
Asap kopi mengepul dari secangkir teh di atas meja. Pak Saka membentang koran melihat perkembangan bisnis saat ini. Sebagai pengusaha, beliau tak mau melewatkan berita terbaru yang berkaitan dengan dunia bisnis. Agar bersama sang istri, beliau dapat menentukan arah perusahaan selanjutnya.
Lagi asyik-asyiknya baca koran, perhatian beliau kemudian teralihkan pada kedatangan istri yang duduk di sampingnya. Sepintas saja ekor matanya melirik lalu kembali membaca artikel lagi.
“Kau membaca koran dan setiap hari memantau perkembangan bisnis. Apa kau tak ingin memantau putrimu juga, Yah?”
Mendengar sindiran yang begitu halus itu, sontak membuat Pak Saka menutup korannya. Memutar badan dan menatap tajam istri. Sekejap saja rasa panas hatinya melonjak.
“Apa kau kata, Bu. Aku gerah disindir kau terus. Asal ibu tahu, sampai kapanpun aku nggak mau melihat wajah anak pembangkang itu lagi,” tegas Pak Saka. Dengan teramat jengkel, beliau melempar telunjuknya ke arah lain.
“Yah, kau ini adalah Ayahnya. Ingat, Yah. Seburuk apapun Mila, dia tetap darah dagingmu. Apa kau tak mau memaafkan putrimu. Lagian peristiwa itu ‘kan sudah lama,” kata Ibu Ranita mencoba untuk menghancurkan kerasnya hati suami.
“Asal Ibu tahu. Tidak ada yang lama diingatan saya. Ingatan itu masih baru. Apa Ibu lupa saat anak itu tidak menurut peringatanku malah pergi dengan laki-laki berengsek itu. Kalau sekarang Mila menderita itu bukan urusan kita. Itu salah dia sendiri. Ibu ‘kan tahu, Ayah ini tipe orang yang tidak mudah melupakan kesalahan orang lain.”
“Sekalipun itu putrimu?” tanya Ibu Ranita menimpali perkataan suami. Sekali lagi pertanyaan itu membuat suaminya berang. Marahnya semakin berapi-api.
“Ibu kalau mau mengurus anak itu silahkan. Aku tidak akan mengeluarkan sepeserpun biaya untuk anak itu.”
Dilemparkannya dengan kasar koran itu ke atas meja. Tak mau berdebat lagi dengan istri, Pak Saka meninggalkannya begitu saja.
Melihat sikap suaminya itu, Ibu Ranita langsung bangkit dari duduknya. Menggelengkan kepalanya sembari memijat kening. Sikap suami yang keukeuh tak peduli pada nasib putrinya membuat kepala wanita itu terasa pening. Rasa iba suami pada putrinya sendiri tak bisa diharapkan lagi.
...*****...
Setelah dua minggu terbaring lemah di ICU, kini Mila dipindahkan ke ruang kelas. Hari berganti hari semenjak diberitahukan Reva bahwa Mila masuk ICU, Ibu Ranita dengan sabar mendampingi Mila. Mengurus semua kebutuhan putrinya itu.
__ADS_1
Untuk masalah Nina dan Nani, beliau sengaja meminta tolong pada orang kepercayaannya untuk membawa kedua anak kembar itu ke apartemen. Mereka diasuh oleh baby sitter terbaik. Semua itu beliau lakukan karena tak mau kalau cucunya terlantar.
“Bagaimana keadaan Nina dan Nani, Bu?” tanya Mila matanya mengerjap bangun dari tidurnya. Menyadari kedatangan sang ibu. Kepalanya menoleh pada orang tuanya itu yang sedang duduk di samping tempatnya berbaring.
“Kau tak usah khawatir. Mereka baik-baik saja. Ibu sudah menyewa baby sitter terbaik untuk mengasuh mereka,” jawab Ibu Ranita. Beliau lantas berdiri dan mendekat ke samping. Membelai lembut rambut putri kesayangannya itu. Menghibur. Karena beliau melihat kalau Mila menangis.
“Kalau begitu syukurlah. Jujur semenjak kecelakaan menimpaku, hati ini terganjal kesalahan yang amat banyak pada dua anakku itu,” aku Mila. Bulir matanya perlahan keluar lalu mengalir ke bawah.
“Kesalahan apa, Nak? Bukankah kau telah membesarkan mereka dengan baik?”
“Rasa bersalahku bukan hal itu, Bu. Tapi rasa bersalahku karena aku sering menyiksa mereka selama ini.” Tangis Mila semakin menjadi ketika mengucapkan ini.
“Apa kau bilang? menyiksa mereka, Nak?” Ibu Ranita tercengang. Sungguh tak habis pikir pada pengakuan putrinya. Tak menyangka di balik wajah ayu putrinya bisa tega berbuat kejam pada anaknya sendiri. Lalu siksaan dalam bentuk apakah yang selama ini dia lakukan. “Mengapa kau bisa-bisanya menyiksa putrimu, Nak?”
“Aku kecewa, Bu. Aku kecewa dengan Nani yang lahir tak sempurna,” jawab Mila. “Tapi aku sekarang sadar. Kalau kecelakaan ini adalah salah satu akibat dari kejahatanku selama ini pada mereka.”
“Mendengar pengakuanmu tadi, Ibu berharap kamu bisa memperbaiki dirimu. Kita sebagai manusia tak luput dari kesalahan, baik pada anakmu dan juga sahabatmu sendiri,” sindir Ibu Ranita. Bola matanya melirik sinis sembari menegakkan punggungnya. Tangan dilipat ke depan dada.
Deg. Sahabat sendiri. Apa Maksud ibu mengatakan kesalahan pada sahabat sendiri. Mungkinkah yang dimaksud ibu itu Reva?
“Maksudnya, Bu?” tanya Mila ingin lebih jelas maksud dari sindiran ibunya. Ia lalu sejenak menghentikan tangisnya. Mengerutkan kening. Memandangi Ibunya, nampak matanya berkilat-kilat.
“Coba ceritakan pada Ibu, hubungan kamu dengan suami sahabatmu?”
Pertanyaan ibunya membuat Mila menelan ludah. Benar. Ternyata ibu sudah mengetahui tentang perselingkuhan itu. Air mata yang dia keluarkan sekarang berganti menjadi keringat dingin yang mendadak keluar di sekujur pori-pori tubuhnya. Perasaannya menjadi tegang sampai bicaranya pun tergagap.
__ADS_1
“Ma ... ma ... maksud Ibu?”
“Ibu sudah tahu perbuatanmu, Nak. Kemarin Reva sudah bercerita banyak pada Ibu. Mengapa kau lakukan itu, Nak? Sedang Ibu tak pernah mengajarkanmu begitu.”
Mila tertunduk penuh sesal. Sekarang barulah merasakan bahwa selama ini dia telah melakukan dosa yang teramat besar. Orang-orang yang justru peduli dengan dirinya malah dengan mudah ia hancurkan.
“Ya, Bu. Mila akui Mila salah,” jawabnya lirih sembari memejamkan mata. “Tapi Mila sudah minta maaf pada Reva dan mengakui semua kesalahan Mila.”
Nafas Ibu Ranita menghela berat. Benar saja Reva tak mau lagi menemani Mila. Siapa perempuan yang tak hancur hatinya melihat suaminya diselingkuhi sahabat sendiri?
Tapi walaupun begitu Reva tak menelantarkan Mila begitu saja. Meski sahabatnya sudah tega berkhianat, wanita itu tak tega meninggalkan Mila selama koma. Rasa pada anak itu sebenarnya begitu besar pada Mila. Namun, putrinya tak mampu merasakan sampai ke situ.
“Nak, dengarkan Ibu. Akibat perbuatanmu itu, kau sungguh telah kehilangan satu-satunya teman yang begitu peduli denganmu, Nak.”
Mila mengangguk lemah beberapa kali. Di matanya yang terpejam, bulir bening menerobos ke celah sudut matanya.
“Dan apakah kau sudah tahu, karena perbuatanmu yang kotor itu membuat janinmu keguguran? Kata dokter rahimmu akan diangkat dua hari lagi.”
“Apa kata Ibu? rahimku akan diangkat?”
Ibu Ranita mengangguk sambil menyeka air mata dengan telunjuknya. Tapi Mila berpasrah. Sekarang dia tak bisa mengelak lagi. Dengan ini, Tuhan telah memaksanya untuk tidak membangkang.
“Baiklah, Bu. Aku terima resiko ini. Mungkin inilah balasan yang harus aku terima karena perbuatan burukku selama ini.”
Suasana di kamar inap yang ditempati Mila berubah menjadi senyap dan penuh haru. Hanya isak tangis terdengar di antara keduanya.
__ADS_1
Bersambung ....