Ketika Istri Tak Lagi Menarik

Ketika Istri Tak Lagi Menarik
Terbakar Api Cemburu


__ADS_3

Selama makan siang berlangsung, Mikaya hanya diam mendengarkan obrolan antara suami dengan sekretarisnya. Suaminya tak henti-hentinya memuji Mira di hadapannya.


Mikaya tidak pernah melihat suaminya bisa sebahagia sekarang. Biar kebahagiaan yang terus terpancar di wajahnya membuatnya iri lantaran suaminya bukan bahagia karenanya, melainkan karena wanita lain.


Akhirnya Mikaya memutuskan untuk izin ke toilet sebentar, dan menitipkan Afgari sebentar pada suaminya.


Mikaya berdiri di depan wastafel toilet restoran tersebut. Menatap pantulan dirinya di cermin dengan mata yang sudah mulai berkaca-kaca. Rasanya ia belum berhasil menjadi seorang istri yang mampu membahagiakan suaminya. Suaminya justru di buat bahagia oleh wanita lain.


"Aku takut karena ini mas Andovi jadi merasa sangat berhutang budi pada Mira."


Sebenarnya bukan itu saja yang Mikaya takutkan, melainkan kedekatan suaminya dengan wanita itu di luar pekerjaan.


Mikaya menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya secara perlahan. Ia berusaha menepis pemikiran itu dan berharap ini hanya ketakutannya yang tidak akan pernah terjadi.


Sementara di meja, Afgari terus melempar senyum ketika Mira mengajaknya bermain cilukba. Andovi merasa jika putranya senang bisa bertemu dengan Mira yang memiliki positive vibes.


"Ciluuuukkk .." Mira menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya, kemudian ia buka dengan sedikit mengejutkan bocah kecil itu. "Baaaa .."


"Eheee ehee ehee .." Afagri tertawa dengan mengeluarkan suara yang cukup menggemaskan.


Sejatinya Mira memang menyukai anak kecil, jadi ia sangat antusias ketika bertemu dengan Afgari yang merupakan putra bosnya.


"Gemes sekali sih kamu, nak," ujar Mira serasa ingin mencubit pipi Afgari yang gemoy.

__ADS_1


Andovi pun ikut senang melihatnya. Afgari tidak takut bertemu dengan orang baru, dia justru kelihatannya happy.


"Boleh saya gendong sebentar, pak." Mira meminta izin.


"Iya, boleh."


Mira pun bangun dari tempat duduknya dan berjalan ke arah kursi Andovi. Wanita itu merentangkan kedua tangannya bersiap untuk menggendong Afgari. Tidak menyangka, Afgari sangat senang ketika Mira ingin menggendongnya.


"Ayo gendong sama tante," bujuk Mira dan Afgari dengan cepat meraih tangannya.


Mira pun membawa Afgari ke dalam gendongannya, mencium lembut pipi bocah itu dengan sedikit gemas.


"Afgari seneng banget deh kayaknya ketemu sama kamu, dia dari tadi kelihatannya happy terus. Padahal di rumah Mikaya bilang dia rewel dan nangis terus," ujar Andovi.


"Iya."


"Maca cih anak gemoy rewel terus, hm? Jangan rewel ya sayang, kasihan mama," kata Mira dengan mengubah bahasanya seperti anak kecil.


Andovi senang melihat putranya tersenyum dan merasa happy seperti sekarang. Rasa nya meneduhkan. Tak ingin berdiam diri, ia pun ikut mengajak putranya yang berada di gendongan Mira untuk bermain. Mengubah cara bicaranya seperti anak kecil juga.


Dari kejauhan, Mikaya berjalan kembali dari toilet. Tiba-tiba saja ia melihat suami dan anaknya tengah tertawa bersama Mira. Ia semakin terbakar api cemburu. Ia tidak suka melihat Afgari terlihat happy bersama Mira.


Mikaya mempercepat langkahnya dan saat ia sampai di meja, ia langsung mengambil alih Afgari dari Mira tanpa aba-aba.

__ADS_1


"Afgari sayang, tadi kamu jadi gak pup ya?" ujar Mikaya dengan sengaja dan ingin melihat reaksi Mira.


Mira yang kaget karena Afgari di ambil alih begitu saja oleh Mikaya yang baru saja kembali dari toilet reflek mencium tangannya mendengar ucapan Mikaya.


"Afgari pup kok kamu gak bilang-bilang?" Andovi menegur istrinya di hadapan Mira.


"Enggak, mas. Tadi Afgari kelihatannya mau pup tapi kayaknya gak jadi. Makanya aku ingin memastikan apa Afgari jadi pup atau enggak," jawab Mikaya.


"Kalau begitu kamu bawa Afgari ke toilet aja dulu buat mastiin pup atau enggaknya."


"Kayaknya enggak jadi deh, mas. Soalnya kalau pup biasanya suka tercium."


Mikaya lekas duduk kembali, ia harap suaminya tidak membahas soal barusan lebih panjang lagi. Sementara Andovi merasa tidak enak pada Mira atas ucapan istrinya barusan.


"Maafin istriku, ya," ucap Andovi kemudian.


Mira mengangguk. "Iya, pak. Gak apa-apa."


Mikaya semakin tidak suka dengan sikap suaminya terhadap Mira. Ia jadi ingin cepat pulang daripada harus berlama-lama di sana.


Mira menatap wajah Mikaya, ia bisa melihat jika istri bosnya itu kurang suka terhadap dirinya. Entah salah apa dirinya sehingga istri bosnya bersikap demikian padanya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2