untuk tetap tenang. Ia tidak ingin perasaan paniknya membuatnya di tuduh yang macam-macam.


"Memangnya apa masalahnya, Dovi?" tanya nyonya Alnes juga tidak sabar ingin tahu apa sebenarnya akar permasalahannya.


"Jadi begini ma, pa. Aku punya sekretaris di kantor, namanya Mira. Aku sama Mira cukup dekat dalam hal pekerjaan. Mikaya tidak suka aku dekat-dekat dengan sekretaris aku itu dan dia cemburu yang berlebihan, sampai menuduh aku yang tidak-tidak. Mikaya juga minta aku buat cari sekretaris baru, tapi aku gak bisa ma, pa. Tidak semudah itu mendapatkan seseorang yang mau bekerja keras dengan kinerja yang sangat bagus. Terlebih Mira ini berhasil membuat klien besar di perusahaan yang berencana membatalkan kontrak kerja sama mengurungkan niatnya," jelas Andovi.


Tuan Garha dan nyonya Alnes saling menatap satu sama lain. Mereka tidak bisa menghakimi secara sepihak, karena mereka juga harus mendengar langsung dari sudut pandang Mikaya.

__ADS_1


"Kamu yakin hanya itu?"


Andovi mengangguk meyakinkan. "Iya, pa. Mikaya tidak suka dengan Mira dan tidak suka jika aku dekat dengannya. Padahal aku sama Mira hanya dekat soal pekerjaan saja. Aku harap mama sama papa menasehati Mikaya agar bisa lebih dewasa, karena masalah seperti ini seharusnya cukup kami saja yang tahu. Aku tahu dia capek seharian menjaga Afgari yang kadang rewel, juga mengerjakan tugas rumah, tapi bukan berarti dia harus melampiaskannya sama aku, dengan cara mencari kesalahan aku."


Tuan Garha dan nyonya Alnes menerima penjelasan dari menantunya. Tapi mereka akan mengambil sikap setelah mendengar penjelasan dari Mikaya.


"Jika memang permasalahannya seperti itu, ya seharusnya kalian bisa bicarakan baik-baik berdua dan mencari solusi yang terbaik. Atau kamu juga harus mengambil resiko dengan mengganti sekretaris kamu itu demi keutuhan rumah tangga kalian."


Andovi mengangguk. "Iya, pa. Nanti kami pikirkan bagaimana baiknya."


"Iya."


"Kalau begitu aku boleh bawa Mikaya pulang?" pinta Andovi karena dia berpikir jika semuanya sudah clear.


"Oh, tentu," jawab tuan Garha menciptakan seulas senyum dari bibir Andovi, ia merasa sangat lega karena ternyata ini tidak seburuk yang ia kira.


"Tentu tidak bisa, karena kami pun harus mendengar penjelasan dari sudut pandang Mikaya," imbuh tuan Garha perlahan memudarkan senyum di bibir Andovi, dan jantungnya kembali berpacu lebih cepat.


"Tapi kan pa-"


"Mikaya belum bisa kamu bawa pulang sebelum dia memberi penjelasan. Justru kamu yang harus menginap di sini," timpal nyonya Alnes.

__ADS_1


Wajah Andovi kelihatan tegang dan panik. Ia takut jika Mikaya menceritakan secara pemikiran dirinya. Jika kejadian pagi itu di apartemen ia masih bisa menyangkal sebab ia tidak merasa, karena itu hanya pemikiran Mikaya saja. Tapi jika untuk hal tadi malam, ia bingung harus mengatakan apa. Mulai sekarang, ia harus menyusun kalimat agar bisa meyakinkan mereka jika ia tidaklah selingkuh dengan Mira.


_Bersambung_


__ADS_2