
Detak jantung Aira semakin tak karuan tatkala jalanan yang dirinya juga Vero lewati adalah jalanan sepi. Bahkan tak banyak bangunan di sepanjang jalan yang mereka lewati kini. Hanya ada pepohonan dan beberapa bangunan yang sudah tak terpakai. Aira semakin di buat takut. Apa yang terjadi dengan Aida dan Varo? kenapa mobil mereka berhenti ditempat seperti ini? pikir Aira.
Banyak pikiran pikiran negatif bermunculan di otak Aira. Namun dirinya seolah menepis semua pikiran buruk itu. Aida saudaranya, tak mungkin berbuat nekad hanya untuk seorang laki laki. Begitulah yang ada dipikiran Aira. Tak sadarkah dia dengan apa yang dilakukan Aida selama ini juga hal nekad. Ahh, sudahlah.
Vero menghentikan laju motornya tak jauh dari sebuah mobil yang berhenti. Dapat dipastikan itu adalah mobil Varo. Vero mengajak Aira turun dan bersembunyi dibalik pohon besar. Mereka berdua tampak seperti penguntit.
"Ngapain mereka berhenti dijalan begini? apa ban mobilnya kempes?"tanya Aira polos.
"Kita liat aja dulu"jawab Vero.
Cukup lama mereka mengintai mobil Varo dari balik pohon. Namun tak ada tanda tanda si pengendara akan turun. Alhasil Vero mengeluarkan ponselnya. Dia mengotak atik ponselnya dengan serius. Aira tak tau apa yang Vero lakukan, karena dirinya hanya fokus pada mobil Varo.
"Dasar B*jingan"umpat Vero setelah beberapa saat mengamati ponselnya.
"Ver_"belum sempat Aira bicara, Vero lebih dulu berjalan meninggalkannya. Lebih tepatnya menghampiri mobil Varo. Aira hanya berlari mengikuti langlah kaki Vero yang tergesa gesa dengan tangan mengepal erat. Sepertinya Vero marah, pikir Aira.
Sampai di samping mobil Varo, Vero segera mengetuk kaca mobilnya.
"Keluar lo b*ngsat"teriak Vero emosi. Tak butuh waktu lama Varo keluar dari mobilnya dan ikuti oleh Aida.
"Lo_"
Bugh
Belum selesai Varo berucap, sebuah pukulan dilayangkan oleh Vero. Vero menghajar Varo tanpa ampun. Sedangkan Varo yang tak siap pun langsung tersungkur dijalan. Dengan sigap Aida membantu Varo berdiri.
"Kamu nggak apa apa"ucap Aida khawatir.
"Aku nggak apa apa Ai"jawab Varo yang belum tau bahwa sebenarnya itu adalah Aida. Aira yang melihat itu merasakan sesak di hatinya. Aira tak tau atas dasar apa Vero menghajar Varo seperti itu.
"Lo apa apaan main hajar aja?"tanya Varo baik baik tak mau terpancing emosi.
"Gue nggak bakal hajar lo kalau lo nggak bodoh"teriak Vero.
"Apa maksud lo?"tanya Varo bingung. Vero tersenyum sinis. Dia berjalan mendekati Aira yang diam mematung. Dirangkulnya bahu Aira seakan memberi kekuatan pada gadis cantik itu.
"Gue tanya sama lo, lo pilih dia, atau dia?"tanya Vero sambil menunjuk Aira dan Aida bergantian.
__ADS_1
"Maksud lo apa? ya jelas gue pilih Aira lah"jawab Varo menunjuk Aida yang ia kira Aira.
"Lo yakin itu Aira?"tanya Vero tersenyum mengejek.
"Setelah c*uman lo tadi masih bisa yakin kalau dia Aira"ucap Vero lagi. Aira langsung mengangkat kepalanya menatap Varo. Dirinya tak menyangka bahwa pacar dan saudara kembarnya sampai melakukan hal seperti itu. Ingin rasanya Aira menghampiri Varo dan memakinya, namun kakinya seolah tak berdaya untuk berjalan. Bahkan aira mata yang ia tahan sejak tadi pun sudah menetes.
Dahi Varo berkerut mendengar pertanyaan Vero. Dirinya langsung mengamati dua gadis dengan paras sama itu. Varo mengamati gadis yang berdiri disampingnya, wajahnya memang Aira, namun dari gaya berpakaian hingga sikapnya sedikit berubah. Lalu Varo berganti menatap gadis yang sejak tadi menunduk dalam rangkulan Vero. Gadis berwajah Aira dengan gaya berpakaian sama persis seperti Airanya dulu.
Deg
Jantung Varo berdetak lebih cepat. Apa apaan ini? apa yang sebenarnya terjadi? banyak pikiran pikiran tak menentu di otak Varo. Dirinya seakan merasa bahwa yang satu bulan ini menemaninya bukanlah Aira. Varo menatap gadis disampingnya yang terlihat menunduk gugup. Menelisik sesuatu yang terdapat pada gadis cantik itu. Varo menggelengkan kepalanya melihat gadis itu. Dan hal itu berhasil membuat sang gadis semakin gugup ketakutan.
Melihat itu Vero semakin tersenyum mengejek. Benar benar bodoh saudara kembarnya itu.
"So? masih mau pilih dia?"tanya Vero mengejek.
.
.
.
Kini atensi Varo beralih pada gadis yang duduk di sampingnya. Aira, sang kekasih duduk dengan mata terpejam sangat rapat. Bahkan tangannya menggenggam erat seatbelt yang ia kenakan. Menyadari Aira ketakutan, Varo mengurangi laju mobilnya. Dirinya juga menepikan mobilnya di tempat yang sepi.
"Ai"panggil Varo lembut. Mendengar suara lembut Varo, perlahan Aira membuka matanya. Pertama kali mata itu terbuka, dia dapat meluhat wajah tampan sang kekasih. Namun di balik wajah tampan itu, Aira dapat melihat kilatan amarah juga kekecewaan.
"Maaf"ucap Aira lirih. Varo memejamkan matanya sesaat. Dia juga menghela nafas berat sebelum akhirnya dia menarik Aira kedalam pelukannya.
"Maaf, maaf, aku yang minta maaf Ai, aku yang bodoh, aku bodoh nggak bisa bedain kamu dan Aida, maaf"ucap Varo menahan sesak.
Sedangkan Aira, dia menangis terisak di pelukan Varo. Dia juga merasa bersalah pada Varo karena sudah membohonginya.
"Aku juga minta maaf, maaf udah bohong selama ini"ucap Aira masih terisak. Varo melonggarkan pelukannya agar bisa melihat wajah Aira. Di usapnya air mata Aira yang mengalir dipipi.
"Aku tau, kamu nggak bakal lakuin hal kayak gini kalau bukan tanpa alasan, dan aku tau alasannya"ucap Varo. Dia mengangkat tangan kanan Aira dan di genggamnya erat.
"Jangan lakuin hal itu lagi apapun alasannya"lanjut Varo.
__ADS_1
"Maaf"hanya itu Aira katakan.
"Kamu nggak salah, aku yang bodoh nggak bisa bedain kalian, dan bodohnya lagi_"ucap Varo terjeda.
"Dengan bodohnya aku c*um Aida"lanjut Varo menunduk.
"Maafin aku Ai, kamu boleh tampar aku Ai, tampar Ai"ucap Varo terisak sambil menatap Aira tajam. Benar saja, tangan Aira terangkat di udara. Varo memejamkan matanya bersiap menerima tamparan Aira. Namun sedetik kemudian
Cup
Varo membuka matanya saat merasakan sebuah bibir mendarat tepat di bibirnya. Bola mata Varo melebar seketika. Dia merasakan bibir Aira yang menempel di bibirnya. Tidak ******* ataupun menyesap. Namun bibir itu menempel cukup lama. Dia tak menyangka jika Aira akan melakukan hal ini.
Aira yang merasa cukup menjauhkan wajahnya dari Varo. Entah keberanian darimana hingga dia nekad menc*um Varo. Yang pasti dia tak tega jika harus menampar kekasihnya itu. Aira memalingkan wajahnya malu. Varo yang melihat wajah malu Aira malah mendekatkan wajahnya dan kembali menc*um bibir Aira lembut.
.
.
.
Berbeda dengan keadaan panas di dalam mobil, di sebuah taman Vero dan Aida duduk berdampingan. Vero membiarkan Aida menangis terlebih dahulu. Dapat dia rasakan betapa malu sekaligus kecewanya Aida. Aida sendiri pun merasa malu pada dirinya. Dia melakukan semua itu karena obsesi semata. Bahkan dia tak memikirkan apa yang akan terjadi jika orang tuanya tau.
Setelah cukup puas menangis, Aida mengusap sisa air matanya. Dia menoleh kesamping dimana Vero duduk dengan setia menemaninya.
"Makasih udah nemenin gue"ucap Aida.
"Nggak masalah, udah tugas gue"jawab Vero santai. Aida tersenyum sekilas.
"Maaf, gue udah nyakitin saudara lo"ucap Aida menunduk.
"Bukan ke gue minta maafnya, tapi ke Varo"ucap Vero. Vero menghela nafasnya pelan.
"Gue udah pernah bilang sama lo, Varo nggak bakal ngelirik lo, tapi kenapa lo nekad?"tanya Vero.
"Semua karena keegoisan gue"ucap Aida.
"Egois karena gue pengen dapetin Varo, gue egois karena gue merasa iri, kenapa sedari kecil Aira selalu beruntung? Aira selalu dapetin apa yang dia mau, bahkan Aira terlahir sehat. Nggak kayak gue yang lahir dengan kondisi penyakitan. Dan sekarang dia saat gue udah sehat, Aira juga dapetin cowok yang gue mau"lanjut Aida sambil meneteskan air matanya. Vero membawa Aida kedalam pelukannya. Dia membiarkan gadis cantik itu menangis.
__ADS_1
"Keluarin semuanya, nggak usah di tahan, gue siap dengerin semuanya"ucap Vero sambil mengusap punggung Aida. Aida membalas pelukan Vero erat. Dia menumpahkan semua tangisnya dalam pelukan Vero. Dia benar benar merasa nyaman didalam pelukan Vero.
TBC