Kisah Cinta Twins V

Kisah Cinta Twins V
BAB 33


__ADS_3

Pagi pagi sekali Aira sudah terbangun dari tidurnya. Dia mengamati kamar yang baru ia tempati satu malam ini. Dia memejamkan matanya, menghela nafas pelan sebelum akhirnya dia beranjak dari ranjang menuju kamar mandi. Aira mencuci muka dan menggosok gigi sebelum turun kelantai satu.


Aira perlahan menapaki setiap anak tangga dirumahnya. Dia melihat seseorang sedang didapur. Sudah bisa dipastikan itu pasti pembantu disini. Dengan segera Aira menuju dapur berniat membantu.


"Bi, aku bantu ya"ucap Aira ramah.


"Eh non, nggak usah non, biar bibi aja, inikan udah tugas bibi"ucap sang ART.


"Nggak apa bi, aku udah biasa kok"ucap Aira sambil meraih sayur untuk dipotong.


"Aduh, jangan dikerjain atuh non, kalau ketauan tuan bisa dimarahi"takut ART.


"Nggak bakal bi"ucap Aira santai.


"Udah bi aku bantuin, biar cepet selesai"lanjut Aira. Akhirnya sang pembantu hanya bisa pasrah. Dia melanjutkan pekerjaannya dengan di bantu anak majikanya itu. Dalam hati ia heran mengapa juga anak majikannya itu sudah bangun, padahal jam baru menunjukan pukul setengah 5 pagi.


.


.


.

__ADS_1


Risa menuruni anak tangga masih dengan baju tidurnya. Dia biasa bangun pagi untuk menyiapkan keperluan suaminya. Namun hari ini dia bangun agak terlambat karena semalaman dia lelah menangis. Dia merasa bersalah kepada Aira yang selama ini tak mendapatkan kasih sayang darinya.


Risa berniat masak untuk suaminya. Memang sudah biasa dia yang memasak meskipun dengan di bantu pembantu untuk menyiapkan bahan bahannya. Namun saat sampai di dapur, Risa melihat meja makan yang sudah siap dengan beberapa makanan.


"Lho bi, kok udah rapi aja?"tanya Risa.


"Eh, iya nyah, ini tadi bibi masak di bantu sama non Aira"jawab bibi.


"Sekarang Airanya mana?"tanya Risa.


"Non Aira kekamar nyah, mandi"jawab bibi. Risa terlihat menganggukkan kepalanya. Dilihatnya meja makan yang sudah rapi itu. Dia tidak meyangka jika anak yang selama ini tak ada disampingnya ternyata sangat rajin. Mungkin karena ibunya Aira adalah seorang ART, jadi Aira terbiasa dengan pekerjaan rumah, pikir Risa.


"Mama"panggil Aira.


"Mama ngapain disini?"tanya Aira. Bukan perkara mudah bagi Aira untuk mengucapkan kata mama. Namun dia harus berusaha agar tidak menyinggung perasaan kedua orang tuanya.


"Emm, mama tadi nyari kamu, kata bibi kamu lagi mandi"ucap Risa.


"Kamu panggil Aida ya sayang, biar mama panggil papa kamu, kita sarapan bareng"lanjut Risa. Aira mengangguk. Dia segera berlalu menuju kamar saudara kembarnya. Sedangkan Risa segera berlalu kekamarnya.


.

__ADS_1


Aira mengetuk pintu kamar saudara kembarnya beberapa kali namun tak ada tanda tanda pintu akan terbuka. Bahkan beberapa kali Aira meneriaki nama saudara kembarnya itu, dan hasilnya masih sama. Cukup lama dia berdiri di depan pintu. Akhirnya dengan rasa takut, Aira meraih handle pintu dan memutarnya. Ternyata pintunya tidak dikunci.


Aira membuka pintu dengan lebar dan dilihatnya Aida masih bergelung di bawah selimit tebalnya. Aira berjalan mendekati ranjang Aida. Di lihatnya sekeliling kamar Aida yang hampir sama dengan kamarnya. Hanya beberapa figura foto saja membedakan.


Aira menelisik setiap sudut kamar saudaranya itu. Rapi. Satu kata yang tersirat dipikiran Aira saat itu. Dia juga melihat foto kedua orang tuanya dengan Aida yang memakai kebaya juga piala ditangannya. Bisa di tebak foto itu adalah foto kelulusan Aida saat SMP.


Setelah puas menelisik kamar Aida, Aira mencoba menbangunkan saudaranya itu.


"Aida, bangun"ucap Aira menggoyang bahu Aida. Merasa tidurnya terganggu, Aida mengerjapkan matanya perlahan. Saat mata itu benar benar terbuka, dilihatnya gadis yang memiliki paras persis seperti dirinya.


"Bangun, kata mama suruh sarapan bareng"ucap Aira. Aida menguap seraya mengangguk. Dia memposisikan dirinya duduk bersandar dashboard ranjang.


"Kok lo bisa masuk kamar gue?"tanya Aida.


"Maaf, tadi pintunya nggak dikunci"jawab Aira. Aida menganggukkan kepalanya paham. Dia menatap saudaranya dengan penuh kebahagiaan juga penuh rasa syukur.


"Thanks ya lo udah kembali"ucap Aida. Aira tersenyum dan mengangguk. Dia tak berniat menjawab ucapan Aida. Dia masih butuh waktu untuk semua ini.


"Mandi, terus turun sarapan"ucap Aira seraya keluar dari kamar Aida. Aida hanya tersenyum getir melihat saudara kembarnya yang belum bisa menerima keadaan ini.


TBC

__ADS_1


__ADS_2