
"Memangnya kamu siapa?"
Afgari diam. Ia sengaja ia tidak memberi tahu pria itu siapa dirinya. Cukup lama mereka saling lempar pandangan. Afgari menatap wajah pria itu dengan penuh kekecewaan jika ia mengingat apa yang sudah pria itu lakukan terhadap ibunya.
Afgari sudah tidak bisa mengendalikan diri, ia khawatir jika apa yang selama ini ia simpan akan meledak saat ini.
Dan benar saja, Afgari sudah tidak bisa lagi untuk menahan apa yang selama ini ia pendam.
"KENAPA KAMU MENYAKITI MAMA, SIALAN! KENAPA SELINGKUHIN MAMA! KENAPA HARUS MENJADI PELAKU PELLECCEHAN YANG KEJAM?! KENAPA KAMU HARUS MELAKUKAN ITU?!"
Afgari meluapkan apa yang selama ini ada di kepalanya. Marah, kecewa, tentu saja.
Pria tua itu perlahan bangkit berdiri usai mendapat bentakan dari anak muda yang masih berdiri di hadapannya.
"Kamu ..." ucap pria itu dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
"Ya, ini aku, SIALAANN ..!! Aaarghh .."
__ADS_1
Afgari menendang bangku lapuk itu hingga bangkunya roboh dan hancur. Ia melampiaskan amarah dan kekecewaannya.
Pria itu kini menangis. Tangisan yang penuh rasa bersalah dan penyesalan.
"Afgari anak papa, kamu sudah besar, nak." ucap pria itu dengan suara yang terdengar gemetar.
Pria tua itu lekas memeluk anak muda di depannya. Afgari tidak tahu harus apa sekarang. Sulit sekali mengungkapkan perasaannya lewat ekspresi. Sebab ia tidah tahu harus bagaimana, apakah senang atau justru apa ketika bertemu langsung dengan sang ayah setelah dua puluh tahun lamanya. Bahkan untuk sekedar membalas pelukan ayahnya saja enggan rasanya.
Afgari meminta pria tua yang merupakan ayahnya untuk melepaskan pelukannya.
"Afgari, maafin papa, nak. Maafin papa untuk semua kesalahan papa terhadap kamu dan mama kamu. Papa benar-benar menyesal karena sudah meninggalkan kalian. Papa akan melakukan apapun agar kita bisa berkumpul kembali. Papa mohon."
"Aku tidak bisa, ini sudah lebih dari cukup. Setidaknya aku sudah tahu wajah papa aku dan papa sudah tahu jika anaknya sudah besar. Hanya itu, tidak lebih," ucap Afgari dengan tatapan datar.
Andovi bersimpuh di kaki Afgari, dia terus memohon supaya di terima lagi dan kumpul bersama seperti dulu. Sungguh, ia sangat menyesali perbuatannya.
Afgari segera membangkitkan ayahnya untuk berdiri, sebab itu tidaklah pantas. Mereka kembali berdiri berhadapan.
__ADS_1
"Aku rasa pertemuan di antara kita sudah cukup. Pertemuan pertama dan untuk yang terakhir kalinya. Aku tidak mau kita bertemu lagi setelah ini baik secara di sengaja ataupun tidak. Ini sudah cukup."
Afgari memutuskan untuk pergi usai mengatakan hal itu. Jujur, dadanya sudah di penuhi sesak sekarang. Ia ingin menangis, tapi tidak bisa.
"Afgari, tunggu, nak!"
Andovi berusaha mengejar putranya, namun Afgari dengan cepat naik ke atas motor. Usai memakai kembali helm full face nya, ia langsung menarik gas dan pergi.
Andovi terus mengejar Afgari. Berharap Afgari mau berhenti dan kembali menghampirinya.
"Afgariiiiii ..." teriaknya memanggil pria muda yang pergi meninggalkannya.
Afgari melirik papanya dari kaca spion, papa nya terus lari mengejarnya hingga jatuh tersungkur ke aspal. Ia kaget, namun tidak ada niatan untuk berhenti. Bulir bening air mata Afgari menetes dari balik kaca helmnya, tidak ada yang menginginkan hal seperti ini terjadi.
Andovi kira Afgari akan berhenti, namun perkiraannya salah. Afgari justru malah kian menjauh, hingga hilang dari jangakaun matanya.
"Afgari .. Maafin papa, nak." ucap pria itu dengan penuh penyesalan dalam diri.
__ADS_1
_Bersambung_