
Ikatan batin seorang ibu kepada anaknya sangatlah kuat. Meskipun jarak terbentang jauh seorang ibu bisa merasakan jika terjadi aesuatu dengan sang anak. Seperti halnya bi Rumi. Sejak saat dirinya tiba di kampung halamannya, bi Rumi seperti tidak tenang. Pikiran dan hatinya hanya di liputi oleh anaknya saja. Aira. Meskipun bukan ibu kandungnya namun sejak kecil dirinya lah yang mengasuh Aira, menyayangi Aira seperti menyayangi dirinya sendiri.
Hari ini baru hari ketiga bi Rumi dikampung halaman, namun sepertinya dia akan kembali ke ibu kota. Bi Rumi benar benar merasa ada sesuatu terjadi pada Aira.
"Budhe, lha kenapa to kok buru buru balik?"tanya keponakan bi Rumi dengan logat khas bahasa jawa.
"Iya nduk, budhe ndak bisa lama lama libur"kilah bi Rumi.
"Walah, yowes lah Budhe, ati ati di jalan"ucapnya.
"Titip salam buat Aira"lanjutnya.
"Iyo nduk"jawab bi Rumi.
"Yowes, Budhe masuk dulu, itu bis e wes arep berangkat"pamit bi Rumi.
"Nggih Budhe, ati ati"jawabnya sambil menyalami tangan bi Rumi. Bi Rumi masuk kedalam bis tujuan ibukota dengan membawa tas berisikan pakaian. Bi Rumi sengaja memilih berangkat pagi hari karena memang perjalanan dari desa menuju ibu kota yang memakan waktu sekitar 9 jam. Jadi sampai ibu kota sekitar sore atau bahka malam hari.
.
.
.
Setelah sarapan bersama dengan keluarganya Aira kembali kekamarnya berniat memeriksa ponselnya. Siapa tau ayang beb nelfon, pikir Aira.
Di kamar Aira merebahkan tubuhnya sambil memainkan ponselnya. Membalas pesan Varo sambil sesekali senyum senyum tak jelas. Ahh, bahagianya chatan sama pacar. Namun saat Aira fokus pada ponselnya, seseorang mengetuk pintu kamarnya. Dan muncullah Aida.
__ADS_1
"Lo sibuk?"tanya Aida.
"Nggak, kanapa?"tanya Aira balik.
"Main yuk"ajak Aida.
"Kemana?"tanya Aira.
"Emm, gimana kalau kerumah om Kevin aja"usul Aida. Aira terdiam sejenak. Ada apa Aida mengajaknya kerumah majikannya itu, pikir Aira.
"Ehh Ra, lo kan udah lama nih tinggal disana"ucap Aida.
"Menurut lo, Varo tuh orangnya kayak gimana sihh?"tanya Aida penasaran. Jantung Aira berdetak kencang saat Aida menanyakan perihal kekasihnya itu. Apa mungkin Aida menyukai Varo?tanya Aira dalam hati.
"Heyy, Ra ditanya malam bengong"kesal Aida.
"Kayaknya gue lebih tertarik sama Varo dehh"ucap Aida gamblang.
"Menurut lo gimana?"tanya Aida. Aira terdiam. Dia benar benar tak tau harus menjawab apa.
Saat pertemuan makan malam waktu itu memang mereka bukan membahas masalah pekerjaan. Niat Kevin dan Satya adalah ingin merekatkan hubungan anak anak mereka. Awalnya Kevin ingin mengenalkan Varo pada Aida. Tapi karena Varo sudah pacaran dengan Aira, jadilah Vero yang dikenalkan. Jika tidak dengan Varo, Vero pun tak apalah, pikir Kevin.
"Airaa, kok malah ngalamun sihh"ucap Aida cemberut.
"Hahh, lo nanya apa tadi?"tanya Aira.
"Ihss, nyebelin banget sihh"kesal Aida.
__ADS_1
"Udah ahh ayo siap siap, kita kerumah om Kevin"lanjut Aida sambil berlalu keluar dari kamar Aira. Dengan hati dan pikiran yang sesak, Aira bersiap menuruti keinginan saudaranya itu.
.
Setelah beberapa saat bersiap, kini Aira dan Aida sudah perjalanan kerumah Varo. Mereka duduk di belakang karena memang menggunakan sopir. Sebenarnya Aida bisa menyetir, namun karena Satya tak mengijinkannya menggunakam mobil untuk sementara waktu, alhasil Aida hanya bisa menurut.
Disepanjang perjalanan Aira lebih banyak diam. Dia hanya berbicara saat Aida bertanya sesuatu. Sebenarnya banyak yang Aida tanyakan, namun semua pertayaan itu tak lepas dari sosok seorang Varo. Dan hal itu membuat Aira enggan untuk menjawabnya.
Setelah hampir 25 menit tibalah mereka di rumah Varo. Dengan semangat Aida menarik tangan Aira saat turun dari mobil. Dan lagi lagi Aira hanya bisa pasrah. Sampai disana mereka disambut oleh Keira dan langsung diajak masuk.
"Tumben kalian kesini?"tanya Keira penasaran.
"Iya tante, sengaja pengen main aja"ucap Aida.
"Buk, ibuk belum balik ya?"tanya Aira.
"Belum Ra, bi Rumi belum kembali"jawab Keira. Aira hanya manggut manggut paham sebelum akhirnya dirinya pamit untuk kekamarnya mengambil barang. Dan diruang tamu kini tinggallah Aida dan Keira saja.
Aida terlihat celingak celinguk seperti mencari sesuatu.
"Aida, kamu nyari siapa nak?"tanya Keira.
"Hehe, Varonya kemanaya tante? kok nggak kelihatan?"tanya Aida. Keira mengerutkan dahinya. Untuk apa Aida menanyakan Varo? bukankah seharusnya Vero yang dia tanyakan?pikir Keira.
"Varo baru keluar kerumah omnya, paling bentar lagi pulang"jawab Keira. Aida megangguk tanda paham. Dan dirinya tak henti hentinya menanyakan tentang Varo. Mulai dari hobby hingga makanan kesukaan Varo semua ditanyakan. Tentu saja Keira menjawabnya dengan sedikit penasaran.
TBC
__ADS_1