
Usai kejadian malam itu, Mira tetap bekerja secara profesional sebagai seorang sekretaris. Namun dia tetap menjaga jarak dengan bosnya. Ada beberapa perubahan di antara mereka, Mira selalu merasa canggung saat berpapasan ataupun menemui bosnya di ruangan untuk memberikan berkas. Tidak hanya itu, ia juga berusaha menghindari kontak mata dengan pria itu. Mira juga sudah tidak mau lagi menerima ajakan makan siang bersama dengan embel-embel sebagai bentuk rasa terima kasih pria itu atas keberhasilannya.
Andovi merasa ada sesuatu yang hilang sejak Mira selalu menghindar darinya. Ia merasa seperti ada yang kurang. Mungkin karena dirinya yang terlalu ceroboh pada malam itu, sehingga ia tidak memikirkan ke depannya akan seperti apa.
Andovi meminta Mira untuk lembur hari ini, sengaja supaya ia bisa berlama-lama dengan wanita itu. Di tengah kesenyapan, ia memberanikan diri untuk membuka suara.
"Kamu masih marah ya sama aku?" tanya Andovi dengan sangat hati-hati.
Mira mengabaikan pertanyaan bos nya lantaran ia tidak ingin membahas soal itu.
"Aku minta maaf, ya. Aku benar-benar menyesal telah melakukannya," imbuhnya.
Mira masih diam terpaku pada layar laptop.
"Bagaimana kalau nanti kita makan malam bersama? Sebagai bentuk permintaan maaf saya terhadap kamu," tawar Andovi.
Mira menghela napas dan konsentrasinya mulai terganggu akibat pria itu.
__ADS_1
"Maaf, pak. Biarkan saya menyelesaikan ini dengan fokus. Sebab pertanyaan pak Andovi ini cukup mengganggu konsentrasi saya," pinta Mira masih berusaha sopan.
Mau tidak mau, Andovi menganggukan kepalanya menurut. Padahal ia ingin sekali mengobrol seperti sedia kala. Akan tetapi sekarang keadaannya sudah berbeda. Mira terlanjur kecewa terhadap dirinya.
Sudah hampir jam tujuh malam. Akan tetapi Mira dan Andovi masih berada di kantor. Andovi pergi sebentar dari ruangannya, dan kembali dengan membawa kantong plastik di tangannya.
"Untuk kamu," pria itu memberikan satu kantong plastik bening pada Mira.
Mira mendongakkan kepalanya, dia terlihat ragu untuk menerima pemberian dari bosnya. Andovi pun meletakkannya di atas meja, lalu menutup layar laptop Mira.
"Kamu pasti sangat lelah. Kita makan dulu saja bagaimana?"
"Makan dulu ya, kasian cacingnya sudah kelaparan."
Mira masih saja diam. Ia tidak tahu harus bersikap bagaimana.
"Terima kasih," ucap wanita itu kemudian.
__ADS_1
Mereka pun jadi makan malam bersama di ruangan kantor. Sebelumnya Andovi order makanan melalui aplikasi si ijo. Hanya butuh waktu sekitar setengah jam, makanan pun datang.
Usai makan, Mira melanjutkan kerjanya. Ia juga bingung kenapa pekerjaan sebanyak ini harus dia yang menyelesaikan. Padahal ada banyak staf dan ia rasa itu bukanlah pekerjaan yang harus ia kerjakan.
Lama kelamaan, Mira mulai mengantuk. Tapi tanggung sudah hampir selesai. Dia menguatkan diri untuk tidak sampai tertidur. Tapi rasa kantuknya sudah tidak bisa di lawan, sampai akhirnya ia tertidur dengan posisi menyandar di sandaran sofa ruangan tersebut.
Sementara Andovi sedang berada di dalam toilet, pria itu merasa sakit perut usai makan. Dan begitu kembali, ia mendapati Mira tengah tertidur pulas. Ia berjalan mendekat ke arah wanita itu.
"Mir .. Mira .." panggil Andovi namun Mira sudah berada di alam mimpi.
"Miraa .. Miraa .." Andovi memastikan jika wanita itu benar-benar tidur.
Panggilannya tidak mampu membangunkan wanita itu. Suasana malam ini cukup hening, apalagi mereka sedang berada di ruangan gedung perusahaan berdua.
Tangan Andovi perlahan mulai bergerak ke arah wajah Mira yang tertutup oleh rambut panjangnya. Dan menyingkap anak sulur rambut tersebut dengan sangat hati-hati agar tidak sampai terbangun. Andovi juga mengusap pipi Mira dengan lembut.
"Kamu manis banget sih, Mir," ucap Andovi di sertai dengan senyuman.
__ADS_1
_Bersambung_