Ketika Istri Tak Lagi Menarik

Ketika Istri Tak Lagi Menarik
Berubah Perasaan


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, perasaan Andovi mulai berubah. Entah itu untuk Mikaya atau pun untuk Mira. Mikaya tidak lagi menarik di matanya, terbiasa dekat dan sering menghabiskan waktu di kantor berdua membuat pria itu kini timbul benih-benih suka pada sekretarisnya sendiri.


Setiap kali melihat wajah Mira, ia selalu terpesona oleh wanita itu. Mira memang tidak terbilang cantik, namun wanita itu memiliki ciri khas senyum yang manis. Dia memiliki pesona tersendiri yang mampu memikat lawan jenis.


"Pak Andovi," panggil Mira untuk kesian kali seraya membaikan tangannya di depan wajah pria itu untuk menyadarkannya dari lamunan sejak tadi.


Andovi mengerjapkan matanya dan tersadar jika ia tenggelam ke dalam pesona Mira sehingga tidak fokus saat meeting dengan klien siang ini. Pria itu tidak melepaskan pandangannya dari Mira yang sedang presentasi untuk kliennya.


"Iya, maaf, maaf. Saya sangat salut dengan presentasi kamu barusan," ucap pria itu.


"Jadi apa pak Andovi setuju mengenai kerja sama perusahaan dengan mereka?" tanya Mira kemudian dan klien sudah tidak sabar menunggu jawabannya.


Andovi mengangguk. "Iya, saya setuju."


Klien nya pun terlihat sangat bahagia, karena mereka sudah cocok dan ingin sekali berkeja sama dengan perusahaan ini.


Mereka saling berjabat tangan sebagai tanda deal untuk kerja sama. Lalu mereka menandatangani surat kontrak kerja sama yang tidak bisa di batalkan.

__ADS_1


Setelah meeting selesai, klien pun pergi. Kini hanya ada Andovi dan Mira saja berdua di ruangan meeting tersebut. Andovi sangat berterima kasih pada Mira karena wanita itu selalu berhasil membuat klien setuju untuk kerja sama dengan perusahaannya.


Sebagai bentuk rasa terima kasihnya, pria itu mengajak Mira pergi ke sebuah pusat berbelanjaan untuk membeli barang apapun yang wanita itu mau. Dengan alasan ingin mencari barang yang akan ia berikan untuk istrinya supaya Mira mau ikut dengannya.


"Memangnya bu Mikaya suka apa, pak?" tanya Mira saat mereka keluar dari lift di tempat pusat perbelanjaan.


"Mikaya itu orangnya random, dia gak bisa di tebak orangnya kalau soal barang. Pakaian suka, tas juga suka, aksesoris juga suka. Tapi biasanya kalau kamu sebagai perempuan, sukanya apa?" tanya Andovi sengaja memancing.


Mira terlihat berpikir sejenak. Soalnya ia juga sama, soal barang ia suka semua. Akan tetapi ada satu barang yang paling ia suka, ia suka mengoleksi tas, meskipun tidak semua koleksi tasnya branded.


"Kalau saya lebih suka tas, pak."


"Hehehe .. Iya."


"Tapi barang apa yang ingin kamu beli saat ini?"


"Selain tas, saya juga suka banget sama parfum. Ada satu parfum varian terbaru yang ingin sekali saya beli. Cuma harganya lumayan, dua kali lipat dari gaji saya, hehe .."

__ADS_1


"Pantesan kamu wangi, ternyata kamu suka banget pakai parfum mahal, ya."


"Enggak juga, pak. Ada juga kok yang murah tapi wanginya saya suka, saya pasti akan membelinya."


"Kalau begitu kamu mau parfum yang kayak gimana? Di sini kira-kira ada gak?"


"Kurang tahu, pak. Soalnya saya suka beli ke tempat parfum khusus langganan saya yang brand nya sudah cukup terkenal."


"Kalau begitu kita kesana sekarang."


"Hm?" Mira cukup terkejut mendengarnya.


"Maksudnya?"


"Saya akan belikan untuk kamu, sekalian untuk istri saya supaya dia tetap wangi juga kayak kamu. Gak bau asap dapur."


Mira terkekeh kecil. "Maklum aja, pak. Bu Mikaya kan ibu rumah tangga, mungkin saya juga akan seperti bu Mikaya kalau misalkan udah punya suami nanti. Begitupun sebaliknya, bu Mikaya bisa ebih dari saya sebelum beliau menikah apalagi sebelum punya anak kecil."

__ADS_1


Andovi tertegun sejenak mendengar kalimat Mira barusan. Benar, Mikaya memang sebelum mempunyai anak kecil selalu berpenampilan elegan dan juga wangi. Selain itu, Mikaya juga berubah cantik jika sudah dandan. Bahkan natural sekalipun. Hanya saja, entah kenapa di matanya Mikaya sudah tidak lagi menarik. Untuk saat ini, ia lebih tertarik terhadap Mira. Karena wanita itu yang kini selalu bisa mewarnai hari-harinya.


_Bersambung_


__ADS_2