
Hari ini Mikaya senang sekali lantaran Afgari sudah mulai bisa merangkak. Yang awalnya hanya bisa tengkurap dan mulai bisa mengangkat badannya sendiri. Dan sebentar lagi, bocah itu pasti akan sangat aktif dan ia sebagai seorang ibu harus lebih hati-hati lagi dalam menjaganya.
Tidak hanya itu, Afgari juga sudah bisa mengucapkan kata mama lantaran Mikaya sering mengajarkannya. Bocah itu tambah gemas saja.
Perhatian Mikaya beralih pada seseorang yang kini berdiri di balik pintu. Seseorang itu berjalan ke arahnya.
"Halo anak papa .."
Mendengar sapaan papanya, Afgari segera merangkak menghampiri. Andovi terkejut sekaligus senang melihat perkembangan putranya yang sudah bisa merangkak.
"Anak papa sudah bisa merangkak?" tanya pria itu dan bocah itu tersenyum.
Andovi beralih menatap Mikaya. "Sejak kapan anak kita bisa merangkak?"
"Makanya jangan terlalu sibuk sama pekerjaan kamu apalagi sekretaris kamu itu, mas. Sesekali kamu juga harus perhatikan tumbuh kembang anak kamu," jawab Mikaya ketus.
Mood Andovi kembali berubah mendengar jawaban istrinya. Alih-alih hubungan mereka membaik berkat bahagianya melihat bocah itu sudah bisa merangkak, justru malah menimbulkan masalah baru.
__ADS_1
"Aku makin malas ya ngomong sama kamu, jawabannya ketus mulu."
"Ya seharusnya kamu sadar diri lah, mas, kenapa sikap aku kayak gini. Toh kamu juga berubah sejak ada Mira."
Andovi menghela napas. Ia tidak ingin debat di hadapan putranya. Apalagi di saat yang bersamaan ia senang Afgari sudah ada perkembangan dan lebih aktif.
Pada akhirnya, Andovi memilih untuk mengajak bicara anaknya saja. Dan janji akan membelikan mainan. Setelah itu dia bergegas pergi menuju dapur karena perutnya merasa lapar sekali. Akan tetapi, ia tidak menemukan makanan di atas meja. Ia beralih membuka kulkas, namun tidak ada makanan di sana. Hanya tersisa beberapa bahan masakan.
Andovi kian kesal. Biasanya Mikaya selalu menyediakan makanan di atas meja, akan tetapi kali ini tidak ada. Ia kembali menghampiri istrinya di ruang tamu, dimana Mikaya dan Afgari berada di sana.
"Sebegitu marahnya kamu sama aku sampai kamu gak nyediain makanan?" seru pria itu dengan nada sedang.
"Kamu kasih uang gak buat aku? Biasanya kamu juga selalu ajak aku ke supermarket buat belanja bulanan. Sekarang kamu kemana aja? Uangnya kemana aja juga?"
Andovi sadar jika ia telat memberi uang belanja untuk istrinya karena ia baru saja membelikan parfum mahal seharga gaji Mira dia bulan.
Andovi melipir pergi ke kamarnya, dan kembali lagi dengan pakaian yang berbeda.
__ADS_1
"Cepat siap-siap, kita ke supermarket sekarang," ajak pria itu.
Mikaya pun bangkit berdiri dan pergi ke kamar untuk mengambil tas. Sementara Afgari Andovi yang jaga.
Tidak berapa lama Mikaya kembali dengan pakaian yang masih sama. Hal itu memantik kekesalan Andovi.
"Kok gak ganti baju?" tanya pria itu seraya menatap tajam penampilan istrinya.
"Emang kenapa?"
"Aku gak mau pergi kalau penampilan kamu aja kayak gini. Malu-maluin tahu gak?!"
"Ya udah kalau begitu aku berangkat sendiri aja, mas. Kamu tinggal transfer aja uangnya ke rekening aku."
"Gak! Gak bisa! Cepetan ganti baju sebelum aku marah beneran ya sama kamu."
Mikaya pun mengalah, ia kembali ke kamar untuk mengganti pakaiannya menggunakan dress. Tidak tanggung-tanggung, ia juga memoles sedikit make up di wajahnya.
__ADS_1
Andovi mengembangkan senyum melihat penampilan Mikaya sekarang. Jika Mikaya sudah dandan, maka laki-laki mana yang tidak terpesona akan kecantikannya. Bahkan ia pun sampai lupa akan Mira yang akhir-akhir ini menarik perhatiannya.
_Bersambung_