
Di kediaman Satya, mereka tengah memandang haru pada seorang gadis di hadapannya. Gadis kecil yang hilang 13 tahun silam kini sudah didepan mata. Entah apa yang bisa Satya dan keluarga ucapkan kali ini. Rasa bahagia serta rasa haru bercampur jadi satu.
Setelah selesai makan malam Aira memang di boyong kerumah Satya. Sebenarnya Aira menolak karena tak ingin membuat sang ibu yang merawatnya dari kecil mencarinya. Namun Kevin membiarkan Aira ikut dulu dengan Satya sementara sampai bi Rumi kembali ke ibu kota. Akhirnya Aira hanya bisa pasrah saat harus ikut pulang bersama Satya.
Bukan Aira tak mau pulang bersama keluarga kandungnya. Namun 13 tahun bukanlah waktu yang singkat. Aira masih berusaha menerima semua ini. Bahagia pasti, orang mana yang tak bahagia bisa kembali bersama keluarganya. Namun saat ini Aira masih merasa bahwa mereka orang asing baginya.
Seperti saat ini, Aira duduk di ruang keluarga bersama Satya, Risa juga Aida. Aira hanya diam saja tak membuka pembicaraan. Satya dan Risa pun belum menanyakan apapun pada Aira. Mereka ingin Aira beradaptasi terlebih dahulu dengan rumah barunya.
"Aira, mama senang sayang akhirnya kamu bisa kembali lagi bersama kami"ucap Risa membawa Aira kedalam pelukannya. Aira hanya terdiam tanpa membalas pekukan Risa. Dia bingung harua bagaimana.
Risa melepaskan pelukannya saat dirasa Aira tak membalasnya.
"Nak, apa kamu tidak bahagia bertemu kami kembali?"tanya Risa sendu.
"A_aku bahagia, hanya saja, aku rindu ibu yang merawat ku sedari kecil"jawab Aira menunduk. Risa dan Satya saling pandang. Mereka memang seperti tidak ada hak membawa Aira kerumahnya, mengingat selama 13 tahun mereka tak pernah sekalipun merawar Aira.
"Kami akan mengantarkan mu kembali pada ibu mu nak jika beliau sudah kembali"ucap Satya piluh.
"Kami juga ingin mengucapkan terima kasih pada beliau yang telah merawatmu sedari kecil, maafkan kami yang selama 13 tahun tak bisa menemukanmu, maafkan kami nak"lanjut Satya menahan tangis. Risa sudah menangis sedari tadi. Dia tak menyangka bahwa anak yang selama ini dia rindukan seakan tak merindukannya.
Aira menatap Risa sang mama yang menangis dalam dekapan Aida. Ada rasa sakit dihatinya melihat sang ibu kandung meneteskan air mata. Hingga dengan keberanian yang dia kumpulkan, Aira melangkah mendekati sang mama. Dibawanya Risa kedalam pelukannya. Kali ini air mata Aira tumpah. Dia sudah tak mampu menyembunyikan kerinduannya selama ini.
Risa pun membalas pelukan Aira erat. Mereka sama sama menangis dalam pelukan. Saat dirasa cukup tenang, Aira melepaskan pelukannya. Dia menghapus sisa air mata yang ada dipipinya.
"Maaf, bukan Aira tak bahagia bisa kembali bersama kalian, namun 13 tahun bukan lah waktu yang singkat, selama 13 tahun Aira mencoba mandiri tanpa kehadiran kalian, 13 tahun pula Aira berusaha bangkit dari keterpurukan"ucap Aira.
"Aira hanya butuh waktu untuk kembali, beri Aira waktu, dan Aira janji akan kembali bersama sama dengan kalian lagi"lanjut Aira.
__ADS_1
"Baiklah jika itu pilihan mu, tapi kami mohon tinggallah disini sementara ibu mu masih di kampung nak"ucap Satya memohon. Aira mengangguk menyanggupi.
.
Aida mengantarkan Aira kekamarnya. Aira hanya mengekor saja di belakang saudara kembarnya itu. Sampai dilantai 2, Aida membuka salah satu pintu dan itulah kamar Aira.
"Ini kamar lo, kalau ada apa apa, gue di kamar sebelah"ucap Aida.
"Makasih"ucap Aira. Aida tersenyum mendengar ucapan terima kasih Aira. Dia teringat masa kecilnya. Dimana dia yang sakit sakitan selalu di jaga oleh Aira. Meskipun masih diusia 2 tahun, Aira begitu dewasa mengambil sikap. Dia selalu mengalah untuk saudara kembarnya itu.
"Ra"panggil Aida.
"Boleh gue peluk lo"lanjut Aida. Aira tersenyum pada kembarannya itu. Dia mengangguk dan merentangkan tangannya. Sejurus kemudian tubuh Aida menubruk tubuh Aira. Mereka saling berpelukan dengan erat. Tak ada yang mampu menyembunyikan air matanya.
"Gue udah sembuh Ra, gue sembuh"ucap Aida disela sela pelukan serta tangisannya. Aira tak menjawab ucapan Aida. Dia masih terisak dalam pelukan kembarannya itu.
"Ra, gue udah sehat"ulang Aida melepaskan pelukannya.
"Ra"panggil Aida.
"Kemana lo selama ini?"tanya Aida.
"Gue disini"jawab Aira tersenyum.
"13 tahun silam saat kita di bandara...
Flashback on
__ADS_1
Satya dan keluarganya terlihat sedang panik. Kala itu Satya dan Risa yang tengah fokus pada anaknya yang terbaring lemah di brankar dengan didorong oleh beberapa petugas rumah sakit tak menyadari bahwa Aira tak berada dalam pengawasan mereka.
Aira kecil menangis saat dirinya ternyata tak berada di tengah tengah keramaian namun tak satu orang pun yang ia kenal. Dia terus berlari mencari keberadaan orang tuanya. Sampai akhirnya dia berada di pinggir jalan yang cukup sepi.
"Mama, papa"teriak Aira dalam tangisnya.
"Kalian dimana, Aira sendiri disini"teriaknya lagi. Aira duduk di pinggir jalan sambil terus terisak. Sampai seorang wanita paruh baya datang menghampirinya.
Dia adalah bi Rumi. Kala itu bi Rumi tengah berjualan didekat bandara. Bi Rumi merantau ke ibu kota untuk membantu perekonomian keluarga. Bi Rumi membawa Aira ikut bersamanya. Awalnya Aira takut, namun dia lebih takut lagi jika harus sendirian dijalan padahal waktu sudah hampir petang.
Aira ikut bi Rumi kerumah kontrakannya. Disana hanya ditinggali oleh bi Rumi saja. Suaminya tinggal dikampung bekerja sebagai buruh bangunan.
"Nak, kamu mandi dulu ya"ujar bi Rumi. Aira menurut. Dengan dibantu bi Rumi, Aira mandi dan berpakaian. Tadi sebelum pulang memang bi Rumi mampir ke toko pakaian terlebih dahulu membelikan pakaian untuk Aira.
Selesai berpakaian mereka makan bersama dengan lauk seadanya. Namun disela sela makan malam mereka, ponsel bi Rumi berdering. Dia menerima panggilan telfon tersebut. Namun setelah selesai bi Rumi terlihat sedikit panik. Ternyata suami bi Rumi di kampung sedang sakit. Dan hal itu mengharuskan bi Rumi pulang ke kampung.
Namun bi Rumi bingung, harus membawa Aira atau tidak. Jika dibawa apa kata orang kampung nanti, tapi jika tidak siapa yang akan merawat Aira, pikir bi Rumi. Akhirnya membawa Aira adalah pilihannya.
Aira dirawat bi Rumi dengan penuh kasih sayang. Sampai tiba Aira masuk sekolah dasar, bi Rumi kembali merantau meninggalkan Aira bersama suaminya. Suami bi Rumi juga sangat menyayangi Aira, jadi tak heran jika Aira mau ditinggal oleh ibunya itu. Hingga saat Aira kelas 6 SD, pak Ardan yang tak lain adalah suami bi Rumi meninggal dunia. Kala itu Aira yang hampir lulus akhirnya menyelsaikan sekolahnya dikampung. Dan setelah lulus sekolah dasar bi Rumi membawanya ke ibu kota dimana dia mencari nafkah.
Flashback off
Aida tak kuasa menahan tangisnya. Dia tak tau jika saudaranya mengalami hal yang begitu sulit.
"Maafin gue Ra, gara gara gue lo sampai harus kayak gini"ucap Aida terisak.
"Ssttt, lo nggak salah, semua udah takdir Tuhan, kita umatNya hanya bisa menerima"ucap Aira.
__ADS_1
"Gue bahagia selama ini, gue nggak kekurangan kasih sayang, dan sekarang kasih sayang gue makin lengkap karena ada lo, mama sama papa"lanjut Aira. Aira membawa Aida kedalam pelukannya. Tanpa mereka sadari, Satya dan Risa mendengar pembicaraan kedua anaknya di balik pintu. Risa terisak dalam pelukan Satya mendengar cerita sang anak.
TBC