Ketika Istri Tak Lagi Menarik

Ketika Istri Tak Lagi Menarik
Adu Mulut


__ADS_3

Sejak pergi usai dari klinik kemarin, Andovi tidak pulang ke rumah. Mikaya berusaha menghubungi pria itu untuk menanyakan keberadaannya dimana. Akan tetapi hp Andovi justru sulit untuk di hubungi.


Semalaman Mikaya tidak tidur. Karena Afgari terus menangis. Mungkin efek luka di bagian kepala yang membuat bayi berusia lima bulan itu menjadi rewel. Badannya pun sedikit demam. Jadi Mikaya harus lebih sabar. Ia sengaja tidak ikut tidur ketika Afgari tidur, ia masih trauma dengan kejadian siang.


Pagi ini, Mikaya mengerjakan tugas rumah sambil menggendong bayinya. Sesekali ia menaruh Afgari di atas roda stroller jika sudah merasa lelah. Lalu menggendongnya lagi jika dia menangis.


Sampai tengah hari, Andovi belum juga pulang dan tidak kunjung memberinya kabar. Mikaya jadi khawatir. Ia kepikiran semalam Andovi tidur dimana dan dengan siapa. Ia jadi takut, seseorang telah membuat suaminya berubah tidak perduli lagi pada keluarganya.


Jam sembilan malam, pada saat Afgari baru saja tidur dan ia juga hendak ikut tidur karena tidak kuat mengantuk, ia mendengar suara pintu kamar di buka oleh seseorang yang ternyata itu Andovi.


Mikaya mengurungkan niatnya untuk tidur.


"Kamu kenapa baru pulang, mas? Kamu dari mana? Kamu semalam tidur dimana? Sama siapa? Kenapa kamu gak pulang?"


Sederet pernyataan yang sudah bisa di pastikan oleh Andovi jitu semua itu akan keluar dari mulut Mikaya. Namun, ia tidak terlalu ambil pusing. Ia lebih memilih untuk menghiraukan pertanyaan itu.


Mikaya berusaha sabar. Akan tetapi ia harus tahu kemana perginya Andovi semalam.

__ADS_1


Mikaya turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Andovi yang duduk di sofa. Belum sampai ke sofa, ia sudah mencium bau alkohol yang menyengat berasal dari pria itu. Mikaya kian khawatir.


"Mas! Jawab aku, mas! Semalam kamu dari mana? Kamu ngapain aja?"


"Apa sih? Bawel amat jadi orang!" sahut pria itu dengan ketus.


"Aku istri kamu, mas. Aku berhak tahu kamu pergi kemana? Sama siapa? Kamu sampai gak pulang padahal anak kita lagi sakit."


"Afgari sakit karena kamu, karena ibunya!"


"Setidaknya kamu sebagai ayahnya ada di samping anak kamu, mas. Sebagai suami juga kamu seharusnya ada di sisi aku, menguatkan aku. Semalam aku gak tidur sampai sekarang cuma buat jagain Afgari, mas. Afgari itu bukan cuma anak aku aja, dia anak kamu juga!"


"Seharusnya kamu malu, Mikaya! Banyak di luaran sana perempuan yang gak punya suami dan punya anak lebih dari satu. Tapi mereka sebagai ibu tulus mengurus anaknya, menjaga anaknya dari bahaya yang mengancam. Kamu? Ngurus anak sendiri aja kayak gak ikhlas, perhitungan. Bahkan kamu yang membuat bahaya sendiri buat anak kamu!"


Plaakk ..


Sebuah tamparan mendarat mulus di pipi Andovi, Mikaya benar-benar tidak menyangka jika Andovi bisa berkata lebih dari yang ia pikirkan.

__ADS_1


Andovi pun melayangkan pukulan pada Mikaya, akan tetapi hanya sampai melayang di udara.


"Kenapa berhenti, mas? Kalau kamu emang udah benar-benar lagi gak perduli dan sayang sama aku, harusnya udah kamu lakukan. Ayo pukul aku, mas! Pukul aja!"


Andovi mengepalkan tangannya, lalu menghempaskan tangannya. Ia lebih memilih untuk pergi ke kamar mandi untuk membersihkan badannya dari sisa semalam.


Sementara Mikaya kembali ke atas tempat tidur. Napasnya terdengar memburu. Belum genap dua tahun, akan tetapi rumah tangga mereka sudah di ambang kehancuran.


Mikaya tidak bisa menjamin jika ia mampu bertahan dengan hubungan ini. Ia tidak tahu apa yang dia lakukan.


Baru akan tidur, Mikaya mendengar Afgari terbangun dan menangis. Akhirnya ia tidak jadi tidur. Padahal rasa ngantuk sudah melanda.


Mikaya membuat susu yang baru, karena yang tadi sudah basi meskipun masih tersisa setengah. Ia mulai menyusui Afgari lagi dengan botol susu, berharap bayi itu terlelap kembali.


"Tidur ya, sayang. Tidur yang nyenyak. Jangan rewel ya, nak. Ibu sayang Afgari."


Kalimat Mikaya barusan terdengar oleh Andovi hingga kamar mandi. Meskipun suara Mikaya lirih, namun mampu terdengar jelas lantaran suasana hening.

__ADS_1


Andovi menyalakan shower, dan membasuh badannya di bawah air shower yang mengalir.


_Bersambung_


__ADS_2