
Mikaya dan Andovi menginap di rumah tuan Garha dan nyonya Alnes. Meski demikian, mereka tidak satu kamar. Mikaya tidak ingin tidur dalam satu kamar dengan suaminya. Itu menambah keyakinan kedua orang tuanya jika ada sesuatu yang fatal yang terjadi di rumah tangga putrinya.
Pagi-pagi sekali Andovi bangun, selain tidak enak karena ia nginap di rumah mertuanya, ia juga harus pulang untuk bersiap berangkat ke kantor. Namun, begitu ia keluar dari kamar, ia mendapati kedua mertuanya tengah berdiri di depan pintu kamar tersebut. Wajah keduanya tampak datar.
"Ma, pa," sapa Andovi dengan perasaan bingung kenapa mereka berdua berdiri di depan pintu kamar entah sejak kapan.
Tanpa aba-aba, tuan Garha melayangkan tangannya untuk menampar Andovi dan mendarat dengan mulus di pipi kiri pria itu.
Plakkk ..
Setelah tuan Garha, nyonya Alnes melayangkan tamparan di pipi kanannya tanpa ada jeda.
Plakkk ..
__ADS_1
Andovi mendapat dua tamparan sekaligus dari kedua mertuanya. Ia menatap mereka dengan seribu pertanyaan di wajahnya.
"Ma, pa, kenapa mama sama papa menamparku?" Andovi sama sekali tidak merasa bersalah di sana, dia kelihatan polos tanpa dosa.
"Kami sudah mendengar penjelasan dari sudut pandang Mikaya," sahut nyonya Alnes.
Kedua bola mata Andovi membulat lebar. Ia yakin jika Mikaya pasti menceritakan apa yang terjadi pada malam kemarin.
"Ma, pa, tolong dengarkan penjelasanku. Apa yang di katakan Mikaya itu tidak benar."
"Sekarang kamu lebih baik pergi, jangan pernah temui Mikaya untuk saat ini. Biarkan hati Mikaya tenang dulu sambil memikirkan jalan keluarnya. Kami akan menghargai apa saja keputusannya nanti, termasuk meminta pisah denganmu," tambah nyonya Alnes.
Andovi menelungkupkan tangannya di dada memohon agar Mikaya tidak sampai membuat keputusan itu.
__ADS_1
"Ma, pa, tolong dengarkan penjelasan aku. Aku bisa jelaskan yang sebenarnya. Mikaya termakan api cemburu, jadi dia tetap mengira kalau aku selingkuh."
"Nanti kita bicarakan lagi soal ini, sekarang lebih baik kamu pergi dari sana. Kami akan memintamu untuk datang lagi ke sini setelah Mikaya yang menginginkannya."
Tuan Garha dan nyonya Alnes beranjak pergi, keduanya mengabaikan panggilan Andovi yang ingin memberi penjelasan.
"Arghh .. Sial .. Aku gak selingkuh sama Mira, tapi aku harus kehilangan Mikaya."
Andovi tidak terima dengan keputusan ini, sungguh ia tidak selingkuh dengan Mira. Tapi karena ia menyebut nama Mira pada saat melakukan hubungan intim dengan Mikaya, Mikaya jadi mengira jika ia pernah melakukan hal itu dengan Mira.
Jika keputusan Mikaya nanti ingin berpisah dengannya terjadi, maka ia termasuk ke dalam golongan orang merugi. Ia tidak dapat Mira tapi harus kehilangan Mikaya. Oleh karena itu, daripada ia tidak dapat dua-duanya, maka ia akan membenarkan saja tuduhan Mikaya. Ia akan mengejar Mira supaya tidak tanggung jika ia di tuduh selingkuh. Daripada di tuduh sementara ia tidak dapat apa-apa.
Mikaya melihat suaminya pergi dari balkon atas kamarnya. Air matanya kembali mengalir dan masih tidak menyangka jika pernikahannya akan berakhir seperti ini.
__ADS_1
Ia tidak butuh apapun untuk saat ini, ia hanya butuh pengakuan dari pria itu saja jika dia benar-benar selingkuh. Tapi Andovi terus saja menyangkal dan itu yang membuat ia sangat muak.
_Bersambung_