
Andovi meraba ponselnya di nakas untuk melihat sudah jam berapa sekarang. Dan ternyata masih jam lima pagi. Masih ada waktu setengah jam lagi untuk tidur.
Namun, matanya langsung terbuka sempurna saat mendapati chat dari papa mertuanya yang tertera di layar ponsel.
Pria itu langsung bangun dan duduk untuk membuka isi chat tersebut.
Papa Garha:
Besok kamu datang ke sini, Mikaya ingin bertemu sama kamu.
Sudut bibir Andovi terangkat membentuk sebuah senyum kecil. Pesan tersebut di kirim oleh papa Garha tadi malam. Itu artinya Mira sudah berhasil meyakinkan mereka jika tidak ada perselingkuhan di antara dirinya dengan Mira. Dan itu artinya, hari ini ia harus datang ke sana.
Tanpa melanjutkan tidurnya lagi, ia segera bersiap-siap untuk datang ke rumah papa mertuanya untuk ikut sarapan bersama.
***
Andovi duduk di sofa ruang tamu rumah papa mertuanya. Ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Mikaya dan putranya. Ia duduk menunggu bersama papa mertuanya, sementara mama mertuanya sedang menjemput Mikaya ke kamar.
Tidak berapa lama, mama mertuanya datang bersama istrinya. Ia sudah tidak ingin memeluk wanita itu.
Senyumnya tiba-tiba hilang saat Mikaya melempar kantong plastik hitam berukuran besar ke arahnya. Ia refleks menangkap kantong plastik hitam tersebut.
"Sayang, apa ini?" tanya pria itu dan menatap ketiga orang di hadapannya dengan seribu pertanyaan di wajahnya.
"Buka saja," ujar tuan Garha.
__ADS_1
Andovi ragu untuk membukanya, tapi dia juga merasa penasaran apa yang ada di dalam kantong plastik hitam besar itu.
Andovi terbelalak melihat beberapa barang yang pernah ia berikan untuk Mira. Ada tas, sepatu, dress, bahkan parfum dengan harga fantastis itu ada di sana.
Andovi beralih menatap Mikaya.
"Apa ini maksudnya, sayang?" tanya pria itu seakan tidak merasa bersalah sedikitpun.
Mikaya tersenyum getir. "Seharusnya aku yang tanya sama kamu, apa itu maksudnya? Kamu menjual nama aku demi bisa memberi parfum itu untuk sekretaris kamu."
Mikaya tidak tahu lagi harus dengan cara ia menyikapi laki-laki seperti Andovi. Ia juga tak habis pikir dengannya.
"Aku benar-benar gak nyangka ya, mas. Kamu yang mati-matian mencari pembelaan atas diri kamu, ternyata kamu sendiri pelakunya."
"Maksud kamu apa, sayang?" Andovi bangkit dari duduknya untuk menghampiri Mikaya.
"Iya, mas. Kamu benar, kamu memang gak pernah selingkuh sama Mira. Karena perselingkuhan itu di dasari dengan hubungan atas keduanya. Tapi di sini, bukan Mira yang menjadi penyebabnya, tapi kamu sendiri, mas."
"Apa sih? Aku benar-benar gak ngerti."
Meski sudah demikian, Andovi tetap tidak mau mengaku dan dia terus saja menyangkal.
"Udah deh, mas. Aku capek, mas. Aku capek. Aku capek, mas. Mira udah cerita kok sama aku, kalau kamu sempat ingin melakukan sesuatu sama dia saat kalian ada pekerjaan di luar kota. Kamu memaksa Mira buat ciuman sama kamu kan walaupun Mira udah nolak?"
Degg ..
__ADS_1
Perasaan Andovi kini semakin tidak karuan. Apa yang ia minta pada Mira untuk tidak menceritakan bagian itu, Mira justru menceritakannya. Bahkan Mira sampai membawa dan mengembalikan barang pemberiannya pada Mikaya. Apa itu artinya Mira mengkhianati dirinya.
"Aku merasa bersalah selama ini karena aku pikir Mira yang memulai duluan. Tapi justru kamu yang terobsesi sama dia sampai kamu minum alkohol dan berhalusinasi jika kamu sedang berhubungan sama dia padahal kamu lagi berhubungan sama istri kamu sendiri. Tapi beruntungnya Mira mau untuk mundur dari perusahaan kamu karena dia mau menikah dengan tunangannya."
Fakta barusan cukup mengejutkan Andovi. Ia menggeleng kecil mendengar fakta yang baru saja ia dengar dari mulut Mikaya. Jadi selama ini Mira memiliki tunangan, dan itu sebabnya dia memiliki pendirian yang cukup kuat untuk menolak ajakannya.
"Dan sekarang, aku mau kamu ceraikan aku, mas. Aku udah terlalu lelah dengan semua ini," pinta Mikaya kemudian.
"Enggak! Enggak, Mikaya! Aku gak bakal ceraikan kamu, bagaimana nasib Afgari?"
"Gak udah sok perduli dengan Afgari, mas. Kamu dengar tangisan dia aja kamu gak suka, jadi gak usah sok peduli."
"Mikaya, tunggu! Aku-"
Langkah Andovi di cegah oleh tuan Garha ketika dia ingin menyusul Mikaya yang hendak kembali ke kamar bersama nyonya Alnes.
"Mikaya sudah membuat keputusan, jadi kamu harus terima apapun keputusannya," ucap tuan Garha tegas.
"Ini gak adil, pa. Mikaya udah tahu kan kalau aku gak selingkuh sama Mira, tapi kenapa dia tetap ingin berpisah sama aku?"
"Itu sudah menjadi keputusannya, jadi tolong hargai keputusan dia."
Andovi benar-benar tidak terima dengan keputusan Mikaya. Di tambah lagi Mira yang mengkhianati dirinya. Wanita itu bilang akan membantunya untuk masalah ini, tapi nyatanya Mira sendiri lah yang membuka kartu AS nya.
"Awas aja kamu, Mir." ucap Andovi dengan amarahnya yang masih berusaha ia tahan.
__ADS_1
_Bersambung_