
Mira terkejut melihat bosnya tiba-tiba sudah berdiri di ruangannya ketika ia membalikan badan usai merapikan meja. Sebelumnya ia tidak mendengar suara derap langkah yang masuk ke dalam ruangannya.
"Pak Andovi," ucap Mira spontan.
Andovi menatap Mira dengan wajah datar. Wanita itu di buat takut olehnya.
Kini Andovi dan Mira berada di sebuah cafe yang tidak jauh dari gedung perusahaan. Andovi memohon pada Mira untuk ikut dengannya karena ada yang ingin ia bicarakan dan itu sangat penting. Ini semua menyangkut tentang keluarganya.
Wajah keduanya tampak serius sekali.
"Kamu gak mau kan kalau misalkan kamu di tuduh sebagai penyebab retaknya rumah tangga aku?"
Mira mengangguk. Lagipula atas dasar apa ia tuduh sebagai penyebab retaknya rumah tangga bosnya.
"Jadi itu artinya kamu mau bantu aku demi keutuhan rumah tanggaku dengan Mikaya?"
Kening Mira seketika berkerut. "Maksudnya bagaimana, pak?"
Andovi terdengar menghela napas sebelum kemudian menjelaskan apa yang harus di lakukan oleh Mira.
__ADS_1
"Kamu harus jelaskan sama Mikaya dan orang tuanya kalau di antara kita tidak ada hubungan apapun apalagi selingkuh. Sebab Mikaya kemarin pulang ke rumah orang tuanya dan mengadu kalau aku selingkuh sama kamu."
Ternyata berat juga masalahnya. Lagi-lagi Mira harus ikut menjelaskan soal itu.
"Nanti kamu bisa datang langsung ke rumah orang tuanya Mikaya, aku share lokasinya ke kamu. Kamu ceritakan saja apa adanya, tapi kamu jangan pernah ceritakan bagian yang aku minta agar kamu melupakan kejadian malam itu. Bisa?"
Mira terdiam sejenak. Entah kenapa ia jadi terbawa dan terseret ke dalam urusan rumah tangga bosnya sampai sejauh ini. Lama kelamaan ia juga jadi muak jika terus menerus di tuduh sebagai selingkuhan.
Mira mengangguk setuju. Ia harap ini yang terakhir kalinya ia terseret ke dalam masalah rumah tangga bosnya.
Andovi menghela napas lega karena Mira sudah bisa di ajak kerja sama. Berharap orang tua Mikaya percaya dengan Mira dan masalah ini selesai.
Di tempat kediaman tuan Garha. Mereka tengah makan malam bersama. Akan tetapi Mikaya terlihat terburu-buru sebab takut Afgari terbangun dan nangis minta susu.
"Pelan-pelan makannya, nanti tersedak," ucap nyonya Alnes mengingatkan.
"Iya, ma," jawab Mikaya namun ia masih saja terburu-buru.
Tidak sampai lima menit, Mikaya sudah selesai makan dan pamit duluan ke kamar. Kini hanya ada tuan Garha saja dengan istrinya di meja makan.
__ADS_1
Seorang asisten rumah datang ke arah mereka dan memberi tahu jika ada tamu yang datang. Mereka bertanya-tanya siapa orang yang bertamu malam-malam ke rumahnya. Nyonya Alnes menyudahi makan nya lalu pergi menemui tamu yang di maksud.
Tamu yang sudah di persilahkan masuk dan duduk di sofa ruang tamu kini bangkit berdiri ketika melihat tuan rumah datang. Dia mengulas senyum dan di balas ramah oleh nyonya Alnes.
"Silahkan duduk," nyonya Alnes mempersilahkan orang itu untuk duduk kembali.
"Maaf, kamu siapa ya?" tanya nyonya Alnes mengawali pembicaraan.
Orang itu lekas memperkenalkan dirinya.
"Saya Mira, bu. Sekretarisnya pak Andovi."
Nyonya Alnes langsung memandangi Mira dari atas sampai bawah. Dari wajahnya, dia kelihatan wanita baik-baik. Lantas kenapa dia mau selingkuh dengan Andovi yang jelas-jelas statusnya suami orang.
Nyonya Alnes menunggu suaminya sampai selesai makan untuk mendengar apa yang akan wanita itu sampaikan. Sebelumnya ia sudah menemui putrinya untuk memberi tahu jika ada sekretaris suaminya datang untuk menyampaikan sesuatu, beruntung Mikaya mau menemui Mira.
Kini Mikaya, tuan Garha dan nyonya Alnes sudah duduk bergabung. Mereka sudah tidak sabar ingin mendengar apa yang akan di sampaikan oleh Mira.
_Bersambung_
__ADS_1