Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 9


__ADS_3

Pagi buta selepas adzan subuh, Mila melihat cairan ketubannya sudah merembes. keluar lendir bercampur darah. Mengerang merasakan sakit yang tak terperi. Punggung rasanya sudah panas luar biasa. Dengan segenap tenaga menahan semua itu, Mila segera mengetuk kamar Reva.


“Rev, buka pintunya."


Tak perlu menunggu lama, Reva segera bangun lalu membuka pintu.


“Rev, gue kayaknya mau lahiran deh,” rintih Mila, napasnya terengah sembari meringis kesakitan memegangi perut.


Seketika mata Reva yang tadinya ngantuk langsung membelalak mendengar sahabatnya mau lahiran. Saat melihat ke kaki, air ketuban memang sudah membasahi kaki.


Tanpa pikir panjang, Reva langsung menuntun sahabatnya ke mobil. Berjalan langkah demi langkah. Meski tak mungkin berjalan cepat, akhirnya sampai juga di kendaraannya. Begitu Mila sudah masuk mobil, Reva cepat-cepat melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat. Begitu sampai di rumah sakit, Mila segera mendapat penanganan dokter.


Rasa cemas juga khawatir menggelayuti pikiran Reva. Di kursi tunggu, ia duduk dengan gelisah. Berharap agar proses persalinan sahabatnya lancar dan semuanya selamat.


Sejam kemudian, dokter yang menangani Mila keluar ruang. Melihat dokter menghampiri, Reva pun segera menyambut dokter wanita paruh baya itu. Berharap ada kabar baik yang terjadi dari proses persalinan sahabatnya.


"Maaf, kalau boleh tahu mana suami pasien?”


Mendengar dokter mencari suami Mila, Reva tak mampu menjawab. Bingung harus jawab apa dia. Hanya bisa menatap nanar dokter di hadapannya.


“Mba, dengar kata saya? Dimana suami pasien?”


Ucapan dokter yang kedua kalinya itu, kemudian membuyarkan tatapan kosong Reva. Tak ada pilihan lain, untuk menjawab pertanyaan dokter, dia terpaksa harus berbohong. Karena gadis itu tak mau orang lain tahu hal yang sebenarnya terjadi.


“Ja-jadi begini, Dok. Suami temen saya ada di luar kota. Katanya, ada pekerjaan yang nggak bisa ditinggal. Saya disuruh suaminya untuk menemani persalinan temen saya itu.”


Apa boleh buat, Reva terpaksa mengungkapkan alasan itu. Untungnya dokter itu pun percaya.


“Ka-kalo boleh tahu kenapa ya, Dok?”


Kemudian, pertanyaan Reva itu membuat dokter memurungkan wajah. Kelihatannya ada hal buruk yang akan disampaikan. Dokter itu kemudian mendekati Reva, hendak memberitahu sesuatu.

__ADS_1


“Jadi begini, Mbak. Dari hasil persalinan tadi sebenarnya ada kabar baik tapi ada juga kabar buruk. Kabar baiknya proses persalinan berjalan lancar, ibu dan dua bayinya selamat.”


“Syukurlah.” Wajah Reva berbinar mendengar kabar itu. Sebelumnya dia memang sudah tahu dari hasil USG bahwa bayi Mila akan lahir kembar.


Tapi sebentar, mengapa tadi dokter mengatakan ada kabar buruknya juga? Sebenarnya apa hal buruk itu? Bukannya dokter mengatakan kalau kedua bayi Mila sehat.


“Jujur saya senang kalau sahabat saya dan bayinya baik-baik saja. Tapi, Dok. Ada yang membuat saya kurang lega. Karena tadi dokter mengatakan ada kabar buruknya juga. Apa kabar buruk itu, Dok?”


Dokter pun menghela napas berat. Sebenarnya berat bagi beliau mengatakan ini. Tertunduk sesaat. Menatap Reva lekat. Matanya menyiratkan keprihatinan. Perlahan beliau pun menyampaikan kabar buruk itu.


“Kabar buruknya adalah kalau salah satu anak sahabat Anda akan mengalami kesulitan dalam berbicara.”


Pernyataan dokter itu membuat Reva terperanjat. Mendadak sekujur tubuhnya lemas. Serasa tak punyai tenaga. Hingga tubuhnya terhempas ke kursi. Beberapa saat ia terdiam. Betapa tidak, sebagai sahabat tentu ikut prihatin atas nasib malang yang dialami Mila.


Dokter itu menghampiri lagi. Ditepuknya bahu Reva seraya memberi semangat.


“Sabar. Ini adalah takdir Tuhan. Saya sudah berusaha semaksimal mungkin,” ucap dokter lalu kembali ke ruang persalinan.


Dari balik pintu, Reva mengulas senyum pada sahabatnya yang masih terbaring lemah pasca-lahiran. Wajah Mila mulai terlihat cerah. Dia terlihat agak tenang. Tak bisa dipungkiri, bagi setiap wanita melahirkan adalah hal tersulit dalam hidupnya. Karena harus bertaruh nyawa demi mengeluarkan seorang anak dari rahimnya. Apalagi bila seorang perempuan harus melahirkan anak kembar, pasti rasa sakitnya menjadi dua kali lipat.


“Gimana keadaanmu sekarang?” tanya Reva. Di samping Mila berbaring, tangannya membelai rambut sahabatnya.


Kepala Mila mengangguk lalu perlahan menarik dua sudut mulutnya. Berusaha tersenyum meski masih merasakan sakit di perutnya.


“Makasih ya elu udah bantuin gue. Gue banyak berutang jasa sama elu, Rev.” Jemari Mila menepuk tangan Reva yang sedang menyampir di lengannya. Bulir bening keluar perlahan dari sudut matanya. Terharu atas semua kebaikan Reva selama ini. Bahkan, biaya semua biaya persalinan ini, Reva yang tanggung.


“Yaelah, Mil. Nggak usah elu pikirin. Asal elu dan anak elu selamet, gue ikut seneng,” jawab Reva. Netranya berkaca-kaca. Inilah bukti nyata sebuah kesetiakawanan.


Suasana yang begitu mengharukan ini, juga dirasakan oleh salah satu bayi Mila yang sekarang ikut menangis. Mendengar tangis bayinya, Mila langsung menggeser pandangannya ke inkubator di sampingnya. Dan ketika sadar hanya satu bayi saja yang ada di ruang itu, timbullah tanya di benak Mila.


“Rev, kenapa di sini bayi gue cuma satu? Bayi gue 'kan kembar.”

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Mila terdiam beberapa saat. Pikirannya berselimut bimbang. Ditambah suara tangis bayi yang membuatnya makin kalut. Harus bagaimana ia menjelaskan hal yang sebenarnya terjadi pada bayi Mila yang satu lagi. Kalau sekarang juga dia katakan yang sesungguhnya, sahabatnya itu pasti tidak akan menerima kenyataannya.


“Rev, kenapa elu diam?” cecar Mila, memaksa Reva menjawab yang tentu membuatnya makin bingung. Sembari mengangkat sebentar bayi itu untuk diberikan pada Mila agar disusui lebih dulu, ini bisa dijadikannya untuk mengulur waktu. Ketika bayi kembali pulas, barulah Reva akan mengatakannya.


“Rev, jawab, Rev! Tolong katakan gimana keadaan anak gue yang satu lagi?”


“Tenang, Mil. Gue akan ngomong yang sebenernya setelah bayi elu disusuin. Gue nggak tega ngomong saat bayi elu lagi butuh susu begini.”


Setelah disusuin beberapa lama, bayi itu kembali pulas. Diserahkannya kembali bayi itu pada Reva. Begitu bayi itu dikembalikan ke inkubator, Mila segera menagih jawaban atas pertanyaannya tadi.


“Ayo, Rev. Gue mohon elu jujur. Apa yang sebenernya terjadi sama bayi gue yang satu lagi?”


Mendadak lidah Reva terasa keluh saat dia harus mengatakan yang sejujurnya. Bibirnya serasa kaku untuk berucap. Dia takut kondisi kejiwaan sahabatnya terguncang. Namun, mau tak mau ia harus mengatakannnya kalau kondisi bayinya, saat ini sedang mendapat perawatan intensif di ruang NICU.


Tapi, sebelum Reva mengatakan, ia membuat semacam janji, agar Mila siap mendengarkan kabar tak mengenakan ini. Tak boleh meluapkan emosi berlebihan. Akhirnya, janji itu pun disetujui Mila.


“Baiklah, Mil. Memang gue harus jujur pada kondisi bayi elu yang satu lagi.” Hembusan napas pelan tampak di dada Reva yang mengempis setelah ia coba tarik napas dalam-dalam. “Jadi gini, Mil. Kemarin dokter bilang ke gue kalo anak elu sedang dirawat di ruang NICU sebab anak elu itu mengalami ....”


Perkataan Reva terhenti. Rasanya masih belum tega mengatakan. Namun, perkataan yang terhenti itu membuat Mila makin mendesaknya.


“Mengalami apa, Rev. Ada apa dengan anak gue? Ayo cepet ngomong, Rev.” Suara Mila yang makin meninggi dan tangannya yang mengguncang tubuh Reva, makin mendesaknya untuk melanjutkan ucapan.


Akhirnya, desakan itu membuat Reva kembali melanjutkan ucapannya. Dengan nada gemetar dan menunduk, sebenarnya ia tak kuasa untuk melanjutkan ucapannya.


“Mengalami ... mmm ... mengalami gangguan berbicara, Mil.”


Dan benar perkiraan Reva, saat ucapan selanjutnya itu terucap, Mila langsung syok.


“Apa gangguan berbicara? Maksud elu anak gue bakalan gagu gitu?”


Reva mengangguk lesu dan terus menunduk. Lantas, sahabatnya itu jadi tak terima begitu tahu kenyataan ini. Berteriak histeris. Mengamuk. Melempar apa saja di dekatnya. Guling, selimut semua ia lemparkan ke arah anaknya yang tengah tidur pulas hingga terbangun dan menangis lagi. Melihat kondisi Mila yang begitu gelap mata itu, Reva menjauh dan bergegas memanggil perawat. Keluar menyelamatkan anak Mila.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2