
Malam telah berganti pagi. Suasana yang tadinya sunyi menjadi ramai dengan aktivitas setiap orang. Seperti halnya di kediaman Kevin. Keira sudah bangun pagi pagi untuk menyiapkan sarapan. Dia juga harus segera kerumah sakit menggantikan kedua anak kembarnya yang menjaga sang opa.
"Pagi buk"sapa Aira.
"Ehh, Aira pagi juga sayang"jawab Keira.
"Aku bantuin ya buk"ucap Aira seraya meraih sayur untuk di potong.
"Iya Ra"jawab Keira tersenyum. Keira memang senang saat bi Rumi mengatakan akan membawa anak perempuannya. Dia berasa memiliki anak perempuam yang bisa di ajak ngobrol.
"Ra"panggil Keira.
"Iya bu"jawab Aira.
"Nanti kamu ikut saya ya ke rumah sakit"ajak Keira.
"Ehh, emang nggak apa apa buk?"tanya Aira.
"Nggak dong, nanti kamu bisa langsung pulang sama si kembar"jawab Keira.
"Gimana ibuk aja"ucap Aira sungkan.
"Sipp dehh"ucap Keira senang. Mereka kembali melanjutkan aktivitas memasak dengam obrolan dan candaan. Hal itulah yang membuat Aira begitu nyaman berada disini. Meskipun statusnya anak seorang ART, namun majikannya itu tak membeda bedakan.
"Akur banget istri sama anak mantu ayah"ujar Kevin yang sudah rapi dengan setelan jasnya. Pipi Aira merona tatkala Kevin mengatakan anak mantu.
Setelah kejadian Varo dan Aira kepergok Kevin berduaan di kamar waktu itu, dengan terang terangan Kevin merestui hubungan mereka. Dengan syarat tentunya. Mereka tak boleh abai apalagi lupa dengan tugas dan kewajiban mereka sebagai seorang siswa.
"Iya dong yah"jawab Keira.
"Ayah sarapan dulu yuk"lanjut Keira. Aira yang melihat itu langsung pamit undur diri. Dia tidak mau merusak keromantisan pasangan yang tak lagi muda itu. Apalagi mereka adalah majikannya.
.
.
.
Di rumah sakit Varo terlihat sangat senang. Pasalnya pagi pagi sekali sang pacar sudah datang kerumah sakit dengan membawalan sarapan untuknya. Bahkan dia datang bersama dengan sang bunda. Ahh, sungguh lega perasaan Varo saat tahu ayah dan bundanya merestui hubungan keduanya.
Varo cukup paham dengan kedua orang tuanya yang tak membeda bedakan. Kaya dan miskin bukan jaminan.
"Kalian sarapan dulu ya, biar bunda yang jagain opa kalian"ucap Keira. Varo dan Vero mengangguk. Sedangkan Aira, dia membanu si kembar menyiapkan sarapan.
__ADS_1
"Kamu nggak makan Ai?"tanya Varo.
"Udah dari rumah, kamu aja makan"jawab Aira. Bahkan tangan Aira dengan terampil mengambilkan nasi serta lauk pauk untuk Varo. Dan hal itu tak luput dari pandangan Vero. Vero tersenyum miris mendapati orang yang dia sukai lebih memilih orang lain. Terlebih lagi saudaranya sendiri. Namun Vero tak mau egois, dia berusaha menerima dengan lapang dada jika orang yang dia cintai memilih orang lain.
"Kamu mau diambilin juga Ver?"tawar Aira.
"Bo_
"Dia bisa ambil sendiri Ai"potong Varo. Tentu saja Vero langsung memberengut kesal. Baru saja terbesit ide konyol yang akan membuat saudara kembarnya cemburu, tapi tak jadi.
Aira yang melihat betapa posesifnya Varo yang geleng geleng kepala. Semakin kesini Varo memang semakin manja padanya, dan juga semakin posesif tentunya. Namun Aira tak mempermasalahkan hal itu. Asalkan masih dalam wajar, Aira tak masalah.
"Ohh iya Ra, nanti kamu pulang sama kembar ya, soalnya supir udah pulang duluan"ucap Keira.
"Baik, buk"jawab Aira tersenyum. Aira berjalan mendekati bankar rumah sakit dimana Bimo merebahkan tubuhnya. Aira mendoakan tuan besarnya semoga cepat pulih kembali dan mengobrol ringan sembari menunggu si kembar makan. Setelah si kembar selesai makan dan beristirahat sebentar, barulah Aira pulang bersama Varo dan Vero. Sedangkan Keira, dia tinggal di rumah sakit bergantian menjaga Bimo.
.
.
.
Di kantornya Kevin tengah memeriksa beberapa dokumen yang ada di atas meja. Sesekali dia melirik laptop didepannya seperti sedang mencocokan data pada dokumen dengan yang ada di laptopnya. Saat dirinya tengah fokus pada pekerjaannya, seseorang mengetuk pintu. Sejurus kemudian, Rangga, yang tak lain adalah asistennya masuk keruangannya.
"Ada apa Ngga?"tanya Kevin.
"Kapan?"tanyanya.
"Siang ini"jawab Rangga.
"Dalam rangka apa? bukankah nanti malam saya ada agenda makan malam juga bersamanya?"tanya Kevin.
"Kata beliau ingin membahas hal pribadi tuan"jelas Rangga.
"Baiklah, nanti saya temui"pungkas Kevin. Rangga pun mengangguk dan segera untuk diri.
.
Kevin merentangkan tangannya meregangkan otot otot yang kaku setelah melakukan pekerjaan. Dilihatnya jam yang melingkar dipergelangan tangannya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 siang, dan sebentar lagi waktunya makan siang. Kevin keluar dari ruangannya untuk menemui Rangga.
"Ngga, saya keluar dulu sekalian menemui Satya, dan mungkin saya tidak kembali kekantor"ucap Kevin.
"Baik tuan"jawab Rangga patuh. Kevin berjalan meninggalkan Rangga. Dia juga menghubungi Satya menanyakan keberadaannya. Saat sudah tau, Kevin segera mengendarai mobilnya menuju tempat yang sudah di tentukan.
__ADS_1
Setelah hampir 25 menit Kevin berkendara kini dirinya sudah sampai di sebuah restoran. Dia berjalan memasuki restoran tersebut dan mencari keberadaan teman sekaligus rekan bisnisnya itu.
"Selamat siang pak Satya"ucap Kevin sopan.
"Selamat siang pak Kevin"jawab Satya menerima uluran tangan Kevin.
"Silahkan duduk"ucap Satya. Kevin duduk berhadapan Satya.
"Santai saja Kev, aku hanya ingin membicarakan urusan pribadi"ucap Satya.
"Oke, masalah apa?"tanya Kevin.
"Kamu tau SMA Guna Darma?"tanya Satya.
"Taulah, kenapa emang? apa kamu akan memasukan anak mu sekoalah disana?"tanya Kevin.
"Aku sedang mencari keberadaan anak ku, kamu tau anak ku sudah 13 tahun menghilang, dan selama itu pula, baru kali ini aku kembali menginjakkan kaki di tanah air"ucap Satya.
"Beberapa hari lalu Aida pergi ke Bandung untuk liburan sebelum masuk ke sekolah barunya, dan disana dia melihat seseorang dia kira adalah saudaranya, namun saat aku cari disana dia tidak ada. Aku berusaha mencarinya di Jakarta, orang orang suruhan ku bahkan mencari di setiap sekolah, barangkali bisa menemukan petunjuk"lanjut Satya. Kevin masih diam tak menyela, dia benar benar mendengarkan cerita temannya itu sampai selesai.
"Semua sekolah dengan mudah memberikan data yang aku cari, tapi dari sekian banyaknya sekolah, hanya SMA Guna Darma yang menutup rapat data siswa, bahkan sudah ditawari kerja sama pun mereka masih bungkam"ucap Satya.
"So? kamu mau minta bantuan aku? gitu?"tebak Kevin.
"Ayolah, aku tau mereka semua takut sama kamu"ucap Satya.
"Baiklah, aku bantu, karena aku juga memiliki seorang anak, aku juga pasti akan melakukan apapun asalkan anak aku ketemu"ucap Kevin.
"Thanks bro"ucap Satya.
"Siapa nama anak yang kamu cari?"tanya Kevin.
"Namanya Aira"jawab Satya. Kevin termenung mendengar nama Aira. Memang banyak orang yang memiliki nama yang sama. Namun di SMA Guna Darma setau Kevin hanya ada satu Aira.
"Aira"gumam Kevin.
"Boleh aku lihat foto anak itu?"tanya Kevin.
"Ku nggak ada fotonya yang sekarang, hanya ada foto masa kecilnya"jawab Satya seraya menyerahkan foto yang ada diponselnya.
"Foto Aida yang sudah besar? ada?"tanya Kevin.
"Sebentar"jawab Satya. Pria itu terlihat mengotak atik ponselnya mencari foto sang anak.
__ADS_1
"Ini"ucap Satya mengulurkan ponselnya pada Kevin. Kevin menerima ponsel itu dan bergegas melihatnya.
TBC