
Andovi mengerjapkan kedua matanya begitu ia merasakan ada yang menepuk pundaknya pelan. Dan wajah yang pertama kali ia lihat saat membuka mata itu Mira.
Pria itu terperanjat kaget dan langsung saja bangun dan duduk. Ia mengedarkan pandangannya ke sekitar, ternyata ia ketiduran di sofa kamar Mira.
"Bapak semalam ketiduran waktu saya mau buatkan kopi lagi," jelas Mira.
Andovi memijat pangkal alisnya. Bisa bisanya ia ketiduran di unit kamar Mira. Ia jadi merasa tidak enak.
"Maaf, ya. Aku benar-benar ngantuk sekali semalam sampai tidak sadar ketiduran di unit kamar kamu," ucap Andovi menyesal.
"Iya, pak. Tidak apa-apa. Semalam saya mau bangunkan, tapi gak tega lihat bapak sudah pulas tidurnya."
"Aku benar-benar minta maaf ya, Mira. Aku jadi gak enak sama kamu."
"Santai aja, pak."
Andovi benar-benar tidak enak hati karena tidur satu atap dengan Mira. Walaupun ia tidur di sofa dan Mira di tempat tidurnya, tetap saja ia merasa tidak enak.
"Kamu udah rapi, memangnya ini jam berapa?" tanya Andovi kemudian.
"Jam enam lebih lima belas menit, pak."
"Ah ya ampun, kenapa kamu gak bangunin dari tadi?"
"Maaf, pak."
Andovi menyinglarkan selimut yang mungkin Mira gunakan untuk menyelimuti dirinya semalam. Ia bergegas bangun dan keluar dari unit kamar Mira.
__ADS_1
Baru selangkah keluar dari pintu unit kamar Mira, pandangannya bertemu dengan mata seseorang yang saat ini berdiri di depan pintu unit kamarnya. Seorang wanita dengan bayi di gendongannya.
"Mas Andovi. Aku pikir unit kamar kam-"
Belum sempat selesai bicara, sudah terpotong ketika Mira ikut keluar dari unit kamar yang sama dimana Andovi barusan keluar.
"Bu Mikaya," ucap Mira lirih sekaligus terkejut dengan kehadirannya.
Mikaya menjatuhkan sesuatu di tangannya yang berisi sarapan untuk suaminya. Air matanya langsung terjun bebas begitu saja.
Tanpa bisa berkata-kata, Mikaya memutuskan untuk pergi saja dari sana.
"Mikaya, tunggu!" teriak Andovi lalu mengejar langkah istrinya.
Mikaya berjalan dengan langkah tergesa, air matanya terus berjatuhan. Padahal ia sudah mencoba untuk berpikir positif terhadap suaminya supaya tidak memperpanjang masalah, akan tetapi masih pagi buta ia sudah di suguhkan oleh pemandangan yang membuat hatinya sakit dan terluka.
"Tega sekali kamu, mas," ucap Mikaya tanpa menghentikan langkahnya.
Andovi mempercepat langkahnya dan menarik lengan istrinya, namun Mikaya segera menepis nya dengan kasar.
"Lepas!" Mikaya melanjutkan langkahnya, tapi kini berhasil di hadang oleh Andovi.
"Minggir! Jangan halangi jalan aku!"
"Aku bisa jelaskan, Mikaya! Jangan berpikir dan berasumsi sendiri. Ini sama sekali tidak seperti yang kamu pikirkan!"
"Minggir, mas! Aku mau pulang."
__ADS_1
Mikaya seolah tidak perduli dengan apa yang akan di sampaikan oleh suaminya. Sebab ia sudah terlanjur sakit hati dan apa yang ia lihat tadi sudah cukup menjadi bukti akan ketakutannya.
Meski demikian, Andovi berusaha untuk menjelaskan pada Mikaya jika semua ini tidaklah benar.
"Aku semalam ketiduran, Mikaya! Udah, itu aja. Kamu jangan berpikir yang lain-lain."
Mikaya pun memberanikan diri untuk menatap wajah suaminya.
"Sekarang ketiduran, besok apa? Tidur bareng?"
"Maksud kamu apa sih?"
"Udah lah, mas. Aku tahu kok, ini cuma akal-akalan kamu aja, kan? Seolah-olah aku yang salah padahal kamu emang benar-benar ada hubungan khusus sama sekretaris kamu itu. Ngaku aja, mas!"
"Aku sama sekali gak ada hubungan apapun sama Mira, Mikaya! Aku benar ketiduran semalam setelah menyelesaikan pekerjaan."
"Emangnya harus di kamar dia ya? Emang gak ada tempat lain apa? Emang gak bisa di selesaikan di unit kamar kami? Emang gak bisa juga kalau di selesaikan di rumah aja?"
"Cukup ya, Mikaya! Aku lagi malas untuk berdebat, aku minta kamu percaya sama aku kalau apa yang kamu lihat itu tidaklah benar. Sekarang kita pulang aja, ya."
Mikaya menepis tangan Andovi ketika pria itu meraih tangannya.
"Aku bisa pulang sendiri. Aku ke sini naik taksi online dan aku juga bakal pulang naik taksi online aja."
Mikaya melipir pergi dari hadapan Andovi. Lalu Andovi mengejarnya lagi.
Di kejauhan, Mira berdiri menyaksikan perdebatan antara bos dan istrinya. Ia jadi semakin merasa bersalah karena di anggap sebagai penyebab keretakan rumah tangga mereka.
__ADS_1
"Aku harus bantu jelaskan sama bu Mikaya, kalau aku sama pak Andovi memang tidak ada hubungan lain selain pekerjaan."
_Bersambung_