
Jodoh, rizki, maut tak ada yang tau. Mungkin sekarang kita masih sehat dan masih bisa menjalankan aktifitas seperti biasanya untuk mencari rizki. Namun tak menutup kemungkinan nanti atau besok kita akan sakit bahkan mati. Bahkan jika Tuhan sudah berkendak Dia juga bisa mengambil harta kita.
Seperti halnya yang Aida alami. Baru beberapa jam yang lalu dia bersama keluarganya merayakan kembalinya Aira di keluarganya. Ya meskipun Aida ada rasa kesal dan benci karena tak bisa mendapatkan laki laki incarannya. Namun sekarang Aida sedang berbaring lemah di brankar rumah sakit dengan selang infus yang menancap ditangannya. Bahkan alat bantu bernafas pun terpasang sempurna di hidung Aida.
Satya dan Risa menatap sendu pada anaknya itu. Sedari kecil Aida sudah terbiasa dengan yang namanya obat dan alat alat kedokteran. Baru saja Aida sembuh dari sakitnya, namun kini dia harus kembali tidur di brankar rumah sakit. Apalagi mengingat Aida kecelakaan harya karena emosi dirinya saat mendengar pengakuan Varo. Sungguh hati Satya sangat sakit melihatnya.
Namun di antara Satya dan Risa, ada satu orang yang merasa sangat bersalah. Aira. Dia menatap sendu saudara kembarnya dari luar ruangan. Kenapa Aira nggak masuk saja keruangan Aida? Jawabannya hanya satu, Aira tak mau saat Aida bangun nanti Aida akan menyalahkan dirinya.
Aira meneteskan air matanya melihat saudara kembarnya terbaring lemah seperti itu. Bahkan dia juga dapat merasakan rasa sakit yang Aida rasakan. Sebagai saudara kembar tentu ikatan batin mereka sangat kuat.
"Ai" Aira menoleh kebelakang saat ada yang memanggilnya. Aira tak menjawab sapaan itu. Dia malah berhambur kepelukan orang tersebut.
"Kamu tenang ya, Aida pasti segera sembuh"ucap Varo. Aira tak menjawab ucapan Varo, dia masih menangis dipelukan Varo. Haruskah aku merelakan Varo untuknya?tanya Aira dalam hati.
Varo mengusap lembut punggung Aira. Dia juga menggiring Aira untuk duduk tanpa melepaskan pelukannya. Dia membiarkan kekasihnya itu puas menangis dulu dalam pelukannya. Setelah cukup lama Aira melepaskan pelukannya. Varo menatap wajah Aira dan tangannya terangkat menghapus air mata Aira.
"Jangan sedih"ucap Varo.
"Varo"panggil Aira lirih.
"Ya, kenapa?"tanya Varo. Aira diam. Benarkah keputusan yang dia ambil saat ini? Aira sayang sama Varo, namun Aira juga sayang sama Aida.
"Ai, kenapa?"tanya Varo.
"Boleh Aira minta satu permintaan sama Varo?"tanya Aira.
"Asalkan aku bisa kabulin, pasti aku kasih"jawab Varo.
"Bisa posisi Aira di gantiin sama Aida aja"ucap Aira menunduk. Raut wajah Varo langsung berubah saat Aira mengatakan itu. Varo benar benar benci saat Aira mengatakan hal itu.
"Aku pernah bilang kalaupun kita putus, aku nggak bakal mau berhubungan sama Aida"ucap Varo dingin.
"Tapi Ai_"
__ADS_1
"Kalau kamu lebih pentingin Aida, kita udahan aja"ucap Varo sambil pergi meninggalkan Aira yang menangis sesegukan.
"Dan jangan harap aku bakal mau sama Aida"ucap Varo berhenti sebentar tanpa menoleh kebelakang. Air mata Aira semakin deras saat Varo mengatakan itu. Aira tak menginginkan perpisahan ini, namun Aira juga tak ingin hubungan persaudaraannya hancur hanya karena laki laki.
Aira masih terisak dalam diam. Tanpa dia sadari Satya mendengar semua obrolan Aira dan Varo. Niat Satya yang ingin keluar mencari udara segar dia urungkan saat mendengar obrolan anaknya dengan kekasihnya itu. Satya merasa kasihan melihat Aira yang menangis seperti itu. Namun dia juga tak mau melihat kedua anaknya harus bertengkar hanya karena satu laki laki.
.
.
.
3 hari berlalu kini kesehatan Aida sudah berangsur membaik. Satya dan Risa begitu senang melihat perkembangan anaknya itu. Aira pun juga sama, dia juga senang saat saudara kembarnya itu sehat kembali. Namun tak ada yang tau jika hati Aira sakit, bahkan sangat sakit.
3 hari ini Varo benar benar tak menampakan dirinya di depan Aira. Bahkan menelfon atau mengirim pesan pun tidak. Ketika Kevin dan Keira datang menjenguk Aida pun hanya Vero yang ikut. Aira benar benar merasa kehilangan sosok Varo. Namun itulah pilihannya, Aira harus menghadapinya.
Kini Aira, Satya dan Risa berada di ruang rawat Aida. Aira duduk di sofa ruangan itu dengan pandangan kosong denga Satya di sampingnya yang masih fokus pada ponselnya. Sedangkan Risa, dia duduk di kursi samping brankar menemani Aida.
"Nggak sayang, mungkin Varo lagi sibuk"jawab Risa tersenyum.
"Bolehkan ma Aida deket sama Varo?"tanya Aida. Risa hanya tersenyum sambil mengusap rambut Aida lembut. Dia tak tau harus menjawab apa. Dia tak ingin melihat Aida sedih, namun disisi lain dia juga tak ingin melihat Aira sedih.
Aira berpura pura tak mendengar perkataan Aida tadi. Dia mencoba menguatkan hatinya merelakan Varo untuk saudara kembarnya itu.
"Pa, Ma, Aira keluar bentar"pamit Aira.
"Kemana Ra?"tanya Risa.
"Cari udara segar ma"jawab Aira.
.
Aira duduk di bangku taman rumah sakit dengan air mata mengalir di pipinya. Sakit. Satu kata yang menggambarkan isi hari Aira saat ini.
__ADS_1
"Nggak usah nangis, ntar jelek" Aira menoleh kesumber suara. Suara yang sangat familiar untuknya. Dia tersenyum sambil mengusap sisa air mata di pipinya.
"Minum dulu"ucap Vero sambil memberi air minum.
"Makasih"ucap Aira setelah menegak air mineral pemberian Vero.
"Ngapain kesini?"tanya Aira.
"Jenguk Aida"jawab Vero jujur.
"Ya udah masuk aja, ngapain malah disini?"tanya Aira.
"Nggak ah, disini aja nemenin lo yang lagi patah hati"jawab Vero santai. Aira diam tak lagi menjawab ucapan Vero. Dia kembali menatap kedepan dengan tatapan kosong. Vero yan melihat itu pun merasa iba. Dengan sengaja Vero menarik Aira kedalam pelukannya. Aira yang merasakan itupun menumpahkan kembali air matanya.
"Sekarang nangis aja dulu, tapi abis ini lo harus senyum lagi"ucap Vero mengusap lembut punggung Aira. Aira tak mengidahkan ucapan Vero. Dia masih menangis sesegukan dipelukan Vero. Setelah cukup tenang, Aira melepaskan pelukannya.
"Makasih"ucap Aira.
"Sekarang senyum, gue bolehin lo nangis tapi tadi, sekarang lo harus senyum"ucap Vero sambil menghapus sisa air mata Aira.
"Varo nggak bakal suka liat lo nangis"ucap Vero.
"Tapi dia yang bikin aku nangis"ucap Aira lirih.
"Bukan dia, tapi diri lo sendiri"ucap Vero. Aira diam. Memang ada benarnya apa yang dikatakan Vero, dirinya lah yang egois. Demi kebehagian saudaranya, Aira rela mengorbankan perasaannya.
"Gue kenal Varo dari masih orok, gue tau betul sifat dia, dan lo juga tau kalau Varo nggak pernah main main sama omongannya"ucap Vero.
"Gue cuma mau bilang, meskipun Varo lepasin lo, dia nggak bakal mau sama Aida, lo pasti juga tau kan? sekarang daripada lo nyiksa diri lo sendiri demi kebahagiaan saudara lo tapi Varo nggak bakal mau, mending lo pertahanin hubungan lo"lanjut Vero.
"Lo percaya sama gue, seiring berjalannya waktu Aida bakal nerima semuanya, seperti gue yang nerima lo berada disisi Varo"ucap Vero.
TBC
__ADS_1