Kisah Cinta Twins V

Kisah Cinta Twins V
BAB 37


__ADS_3

Pukul 9 malam bi Rumi baru sampai di rumah sang majikan. Karena ada perbaikan jalan, jadilah perjalanan yang seharusnya 9 jam harus di tempuh dengan waktu hampir 11 jam. Kini bi Rumi baru saja turun dari ojek. Dan setelah membayar ongkos ojek, bi Rumi memanggil satpam untuk membukakan gerbang. Namun belum sempat gerbang terbuka, suara klakson mobil mengalihkan pandangan bi Rumi.


"Bi Rumi"sapa Varo.


"Ehh deh Varo, bibi kira siapa malam malam begini bertamu"ucap bi Rumi.


"Hehe, abis main bi"ucap Varo.


"Saya duluan bi"pamit Varo melajukan mobilnya saat gerbang sudah dibuka oleh satpam. Bi Rumi mengangguk dan segera memasuki pelataran rumah majikannya itu.


Bi Rumi berjalan ke garasi karena dirinya berniat masuk lewat pintu samping. Karena kalau lewat pintu depan, majikannya pasti sudah pada istirahat mengingat sudah malam.


"Kok lewat sini bi, lewat depan aja ayo sama saya"ajak Varo.


"Iya den, tadinya bibi mau lewat samping"ucap bi Rumi.


"Kok bibi udah balik aja?"tanya Varo.


"Bibi kangen sama Aira den"jawab bi Rumi jujur. Varo tersenyum mendengar penuturan bi Rumi. Dia tak tau harus bicara apa pada pembantunya itu.


"Aira baik baik saja kan den?"tanya bi Rumi.


"Hahh, Aira baik kok bi"jawab Varo tersenyum.

__ADS_1


"Syukurlah kalau Aira baik baik aja"ucap bi Rumi.


"Ya sudah den, bibi mau ke kamar bibi dulu, sekalian mau lihat Aira"lanjut bi Rumi.


"Emm bi"panggil Varo.


"Iya den kenapa? "tanya bi Rumi. Varo diam. Dia bingung harus menjelaskan bagaimana dengan ibu asuh kekasihnya itu.


"Ada yang mau di bicarain bi, tapi bukan Varo, ayah bi"ucap Varo.


"Bibi tunggu dulu ya, biar Varo panggilin ayah"lanjut Varo. Bi Rumi hanya mengangguk bingung. Apa yang ingin majikannya bicarakan? Kenapa tidak beso saja? Apakah sangat penting? Apakah aku akan dipecat? pikir bi Rumi kalut. Dia benar benar sudah gelisah.


Tak berselang lama Varo datang bersama dengan Kevin dan Keira. Mereka tersenyum hangat melihat bi Rumi sudah kembali kerumahnya.


"Ba_baik nyonya"jawab bi Rumi terbata.


"Duduk dulu bi"ajak Keira. Kini mereka aekua sudah duduk. Bi Rumi sedari tadi menundukan kepalanya tak berani menatap majikannya itu.


"Bi"panggil Kevin. Reflek kepala bi Rumi terangkat saat Kevin memanggilnya. Bi Rumu sudah berkaca kaca melihat ekpresi wajah Kevin yang tidak terbaca.


Kevin terdiam sejenak merangkai kata kata yang pas untuk dia sampaikan. Jangan sampai dia salah bicara dan membuat pembantunya itu sakit hati.


"Bi Rumi, sebelumnya kami minta maaf"ucap Kevin terjeda.

__ADS_1


"Kami tidak bisa menjaga putri bibi dengan baik selama bibi pulang kampung"lanjut Kevin. Seketika air mata bi Rumi mengalir. Dia menangis mendengar penuturan majikannya itu.


"Ma_maksud tuan apa?"tanya bi Rumi yang sudah berderai air mata.


"Aira diboyong pulang kerumah orang tua kandungnya"


Deg


.


.


.


Hati ibu mana yang tak sedih jika anaknya sudah tak lagi bersamanya. Memang bukan anak kandung, namun bi Rumi merasakan kesedihan yang teramat dalam. Selama 13 tahun menjaga dan merawat Aira dengan penuh kasih sayang. Dan sekarang, Aira sudah bertemu kembali dengan keluarga kandungnya.


Semalam setelah Kevin mengatakan jika Aira diboyong pulang oleh orang tua kandungnya, bi Rumi menangis sejadi jadinya. Awalnya memang bi Rumi berharap Aira segera bertemu kembali dengan keluarganya. Namun seiring berjalannya waktu, bi Rumi sudah menganggap Aira seperti anak kandungnya sendiri.


Dan pagi harinya Satya dan Risa juga Aira berkunjung ke rumah Kevin menemui bi Rumi untuk mengucapkan terima kasih. Aira yang pagi itu bertemu dengan ibu yang selama ini mengasuhnya tak tinggal diam. Dia langsung memeluk bi Rumi erat dengan berlinang air mata. Pagi itu menjadi momen yang sangat mengharukan bagi siapa saja yang melihatnya.


Cukup lama berbincang Satya dan Risa membawa kembali Aira bersama mereka. Awalnya Aira sempat menolak, namun Satya dan Risa tetap keukeh membawa Aira. Akhirnya Aira pun mengalah namun ia memiliki syarat. Aira bisa kapan saja mengunjungi bi Rumi. Satya dan Risa pun tak keberatan akan hal itu. Toh bi Rumi memang sudah merawatnya sedari kecil, pikir mereka.


Sebenarnya Satya juga menawari bi Rumi untuk berhenti bekerja saja. Satya akan menyediakan rumah juga akan membiayai kebutuhan bi Rumi sehari hari sebagai ucapan terima kasih. Namun bi Rumi menolak, dia selalu berkata "Aira juga anak saya, saya yang merawatnya sedari dia kecil, jadi saya tidak membutuhkan ucapan terima kasih dalam bentuk apapun". Akhirnya Satya hanya bisa mengalah.

__ADS_1


TBC


__ADS_2