
Sejam setelah salat subuh suasana apartemen masih lengang. Hanya beberapa orang berlalu lalang sekedar mencari sarapan, berolahraga, dan berangkat kerja.
Suasana sepi apartemen ini sengaja dimanfaatkan Pak Saka yang pagi-pagi mendatangi kembali apartemen yang ditinggali Mila. Beliau datang bersama seorang pria berbadan besar. Mereka menaiki lift menuju bagian apartemen dimana Mila berada. Sambil menunggu lift mengantarkannya ke lantai tujuan, beliau menghantamkan beberapa kali kepalan tangannya ke telapak tangan sendiri. Beliau geram melihat Mila tinggal di apartemen peninggalan istrinya.
Tak perlu waktu lama lift pun berhenti di lantai 10. Mereka lalu keluar, melangkah dengan cepat. Hingga akhirnya mereka pun sampai di depan apartemen. Dengan segera pria tua itu menekan bel.
Bel yang berbunyi pagi-pagi itu kemudian membuat Mila terbangun. Pandangannya yang masih kabur melihat anak-anaknya masih pulas. Syukurlah mereka tidak ikut terbangun karena bunyi bel itu.
Langsung saja Mila mengucir rambut panjangnya. Beranjak dari tempat tidur sebab orang yang berada di luar membunyikan bel lagi untuk yang ketiga kali. Sepertinya tamu yang datang itu orang yang tak sabaran hingga membuat Mila jengkel. Sembari membuka pintu, ia bersiap untuk memaki tamu yang datang itu.
“Elu siapa sih kok nggak sabaran banget!”
Akan tetapi saat pintu terbuka, Mila terhentak melihat kedatangan ayahnya. Nadanya yang tadi meninggi karena jengkel seketika turun.
“Siapa yang nggak sabaran? Elu ngatain gue nggak sabaran?” Pak Saka balas memaki. Berkacak pinggang dan matanya melotot.
“Ayah kenapa tahu Mila ada di sini?” tanya Mila memasang wajah keheranan.
“Ya jelas tahulah. Asal kau tahu, aku hafal di luar kepala semua kekayaan peninggalan ibumu. Termasuk apartemen ini.”
Mendengar perkataan itu, mendadak perasaan Mila jadi tak enak. Pasti ada maksud tertentu kedatangan ayah ke sini. Dan maksud itu tentunya tak menguntungkan bagi Mila. Apalagi dia datang bersama algojo.
“Ayah masuklah apakah ada yang perlu kita bicarakan?” Mila berusaha menguasai suasana. Agar ayahnya mau berbicara baik-baik. Dia tak ingin hal yang tidak diinginkannya terjadi.
“Akh sudah jangan basa-basi. Aku datang ke sini hendak menyuruhmu angkat kaki dari apartemen ini.”
Angkat kaki? Itulah kalimat yang sudah Mila duga semenjak melihat kedatangan ayahnya di sini.
“Ayah. Ayah tega ya mengusir Mila. Kalau aku pergi dari sini, aku mau tinggal dimana, Yah? Lagi pula ‘kan ini apartemen punya Ibu, Yah.”
__ADS_1
“Gue nggak peduli, elu mau tinggal di kolong jembatan kek, di pinggiran toko kek. Itu bukan urusan gue. Yang penting sekarang juga elu pergi dari tempat ini!”
Telunjuk Pak Saka dengan tegas mengacung ke luar. Matanya terus melotot sangar. Saat pria paruh baya itu mengusirnya, tiba-tiba Nina berkata dari arah belakang. Suara kakeknya yang begitu lantang membuat anak itu terbangun.
“Bu, kenapa kakek menyuruh kita pergi?” Suara kecilnya terdengar begitu miris. Tapi perasaan Pak Saka tak merasakan itu. Rasa bencinya pada kekurangajaran Mila di masa lalu membuat rasa ibanya hilang.
“Ekh, anak kecil cepat kemasi baju-baju kamu. Karena mulai hari ini kalian tidak boleh tinggal di sini. Aku nggak sudi keluarga bengal seperti kalian menghuni apartemen ini. Bikin malu aja!”
Sungguh ucapan yang dilontarkan ayah sangat menghancurkan hati Mila. Mengapa ayah bisa bersikap segitunya? Apakah sudah tidak ada lagi kasih sayang pada anaknya sendiri? Pertanyaan itu sering terlintas di benak Mila setiap ayah bersikap keterlaluan. Tapi apa daya dirinya tak bisa apa-apa. Apalagi ibu tak ada, rasanya tidak ada seorang pun yang bisa membela dirinya.
“Baiklah Mila akan pergi. Tapi beri Mila waktu sampai besok untuk berkemas,” jawab Mila sembari menelan ludah seraya menahan tangis.
Mendengar pernyataan Mila, ayahnya tersenyum.
“Bagus kalau begitu. Kalau besok elu nggak pergi juga. Gue akan ngusir elu dengan paksa.” Setelah mengancam, Pak Saka dan algojonya lalu meninggalkan Mila begitu saja.
Saat ayahnya sudah jauh pergi, Mila berbalik badan. Mendekati Nina, berjongkok lalu merangkulnya. Ketika saling berpelukan, mereka menangis tersedu-sedu.
...*****...
Malamnya Mila tak bisa memejamkan mata. Dia sangat terpukul dengan pengusiran yang dilakukan ayah. Inilah yang dinamakan dengan sudah jatuh tertimpa tangga pula. Seandainya ada ibu pasti akan menentang perbuatan ayah. Sekarang ibu telah tiada. Hendak menumpang kemana dia dan anak-anaknya. Mau tinggal di rumah Reva juga tak mungkin. Sahabatnya itu tak akan menerimanya kembali meski sudah memaafkan.
Benaknya berpikir, mengapa ayah begitu tega mengusirnya? Sebenarnya kekayaan ayah tak berkurang sedikitpun kalau membiarkan putri dan cucunya tinggal di apartemen ini. Lagipula apartemen ini adalah milik ibu sendiri. Sungguh miris hati Mila mempunyai ayah yang tega mengusirnya.
Tidak ada jalan lain pikirannya benar-benar buntu. Mila tidak punya uang sepeserpun kalau keluar dari apartemen itu. Lihatlah semenjak ibu meninggal baby sitter saja sudah tidak dipekerjakan lagi. Untuk kembali menjadi wanita malam juga tak mungkin, itu sangat membahayakan organ kewanitaannya.
Sampai akhirnya terlintas hal gila di benak Mila. Mumpung anak-anaknya sedang lelap tidur. Sebelum esok tiba, dia dan anak-anaknya harus mengakhiri hidup. Daripada terus-terusan ditimpa masalah lagi dan lagi.
...*****...
__ADS_1
Ketika sudah berhasil membunuh satu per satu anaknya. Ia menangis histeris. Meratapi kekejamannya. Bersimpuh di bawah ranjang untuk beberapa lama.
“Anak-anakku tenanglah kau di alam sana. Sebentar lagi Ibupun akan menyusul kalian.”
Sebuah pisau kini sudah digenggamnya. Dengan langkah lunglai ia menaiki ranjang. Air mukanya lusuh menggambarkan keputus asaannya. Wanita itu kemudian berbaring di antara kedua putrinya yang telah mati. Dengan mata terpejam, tangannya menempelkan mata pisau di urat nadi.
“Anak-anakku, sebentar lagi Ibu akan menyusulmu,” ucap wanita itu merintih. Kemudian tanpa takut lagi, ia mengiris urat nadinya dengan keras.
Darah mengalir deras dari pergelangan tangan. Wanita itu seketika tewas. Sprei kasur yang tadinya berwarna putih sekarang berubah jadi merah darah. Dalam sekejap kamar apartemen yang mereka tinggali, berubah menjadi tempat pembunuhan sekaligus bunuh diri yang tragis.
...*****...
Keesokan harinya setelah kejadian itu, Pak Saka datang kembali bersama dua algojo. Sudah beberapa kali beliau menekan bel. Tapi pintu tak kunjung dibuka. Kemarin bunyi bel yang ketiga, putrinya sudah membuka pintu. Padahal sudah tujuh kali beliau membunyikan bel. Lagipula waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh, mungkinkah Mila dan anak-anaknya belum bangun?
Tidak ada respon dari dalam membuat Pak Saka curiga. Jangan-jangan Mila memang sengaja tidak membukakan pintu karena akan disuruh pergi hari ini. Kalau memang betul begitu, ini tak boleh terjadi.
Saking tak sabarnya, beliau mencoba untuk memutar gagang pintu. Ketika gagang pintu diputar, ternyata tak dikunci. Mila sengaja tak mengunci pintu sebelum bunuh diri agar bapaknya melihat dan dapat merasakan kehilangan putri semata wayangnya.
Pak Saka tercengang dengan pintu yang tak terkunci itu. Pikirnya Mila sungguh ceroboh. Dengan segera beliau pun masuk. Mencari-cari keberadaan Mila, tapi ruang tamu dan ruang tengah nampak lengang. Apakah dia dan anak-anaknya sudah pergi lalu lupa mengunci pintu? Tapi Pak Saka tak yakin, Mila pergi dari apartemen ini karena beliau tahu anaknya itu hidupnya sudah sangat susah.
Untuk menghilangkan rasa penasarannya, beliau mencoba untuk ke kamar. Saat membuka pintu kamar, betapa kagetnya beliau, melihat sprei dan selimut telah basah dengan darah. Melihat keadaan yang mengerikan itu, beliau segera mendekat untuk memeriksa keadaan.
Saat sudah melihat lebih dekat, beliau makin terperanjat melihat darah yang mengalir di pergelangan tangan putrinya.
“Bos, dua anak ini juga tak bernyawa,” kata kedua algojo setelah mendekatkan tangannya ke lubang hidung Nina dan Nani.
“Jadi mereka semua mati." Mendadak kedua kaki Pak Saka lemas dan akhirnya jatuh ke lantai. Beliau menangis sejadi-jadinya. Menyesal atas perbuatannya. Pasti karena pengusiran ini menjadikan putri dan cucunya bunuh diri.
“Bos apa yang harus kita lakukan?” tanya algojo saking bingungnya. Melihat orang mati mengenaskan tentunya membuat takut siapapun yang melihatnya, sekalipun dia seorang algojo.
__ADS_1
“Cepat telepon polisi!” perintah Pak Saka di tengah ratapan tangisnya. Setelah memerintahkan itu, beliaupun teriak sendiri di dekat putri dan cucunya yang sudah mati. “Putriku ... cucuku ... maafin kakek, Nak!”
...THE END...