
Di salah satu sisi pasar malam, seorang gadis cantik duduk bersama dengan seorang laki laki. Mereka tengah melepas rindu setelah bertahun tahun tak pernah bertemu.
"Gue kangen banget sama lo"ucap Dito.
"Gue juga kangen sama lo"balas Aida. Ya, mereka adalah Aida dan Dito. Mereka adalah sepupu yang terpisah jauh karena keadaan. Baru kali inilah mereka bisa kembali bertemu.
"Gimana nihh?? ada yang mau lo bicarain kan?tanya Dito. Aida memang sengaja mengajak Dito bertemu karena memang Dito yang tinggal di Bandung, dan dirinya juga sedang liburan. Jadi sekalian saja.
"Ya, banyak yang pengen gue bicarain sama lo"jawab Aida.
"Apa itu semua tentang dia?"tebak Dito. Dan Aida hanya mengangguk membenarkan tebakan Dito.
"Gue nggak tau harus mulai darimana, orang orang papa aja sampai saat ini nggak tau dia dimana"ucap Aida.
"Oke oke, gue bakal bantu lo, tapi gue nggak bisa turun tangan langsung, karena lo tau sendirikan kerjaan gue kayak gimana"ucap Dito. Dito adalah anak tunggal dari Arto Pramono dan Dian Setiasih. Saat ini Dito baru menempuh study S2nya di salah satu kampus di Bandung dengan jurusan bisnis manajemen. Selain itu, Dito juga sudah terjun langsung di perusahaan sang ayah.
"Oke, nggak masalah, asalkan lo mau bantu gue"ucap Aida.
"Gue pastu bakal bantuin lo"ucap Dito tegas.
"Apalagi buat dia, dia nggak cuma sodara lo, tapi juga sepupu gue, gue bakal terus usaha buat ketemu lagi sama dia"lanjut Dito menatap lurus kedepan. Bayangan dimasa lalu disaat dirinya sudah duduk di bangku kelas 2 sekolah dasar. Dirinya selalu bermain dengan kedua sepupunya yang belum genap berumur 3 tahun. Bayang bayang dimana Dito menjadi rebutan kedua gadis manja teringat jelas di matanya. Namun sekarang hanya tinggal kenangan.
"Lo keinget sama dia ya?"tebak Aida. Dito tersenyum kecut mendengar penuturan Aida.
"Makan dulu aja yuk, gue laper"ucap Dito mengalihkan pembicaraan. Aida hanya menganggukkan kepalanya. Kini mereka berjalan beriringan sambil sesekali bercanda ria, tertawa bahagia saat mengingat kenangan masa kecil mereka. Namun saat tengah asik tertawa, tiba tiba seorang pria menabrak bahu Aida.
Bugh
"Ehh, sorry sorry gue nggak_"
__ADS_1
"Aira"
Deg
.
.
.
Tengah malam, Aira terbangun dari mimpi indahnya karena tenggorokannya yang sangat kering. Dia duduk di tepi ranjang dan melihat gelas di atas nakas yang sudah kosong. Akhirnya mau tidak mau Aira harus kedapur mengambil air minum. Dengan langkah gontai dan sesekali menguap, Aira berjalan menuju dapur. Sesampainya di dapur Aira langsung menuangkan air putih dan menegaknya habis.
Dorr
"Astaga"pekik Aira.
"Ishh, Vero ngeselin banget sih, kaget tau"kesal Aira. Vero masih saja tertawa melihat eskpresi kaget Aira yang sangat lucu menurutnya.
"Haus banget tau"ucap Aira masih dengan nada kesal.
"Kamu juga ngapain malam malam kedapur? haus juga?"tanya Aira.
"Iya"jawab Vero singkat. Dia beralih menuangkan air putih pada gelas dan menegaknya habis.
"Lo ngapain malah ngalamun, balik tidur sono"ucap Vero. Aira hanya tersenyum tak berniat menanggapi ucapan Vero. Melihat itu Vero memutuskan untuk duduk di seberang Aira.
"Lo kenapa? Ada masalah?"tanya Vero.
"Nggak, cuma kangen ibuk"lirih Aira. Vero diam sesaat. Dia ingin menanyakan sesuatu pada Aira namun tak enak hati. Dan Aira yang merasa dirinya diperhatikan Vero, akhirnya angkat bicara.
__ADS_1
"Kamu kenapa?"tanya Aira.
"Hahh, gue nggak apa apa kok"jawab Vero gugup. Aira hanya manggut manggut saja tak bertanya lagi.
"Emm, Ra, gue boleh nanya?"tanya Vero setelah cukup lama berfikir.
"Nanya aja kali, ngapain coba harus ijin"jawab Aira.
"Emm, lo nggak punya sodara di kampung?"tanya Vero sedikit ragu. Aira menyerngit heran mendengar pertanyaan Vero. Ada apa Vero menanyakan hal semacam itu padanya? Padahal selama ini seluruh keluarga Kevin Adhitama tahu bahwa hanya Aira anak bi Rumi.
"Kok nanyanya gitu?"tanya Aira balik.
"Ya kali aja lo punya sodara yang cocok buat gue"canda Vero.
"Kamu tau sendirilah aku nggak punya sodara, aku anak satu satunya ibuk"lirih Aira. Dia memejamkan matanya sambil menghela nafas panjang. Dia mengusap gelang dengan tulisan "AIRA" di tangannya.
"Lo kayaknya sayang banget deh sama tu gelang"ucap Vero.
"Iya, ini berarti banget buat aku"jawab Aira menatap gelang di tangannya.
"Biar gue tebak, itu pasti dari bokap lo ya"tebak Vero. Aira hanya tersenyum tak berniat menjawab pertanyaan Vero.
Saat tengah asik dengan lamunan masing masing. Deheman keras membuat Aida dan Vero sama menoleh ke sumber suara.
"Ngapain kalian berdua di sini malem malem?"tanyanya.
"Lo nggak liat apa ada gelas geletak di meja, ya kita haus lah, makanya minum"jawab Vero.
"Itu mukanya nggak usah di jelek jelekin ,gue sama Aira nggak ngapa ngapain"ledek Vero saat melihat tatapan tajam sodara kembarnya itu.
__ADS_1
"Dahlah, gue balik ke kamar duluan, ngantuk"ucap Vero sambil berlalu meninggalkan Varo dan Aira.
TBC