
Aida berkeliling memutari kampung terdekat villa yang dia tempati. Dia berusaha bertanya pada warga sekitar siapa tau ada yang mengenal saudaranya itu. Berbekal foto yang ada di ponselnya, Aida tak pantang menyerah. Namun sampai hampir tengah hari Aida tak menemukan hasil apa apa.
"Astaga, gue harus cari lo kemana lagi"gumam Aida. Aida mendongak menatap matahari yang hampir tepat di atas kepalanya. Dia meghembuskan nafasnya kasar sebelum akhirnya dia pulang dulu untuk istirahat.
Sesampai di villa ternyata orang tuanya juga baru tiba. Aida berlari menghambur kepelukan orang tuanya.
"Kamu dari mana Da?"tanya Satya.
"Aku habis muter muter, nanya nanya sama warga sekitar siapa tau ada yang kenal"jawab Aida jujur.
"Terus?"tanya Satya lagi.
"Nihil pa, mereka nggak ada yang kenal"jawab Aida.
"Malahan ada yang ketawain Aida, katanya Aida nyari diri Aida sendiri"lanjut Aida. Satya menahan tawa saat Aida mengatakan hal itu. Yang mereka cari memang saudara kembar Aida. Jadi tidak salah jika Aida di tertawakan oleh warga.
"Udah, kita masuk dulu yuk, nanti kita cari lagi, sekarang istirahat dulu"sela Risa. Aida mengangguk. Mereka berjalan beriringan masuk ke villa.
.
.
.
Perjalanan yang seharusnya hanya membutuhkan waktu 2 jam, harus mereka tempuh dengan waktu hampir 3 jam. Jalanan yang padat membuat Varo dan teman temannya sampai di Jakarta lebih siang.
"Akhirnya sampe juga"ucap Vero. Vero meregangkan otot otot tangannya karena dari Bandung sampai Jakarta hanya dia yang menyetir.
__ADS_1
"Woi, bangun bangunnn, udah sampe nihh"teriak Vero di dalam mobil. Sontak saja semua penghuni mobil yang tertidur langsung terlonjak kaget.
"Nggak usah teriak juga"kesal Darrel.
"Lagian lo pada enak enak molor, lah gue? nyetir sendiri"sungut Vero. Darrel hanya nyengir saja mendenhar perkataan Vero.
Kini mereka rurun dari mobil satu persatu.
"Put, lo bareng gue aja, ntar gue anter sampe rumah"ucap Darrel.
"Nggak ngrepotin Rell?"tanya Putri tak enak hati.
"Nggak, santai aja. Tapi nunggu supir gue dulu ya"ucap Darrel. Putri mengangguk mengiyakan.
"Sambil nunggu masuk dulu aja"ajak Varo. Mereka semua mengangguk. Mereka beriringan masuk kerumah si kembar. Sampai di dalam rumah, mereka di sambut oleh ART.
"Ibuk di rumah sakit den jagain tuan besar Bimo kalau tuan Kevin ke kantor"jawab sang ART.
"Ibuk aku belum balik ya bi?"tanya Aira.
"Belum Ra, bi Rumi belum balik"jawabnya. Aira menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Saya permisi den, mau buatkan minum"pamit sang ART. Varo mengangguk dan mengajak teman temannya duduk di ruang tamu. Sedangkan Aira di pamit ke kamar terlebih dahulu untuk mandi.
.
.
__ADS_1
.
Kembali lagi ke Bandung. Mang Udin baru saja selesai dengan tugasnya membersihkan villa sang majikan. Karena anak anak majikannya tidak jadi menginap lebih lama, jadi Mang Udin membereskan kembali kamar kamae yang ada di villa. Mulai dari mengganti sprai, menyapu, mengepel dan yang lainnya.
Mang Udin mengunci pintu villa juga gerbang sebelum pulang. Karena jarak rumah yang dekat, Mang Udin memilih jalan kaki saja. Namun di tengah perjalanan Mang Udin di cegat oleh sepasang suami istri.
"Maaf pak"ucapnya.
"Iya pak, ada yang bisa saya bantu?"tanya Mang Udin.
"Saya mau tanya, apa mamang kenal dengan orang di foto ini?"tanyanya sambil menunjukan foto. Mang Udin memperhatikan foto itu dengan seksama. Dia tersenyum melihat wajah yang tak asing baginya.
"Kenal atuh pak"jawab mang Udin.
"Kalau boleh tau rumahnya yang mana ya mang?"tanya Satya.
"Aduhh, kalau rumahnya saya nggak tau pak"jawab mang Udin.
"Tapi mamang kenal sama orang ini?"tanya Satya.
"Kenal pak, dia mah orang Jakarta, dia teman anak majikan saya, baru saja mereka pulang dari sini, pada balik ke Jakarta pak"jawab mang Udin menjelaskan. Satya dan Risa saling pandang mendengar penjelasan mang Udin. Mereka mengira anak yang sudah 13 tahun menghilang itu tinggal di Bandung ,ternyata ada di Jakarta.
"Jadi anak ini sudah kembali ke Jakarta?"tanya Risa.
"Sudah bu"jawab mang Udin.
"Terima kasih mang informasinya, kami pamit duli"ucap Risa. Mang Udin tersenyum seraya mengangguk. Sedangkan Risa menarik tangan Satya yang diam mematung. Entah apa yang Satya pikirkan.
__ADS_1
TBC