Ketika Istri Tak Lagi Menarik

Ketika Istri Tak Lagi Menarik
Silaturahmi


__ADS_3

Satu minggu berikutnya. Agar berhasil menemukan gadis yang ia kira itu adalah putri dan korban ayahnya dulu. Dan begitu ia tanya-tanya secara perlahan, perkiraannya ternyata benar. Gadis yang bernama Mila itu anak Mira.


Afgari meminta alamat tempat tinggalnya, Namun Mila tidak memberinya dengan mudah. Afgari diperbolehkan untuk bertamu ke rumahnya, asal dia harus ikut melalui dengannya. Tidak dengan memberikan alamat rumah.


Usai menyepakati hal tersebut, Afgari pun berbicara dengan ibunya. Mikaya tidak masalah untuk itu. Tidak apa-apa harus ikut melalui Mila, yang penting tujuannya sama, yaitu bertamu ke rumah tujuan.


Kini Afgari, Mikaya, dan Mila berada di dalam satu mobil yang sama. Tujuan mereka ke rumah Mila. Mikaya mengajak Mila untuk ngobrol sedikit, namun Mila tidak begitu suka di ajak bicara. Dia terlalu tertutup orangnya. Mungkin karena dia terlalu banyak mendengar omongan orang di luar, sehingga membentuk kepribadiannya lebih tertutup dari orang-orang.


Sebelumnya Afgari juga berjanji akan membantu Mila untuk daftar menjadi mahasiswi di kampusnya. Itulah sebabnya kenapa Mila mau mengaku bahwa dirinya putri dari ibunya yang bernama Mira.


Tiga puluh menit setelah perjalanan yang agak macet, mereka sampai di rumah tujuan. Afgari memarkirkan mobilnya di pelataran rumah yang tidak begitu luas.


Mila pamit lebih dulu untuk memanggil kedua orang tuanya yang kebetulan sedang ada di rumah usai mempersilahkan Afgari dan ibunya masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Tidak berapa lama, seorang wanita dan pria datang.


Mikaya dan Afgari langsung bangkit berdiri melihat tuan rumah datang.


"Selamat datang di rumah kami, bu Mikaya," ucap Mira begitu dia sudah menghentikan langkah tidak jauh dari Mikaya.


Mikaya sontak menghambur memeluk Mira. Ia menumpahkan tangisnya di dalam pelukan wanita yang pernah ia anggap sebagai penyebab keretakan rumah tangganya.


Mira hanya bisa tersenyum. Dia tahu kenapa Mikaya bisa seperti ini.


"Senang bisa bertemu lagi denganmu," ucap Mikaya usai melepaskan pelukannya.


"Iya, aku juga," balas Mira.

__ADS_1


Pandangan wanita itu beralih pada pria muda yang berdiri di depannya.


"Kamu pasti Afgari, ya?" tebak Mira.


Afgari lekas menjabat tangan Mira kemudian mengangguk membenarkan.


"Iya, tante. Aku Afgari."


"Kamu tumbuh menjadi pria tampan. Dulu tante pernah gendong kamu pas kamu masih bayi usia lima bulan, waktu itu kami masih lucu-lucunya."


"Makasih, tante," ucap Afgari.


"Oh iya, silahkan duduk kembali."


"Terima kasih."


Mikaya memutuskan untuk bertanya-tanya soal kondisi Mira pada suaminya saja. Ia khawatir jika bertanya langsung pada Mira itu akan membuat luka lama Mira terbuka.


"Oh iya, mas. Saya boleh tanya sesuatu?"


Pria itu mengangguk. "Iya, tentu saja," jawab nya antusias dan ramah.


"Saya sebelumnya minta maaf dan turut prihatin atas kejadian di masalalu yang menimpa Mira hingga menyebabkan Mkra trauma bahkan sempat sampai depresi. Saya pun tidak menyangka jika hal itu bisa terjadi pada Mira."


"Iya, tidak apa-apa. Yang terpenting saat ini Mira sudah sembuh dan pulih. Tapi saya mohon pada anda untuk tidak membahas masalah ini lagi di depan Mira, karena ini cukup sensitif juga baginya. Apalagi Mila anak kami juga terkena imbasnya atas kejadian di masalalu."

__ADS_1


"Iya, mas. Saya tidak akan membahas di depan Mira. Oleh karena itu saya bertanya pada anda."


"Terima kasih atas pengertiannya."


"Sama-sama. Mmm .. Maaf kalau boleh tahu, memangnya separah apa yang di dapatkan oleh Mila atas kejadian buruk yang menimpa ibunya di masalalu?"


"Yang pasti Mila selalu jadi bahan cibiran teman-temannya dan kakak kelas di sekolahnya. Selain itu, mereka juga menganggap kalau Mila adalah anak hasil dari kejadian waktu itu. Padahal Mila lahir dua tahun lebih setelah kejadian," jelas suami Mira.


"Oh, kasihan sekali Mila. Dia tidak tahu apapun masalah ini, tapi dia harus ikut menanggung akibatnya."


"Iya."


"Kondisi mental Mila gimana, om? Apa dia baik-baik saja?" Afgari ikut menimpali setelah sekian lama hanya diam.


"Sempat down, saat dia masih SMP. Tapi dia sekarang sudah tidak begitu memperdulikan apa kata orang-orang. Mila ini sebenarnya pribadi anak yang terkesan ceria, tapi setelah dia mengerti apa yang di lontarkan orang-orang terhadap dirinya, dia cenderung jadi anak yang pendiam."


Afgari mengangguk-anggukan kepalanya.


"Tega sekali orang-orang itu."


"Iya, itulah manusia. Selalu mencibir kesalahan orang lain tanpa ingin tahu bagaimana letak kebenarannya."


"Berapa lama Mira trauma, mas?" tanya Mikaya lagi.


"Yang paling berat itu sekitar tiga sampai empat bulanan. Menuju ke enam bulan, dia sudah mulai pulih. Tiga bulan berikutnya, kami melangsungkan pernikahan. Dan di usia pernikahan kami menginjak satu tahun, Mira baru hamil. Jadi pemikiran orang-orang kalau Mila itu anak pria gila itu jelas sekali salah besar."

__ADS_1


Akhirnya Mikaya menemukan jawaban yang sebenarnya langsung dari mulut suami Mira. Sebab memang tidak masuk di akal jika Mila ini anak Andovi. Sebab usia Afgari dan Mila cukup jauh jika dihitung dari waktu kejadian.


_Bersambung_


__ADS_2