
Selesai makan malam bersama keluarganya, Aira memutuskan untuk kembali kekamar. Dia merebahkan tubuhnya di ranjang sambil memejamkan matanya. Aira sedang memikirkan sikap Aida yang berubah padanya. Sejak saat pulang dari rumah Varo tadi, Aida mendiamkan Aira sampai sekarang. Bahka terkadang dengan terang terangan Aida menunjukan sikap tak sukanya dengan Aira.
Aira menghembuskan nafasnya berat sambil membuka mata. Dia mengambil ponselnya untuk menghubungi Varo mengajak bertemu. Setelah beberapa saat berkutat dengan ponselnya, Aira segera bersiap.
"Ma"panggil Aira.
"Iya Ra, kamu mau kemana kok rapi banget?"tanya Risa.
"Aira mau keluar sebentar ma, janjian sama temen"ucap Aira sambil melirik Aida yang menatapnya sinis.
"Ohh, ya udah, di antar supir ya Ra"tawar Risa.
"Nggak usah ma, cuma di taman depan komplek kok ma"tolak Aira.
"Ya udah, hati hati, jangan pulang terlalu malam"ucap Risa. Aira mengangguk dan menyalami tangan Risa sebelum berlalu. Aira juga sempat melirik Aida yang seolah acuh padanya.
"Ma, Aida pergi dulu yaa"ucap Aida.
"Lho lhoo, kemana Da?"tanya Risa.
"Kedepan bentar"ucap Aida sambil berlalu meninggalkan Risa. Risa menyerngitkan dahinya melihat tingkah anak anaknya yang seakan berubah. Yang biasanya selalu bertegur sapa bahkan saling bercerita, namun sepulang dari rumah Kevin mengapa anak anaknya itu seperti berubah? pikir Risa.
.
Aira sudah duduk manis disalah satu bangku taman setelah beberapa saat berjalan. Dia menyandarkan tubuhnya disandaran bangku sambil menghela nafas panjang. Entah apa yang ingin dia sampaikan pada Varo sampai sampai dirinya nekad ingin bertemu.
__ADS_1
Dorr
"Astaga"pekik Aira. Dia menoleh kebelakang dan dilihatnya Varo yang tertawa terbahak bahak melihat dirinya kaget.
"Ishh, Varo, kaget tau"ucap Aira cemberut.
"Haha, abisnya kamu lucu sihh, ngalamun sendiri"ucap Varo seraya mendudukan bokongnya di samping Aira. Aira memalingkan wajahnya marah sambil mengerucutkan bibirnya.
"Iya deh iya, aku minta maaf sayang"ucap Varo tersenyum. Aira tersipu saat Varo memanggilnya sayang. Memang sudah sering Varo memanggil dengan kata sayang, namun dasarnya Aira yang pemalu atau apalah. Dia selalu saja salah tingkah.
"Ada apa ngajakin ketemu? kangen yaa"goda Varo. Aira jadi teringat tujuan awalnya mengajak Varo bertemu. Dia membenarkan posisi duduknya dan menatap Varo lekat. Bahkan dengan berani Aira meraih tangan Varo dan di genggamnya erat.
"Kenapa? mikirin apa?"tanya Varo.
"Varo, misal ada orang lain yang suka sama kamu, kamu gimana?"tanya Aira.
"Varo, aku serius, apa kamu bakal ninggalin aku?"tanya Aira. Varo menghela nafasnya pelan. Dia menatap Aira lekat.
"Ai, dengerin aku. Setiap orang berhak suka sama kita, dan setiap orang berhak buat nggak suka kita"ucap Varo.
"Semua itu tergantung kita mengambil sikap. Aku udah punya kamu, dan aku nggak bakal ninggalin kamu walaupun banyak wanita yang suka sama aku"lanjut Varo. Aira menatap Varo lekat. Tak ada keraguan dalam setiap kata yang Varo ucapkan.
"Kenapa nanya gitu?"tanya Varo. Aira terdiam seakan bingung harus menjawab apa.
"Jujur Ai"tegas Varo. Mendengar ucapan Varo yang sudah seperti itu membuat nyali Aira menciut. Akhirnya Aira menceritakan yang sebenarnya. Mulai dari Aida yang terang terangan suka denga Varo hingga kejadian setelah pulang dari rumah Varo. Semua Aira ceritakan tanpa ada yang ia tutupi.
__ADS_1
"Ai"panggil Varo.
"Dulu kita pacaran diam diam karena kamu takut orang tua kita tau dan nggak direstui, tapi kenyataannya setelah ayah sama bunda tau mereka nggak masalah sama hubungan kita, dan sekarang kamu ragu karena Aida suka sama aku"lanjut Varo.
"Dari dulu aku udah bilang sama kamu, aku nggak butuh pendapat siapapun tentang hubungan kita, asal kamu selalu disamping ku, selalu ada buat aku, selalu suport aku, itu udah cukup Ai. Biar aku yang selalu berjuang buat kamu. Dan kalaupun kamu udah nggak mau berjuang bareng sama aku, aku nggak bakal pilih Aida buat gantiin posisi kamu. Kenapa? karena kalian kembar, dan itu hanya akan buat aku sakit"lanjut Varo. Aira menitihkan air matanya mendengar ucapan Varo. Dirinya langsung berhambur dalam pelukan Varo. Dan Varo pun membalas pelukan Aira erat.
"Maaf, maafin aku, bukan aku nggak mau berjuang sama kamu, tapi aku sama Aida baru aja ketemu, aku nggak mau kita berantem cuma gara gara cowok"ucap Aira terisak.
"Jadi mau kamu gimana?"tanya Varo seraya melonggarkan pelukannya. Aira terdiam. Di satu sisi dia tak ingin berpisah dengan Varo, namun di satu sisi dirinya juga tak ingin hubungan persaudaraannya renggang hanya gara gara seorang laki laki.
"Kamu mau denger cerita aku?"tanya Varo. Aira menatap Varo sebelum akhirnya mengangguk.
"Sebenarnya waktu acara makan malam hari itu, aku yang akan dikenalkan ayah sama anak rekan bisnisnya, tapi saat ayah tau aku udah punya kamu, jadilah Vero yang gantiin"ucap Varo.
"Jadi seharusnya, yang jadi sama kamu Aida"ucap Aira.
"Mungkin kalau aku belum pacaran sama kamu iya, tapi karena aku udah pacaran sama kamu, jadi kamu deh yang ada di samping aku"ucap Varo.
"Udah, kamu tenang aja, ayah nggak bakal pisahin kita cuma gara gara hal kayak gitu, toh aku sama Vero sama aja, kan kembar"lanjut Varo bercanda.
"Aku serius Varo"kesal Aira.
"Hehe, aku juga serius sayang, udah kamu nggak usah mikirin itu, kita jalanin aja hubungan kita seperti biasanya, dan lagi, kalau Aida ada ngomong yang enggak enggak sama kamu, nggak usah di dengerin, nggak usah ditanggepin, yang penting aku udah jadi pacar kamu, dan akan selamanya seperti itu"ucap Varo.
"Yuk aku antar pulang, udah malam"ajak Varo. Aira mengangguk menerima uluran tangan Varo. Dan mereka pun berjalan sambil bergandengan tangan menuju tempat parkir. Namun tanpa mereka sadari seseorang berdiri tak jauh dari mereka mengepalkan tangan erat.
__ADS_1
TBC