
Pagi-pagi sekali, Andovi mendapati Mikaya tengah berkemas dengan memasukan banyak pakaian ke dalam koper. Bahkan pakaian Afgari pun banyak di bawa.
Dia terheran-heran kenapa Mikaya berkemas seperti ingin pergi dari rumahnya.
"Kamu mau kemana?" tanya pria itu tanpa merasa bersalah sedikitpun.
"Kamu pikir sendiri aja, mas," jawab Mikaya ketus.
"Apa sih? Ini kamu masukin baju kamu sama baju Afgari ke koper, emang kamu mau kemana, hah?"
Mikaya menghentikan aktivitasnya. Ia tatap suaminya dengan tatapan tajam.
"Aku udah gak kuat lagi, mas. Selama ini aku berusaha mengerti situasi ini. Aku berusaha meyakinkan diri jika antara kamu sama Mira itu hanya sekedar hubungan bos sama sekretarisnya aja, sama kayak kamu yang berusaha meyakinkan aku akan hal itu. Tapi setelah kejadian tadi malam, aku jadi ragu, aku gak tahu lagi harus kayak gimana, mas. Aku udah benar-benar kecewa sama kamu. Tanpa sepengetahuan aku, kamu main senang-senang sama Mira, kan? Sampai kamu mengira kalau kamu lagi main sama wanita itu padahal kamu lagi sama aku!"
Andovi pikir Mikaya tidak akan mempermasalahkan yang tadi malam. Tapi rupanya ini berakibat fatal. Mikaya sampai berkemas dan ingin pergi bersama Afgari.
"Sayang, aku minta maaf untuk kejadian semalam, ya. Tapi seharusnya kamu ngerti dong situasinya gimana. Aku lagi di bawah pengaruh alkohol, sayang. Lagian aku juga sama kamu kan? Bukan sama Mira."
Entah bagaimana cara berpikir Andovi, pria itu sama sekali tidak merasa bersalah.
"Lucu sekali kamu ini, mas. Udah jelas salah tapi tetap aja mencari pembelaan diri. Dan apa yang pernah aku lihat pagi itu juga, aku yakin kalau malamnya kamu pasti melakukan sesuatu yang seharusnya tidak kalian lakukan. Dasar brrengsekk!"
__ADS_1
Mikaya lebih cepat lagi mengemas barang nya, ia sudah tidak tahan lagi berada di sana.
"Terus sekarang kamu maunya apa, hah?"
"Aku mau pulang aja ke rumah mama papa."
Mendengar hal itu, Andovi jadi panik. Ia tidak ingin di salahkan untuk masalah ini. Lagipula ia tidak benar-benar selingkuh dengan Mira.
"Gak, gak boleh! Kamu gak boleh pergi kemana pun, termasuk pulang ke rumah orang tua kamu!"
"Bukan urusan kamu, mas. Aku mau pergi kemana aja itu bukan lagi urusan kamu."
"Urusan kamu cuma dua, mas. Pekerjaan sama sekretaris kamu itu. Enak kan menyelam sambil minum air?"
Mikaya sudah selesai berkemas, ia menarik kopernya lalu berjalan ke ranjang dimana Afgari tengah terbaring di sana.
"Mikaya, tunggu, Mikaya! Bisa gak sih lebih dewasa aja sedikit, kalau ada masalah kita selesaikan baik-baik. Kita bicarakan secara kekeluargaan, bukannya malah pergi gitu aja seolah-olah kamu merasa paling tersakiti."
"Apa aku gak salah dengar, mas? Kalau udah gini aja kamu sok bijak. Siapa yang gak dewasa di sini, hah? Aku tanya siapa yang gak dewasa di sini?" ucap Mikaya dengan nada sedikit di naikan.
"Setiap rumah tangga pasti ada ujiannya, dan kamu harus siap untuk itu."
__ADS_1
Mikaya tersenyum getir.
"Enak banget kamu ngomongnya, mas. Aku di suruh nerima kenyataan gitu punya suami selingkuh?"
"Aku gak selingkuh!"
"Terus apa, hah? Atau gini aja deh, mas. Aku mau kerja juga melamar sebagai sekretaris di perusahaan besar, terus kamu di rumah jagain Afgari. Kita tukar posisi, gimana?"
"Gila kamu, ya!"
"Kamu yang gila!" balas Mikaya.
Andovi tidak tahu harus bicara apa lagi untuk menghadapi Mikaya yang keras kepala. Sulit sekali meyakinkan wanita itu jika ia tidak selingkuh.
Mikaya menggendong Afgari lalu pergi membawa kopernya. Andovi berusaha mengejarnya, akan tetapi Mikaya sudah tidak bisa di cegah lagi.
"Argh .. Sial!" umpat nya.
Setelah Mikaya benar-benar pergi dengan taksi online, Andovi tidak ada lagi niat untuk mengejarnya. Ia sudah lelah dan muak jika terus menerus berdebat dengan istrinya.
_Bersambung_
__ADS_1