Ketika Istri Tak Lagi Menarik

Ketika Istri Tak Lagi Menarik
Nginap


__ADS_3

Malam ini Andovi memutuskan untuk nginap di apartemen yang sama lagi dengan Mira. Kebetulan memang sedang ada sedikit pekerjaan yang harus di selesaikan malam ini. Sebelumnya Andovi sudah memberi kabar pada istrinya, akan tetapi chatnya belum di baca.


Secangkir kopi sudah hampir tandas, Andovi sudah satu jam duduk bersebelahan dengan Mira. Ia mengerjakan perkerjaan di unit kamar wanita itu.


"Saya rasa untuk klien yang ini kita bisa atur jadwal meetingnya minggu depan saja, pak."


Mira mencoba memberi saran.


"Iya, kamu aja yang atur jadwal pertemuannya. Nanti kamu tinggal kabari aku aja kapan kita ketemuan sama klien kita yang baru."


"Baik, pak."


Karena sudah selesai, Andovi pun menutup layar laptopnya. Namun, ia enggan untuk pergi dulu dari sana. Sebab ia butuh Mira untuk menjadi pendengar lagi.


"Ada yang mau pak Andovi sampaikan lagi, pak? Atau urusan yang lain?" tanya wanita itu seolah tahu apa yang saat ini ada di dalam pikiran Andovi.


Ini yang Andovi suka dari Mira, wanita itu selalu tahu jika dirinya tengah ada masalah dan ada yang mau ia ceritakan.


Andovi menganggukan kepalanya. Membenarkan tebakan wanita itu.


"Kenapa lagi, pak? Bapak bermasalah lagi sama istri bapak?"


Andovi menghembuskan napas pelan. Jujur saja ia tidak enak untuk mengatakan hal ini.

__ADS_1


"Aku harap kamu tidak merasa bersalah setelah aku mengatakan permasalahannya."


Kening Mira berkerut. Ia tidak begitu paham akan maksud bosnya.


"Memangnya kenapa, pak?" tanya wanita itu penasaran.


Andovi pun langsung saja menceritakannya.


"Istriku cemburu sama kamu."


Mira terkekeh kecil mendengarnya.


"Bu Mikaya cemburu sama saya?" tanya Mira seraya menunjuk dirinya dan di angguki oleh Andovi. "Kok bisa sih, pak?"


Mira mengangguk membenarkan. "Iya, pak. Saya rasa bu Mikaya yang terlalu berlebihan dalam berpikir jika kita mempunyai hubungan di luar daripada pekerjaan kita."


"Iya, aku sudah coba untuk jelaskan sama dia. Tapi Mikaya tidak suka dengan kedekatan kita yang hanya sebatas bos dan sekretaris."


Mira mengangguk-anggukan kepalanya. Ia pun heran kenapa istri bosnya bisa cemburu padanya, padahal ia sama sekali tidak ada hubungan apapun dengan bosnya.


"Aku harap kamu tidak jadi merasa bersalah atas ini, Mira. Karena ini hanya kesalah pahaman saja."


"Iya, pak. Tapi jika istri pak Andovi memang tidak menyukai saya dan ini justru akan membuat hubungan rumah tangga bapak dan bu Mikaya renggang, maka saya siap mengundurkan diri dari perusahaan."

__ADS_1


"Jangan!" sergah Andovi seraya memegang lengan wanita itu.


Dan begitu Andovi sadar akan tangannya yang tidak sengaja memegang lengan Mira, ia segera melepaskannya.


"Maaf," ucap pria itu kemudian.


"Iya, tidak apa-apa," sahut Mira.


Kini ada sedikit kecanggungan di antara keduanya.


"Aku harap kamu tidak benar-benar serius akan ucapanmu barusan. Aku akan melakukan apapun agar kamu tidak berhenti menjadi sekretaris aku, Mira."


Andovi menatap wanita itu dengan tatapan mengiba, agar Mira tidak pernah melakukan apa yang baru saja dia ucapkan.


"Aku hanya tidak ingin menjadi penyebab keretakan rumah tangga bapak dengan bu Mikaya," ucap wanita itu.


Andovi menggeleng. "Enggak, kamu sama sekali gak ada hubungannya soal ini. Mikaya yang terlalu berlebihan. Aku akan berusaha memberi pengertian terhadap dirinya. Aku mohon jangan pernah memiliki pikiran untuk berhenti menjadi sekretaris aku."


Mira terdiam sejenak, sebelum kemudian ia menganggukan kepalanya. "Baik."


Seulas senyum pun terbit dari kedua sudut bibir Andovi. Ia senang jika Mira akan tetap menjadi sekretarisnya. Beruntung ia masih sadar, jika tidak, mungkin ia sudah membawa Mira ke dalam pelukannya saking senangnya. Dan sudah bisa di pastikan, jika kerja samanya dengan klien penting itu berjalan dengan lancar, maka ia akan mendapat keuntungan yang akan menjadi sejarah dalam perusahaannya.


_Bersambung_

__ADS_1


__ADS_2