
Dengan perasaan yang begitu bingung dan penasaran, Satya dan keluarganya kembali ke Jakarta. Tak lupa pula dia menggerakan orang orang suruhannya untuk mencari anaknya.
"Aida"panggil Satya.
"Kamu yakin ketemu waktu di Bandung?"tanya Satya.
"Aida yakin pa, Aida ketemu sama dia, dia sama cowok pa, mungkin pacarnya"jawab Aida.
"Tadi papa juga kan ketemu orang disana bilangnya dia udah balik ke Jakarta kan, berarti bener dong Aida sempet ketemu dia di Bandung"lanjut Aida.
"Astaga, kenapa papa nggak kepikiran buat tanya alamat majikannya"pekik Risa.
"Papa lupa ma, kita tenang dulu, papa yakin dia segera ketemu"ucap Satya yakin. Aida dan Risa hanya menganggukkan kepalanya. Mereka tak tau harus mencari dimana. Jakarta itu luas, tak cukup waktu 1 atau 2 jam untuk mencari orang yang di maksud.
"Ahh iya, besok malam kamu ikut papa ketemu temen papa ya"ucap Satya.
"Kenapa Aida harus ikut pa, biasanya juga papa sendiri"ucap Aida cemberut.
"Ada hal lain yang mau papa bahas"ucap Satya.
"Memyangkut kamu juga"lanjut Satya. Aida menghembuskan nafasnya berat sebelum akhirnya dia mengangguk.
.
.
__ADS_1
.
Di kediamannya Kevin baru saja selesai dengan ritual mandinya. Dia berjalan hendak kedapur, namun baru sampai di ruang keluara, dia melihat kedua anaknya yang sedang menonton tv.
"Var, Ver, kalian nggak nyusulin bunda?"tanya Kevin.
"Ntar malem yah, sekalian kita aja yang gantian jaga opa Bimo, biar bunda pulang"ucap Varo. Kevin mengangguk dan duduk di sofa yang sama dengan anak kembarnya itu.
"Nanti ada yang ayah bicarakan sama kalian"ucap Kevin.
"Kenapa yah?"tanya Varo lagi. Sedangkan Vero hanya melirik sekilas dengan tangan yang tak lepas dari toples berisi cemilan.
"Nanti saja di ruang kerja ayah ya, ayah mau kedapur dulu"ucap Kevin segera beranjak kedapur.
"Mau kemana lo?"tanya Vero.
"Ngelonin ayang"jawab Varo asal.
"Belum halal woyy"teriak Vero. Namun Varo hanya mengendikan bahunya acuh. Dan Vero di buat geleng geleng kepala dengan kelakuan saudara kembarnya itu.
Namun disisi lain Vero juga senang, Varo yang dulu pendiam sekarang lebih banyak bicara. Bahkan Varo juga sudah sedikit murah senyum. Semoga kalian selalu bahagia, batin Vero. Dia tersenyum dan kembali fokus pada tv juga cemilan yang ada di tangannya.
.
.
__ADS_1
.
Kevin berjalan meninggalkan dapur setelah menghabiskan makanannya. Dia berniat mengajak kedua anaknya untuk membicarakan hal yang cukup serius.
"Vero, kakak kamu mana?"tanya Kevin.
"Lagi sama Aira yah"jawab Vero.
"Mereka liburan gini masih sibuk belajar?"tanya Kevin.
"Iya yah, belajar bikin anak"ucap Vero asal.
"Huss, kamu ini, harusnya kamu contoh kakak kamu, liburan gini aja masih dipake buat belajar, manfaatkan hari libur dengan baik"ucap Kevin menasehati.
"Aishh, ayah ayah, coba dehh cek aja di kamar Aira, mereka lagi belajar apa"ucap Vero memberengut. Kevin mengerutkan dahinya.
"Kamu keruangan ayah sekarang, biar ayah panggil Varo"ucap Kevin sebelum beranjak. Vero mengangguk mengiyakan ucapan Kevin dan segera beranjak menuju ruang kerja sang ayah.
Kevin segera beranjak menuju kamar Aira. Dia sebenarnya juga penasaran karena beberapa bulan terakhir ini anaknya Varo sering sekali berkunjung ke kamar Aira dengan dalih belajar bersama. Entah belajar yang seperti apa yang mereka maksud, namun sejauh ini tidak ada hal hal buruk terjadi.
Kevin semakin dengan kamar Aira. Begitu sampai di depan kamar anak ARTnya itu, tangan Kevin melayang hendak mengetuk pintu karena kebetulan pintubya ditutup. Namun belum sempat Kevin mengetuk pintu, sebuah suara membuat dahinya berkerut. Dia mencari cari sumber suara tersebut. Dan ternyata berasal dari dalam kamar Aira. Kevin di buat melongo dengan apa yang dia dengar.
"Benar benar keterlaluan"geram Kevin.
TBC
__ADS_1