
Mikaya mendapati putranya pulang ke rumah dengan wajah yang tak biasa.
"Afgari, kamu kenapa, nak?"
Pertanyaan ibunya menyadarkan Afgari yang tengah melamun ketika sedang berjalan masuk ke dalam rumah. Dia menghentikan langkahnya dua meter dari ambang pintu.
"Aku baik-baik saja, ma," jawab pria itu seraya memasang seulas senyum untuk meyakinkan jika dia baik-baik saja.
Mikaya bangkit dari duduknya dan menaruh majalah yang sebelumnya ia baca di atas meja. Ia berjalan menghampiri putranya.
"Apa ada masalah di kampus?"
Padahal Afgari sudah berusaha menyakinkan ibunya jika dia baik-baik saja. Tapi ibunya masih bisa melihat ekspresi asli di wajahnya.
"Jangan sembunyikan apapun dari mama, ada baiknya kamu cerita kalau lagi ada masalah. Mama benci seseorang yang menutupi sesuatu dari mama, kamu tahu itu kan?"
Afgari mengangguk. Mungkin memang tidak ada salahnya ia cerita tentang kejadian hari ini pada ibunya.
__ADS_1
Afgari melihat ke belakang ibunya untuk memastikan tidak ada orang lain di sana.
"Ayah kamu belum pulang. Tenang aja," ucap Mikaya seolah paham apa yang ada di dalam pikiran Afgari saat ini.
Ayah yang Mikaya maksud adalah suami barunya. Mereka sudah menikah sejak tiga belas tahun lalu. Tapi sayangnya pernikahan mereka tidak di karuniai seorang anak, lantaran suami baru Mikaya memang memiliki masalah tentang kesuburan. Oleh karena itu, ayah sambung Afgari begitu meyanyangi dirinya. Sebelum menikah dengan Mikaya, suaminya pernah menikah namun sayang hubungannya tidak lama karena masalah kesuburan tersebut.
Mikaya membawa Afgari untuk duduk di sofa ruang tamu yang tidak jauh dari tempat berdirinya saat ini. Ia sudah tidak sabar mendengar apa yang sebenarnya sudah terjadi pada Afgari.
Afgari terdiam sejenak sembari memikirkan bagaimana untuk memulai pembicaraan ini. Setelah memantapkan diri, ia pun mulai menceritakannya.
"Maksudnya?"
"Aku udah ketemu manusia biaddabb itu."
Spontan napas Mikaya seketika berhenti. Ia sekarang paham siapa orang yang di maksud oleh Afgari dengan julukan yang selalu Afgari gunakan untuk mancap pria itu.
"Bagaimana kamu bisa mengenalinya? Dan apa dia juga bisa mengenali kamu?"
__ADS_1
Afgari menggeleng. "Enggak, dia enggak bisa mengenali aku karena dia memang tidak pernah mencoba mengenal aku sejak masih bayi kan?"
Mikaya hanya diam. Ia memang sedikit cerita bagaimana sikap Andovi pada Afgari saat Afgari masih bayi. Bahkan untuk mendengar suara tangisannya saja Andovi seringkali marah.
"Aku gak sengaja lihat dia lagi duduk di bangku pinggir jalan, ma. Wajahnya gak asing dan benar-benar mirip seperti di foto yang pernah aku lihat meskipun ada sedikit perubahan karena usia. Aku di sana mencoba meluapkan apa yang selama ini ada di kepala aku, ma."
"Kamu pukulin dia? Seberapa parah?"
Afgari menggeleng. "Enggak sampai pukulin, ma. Aku juga tahu batasan. Aku cuma ngeluarin unek-unek aku, itu aja."
Mikaya menghela napas lega. Beruntung ia sudah memberi bekal pengertian pada Afgari, bagaimanapun pria itu tetap saja ayah kandungnya. Ia hanya sakit hati, namun tidak dengan menaruh dendam apalagi sampai membenci.
"Sekarang kamu udah tahu gimana bentuk papa kandung kamu. Terus sekarang kamu mau bagaimana?"
Afgari menoleh dan menatap wajah ibunya lekat-lekat. Ia paham betul apa maksud dari pertanyaan ibunya.
_Bersambung_
__ADS_1