
Beberapa jenis makanan telah dihidangkan di atas meja makan kaca berbentuk oval. Betapa senangnya hati Nina dan Nani yang baru kali ini melihat banyak makanan enak tersaji di depan mata. Membuat bola mata keduanya tak berhenti menjelajahi makanan mana yang mereka sukai.
“Ayo Nina dan Nani mau makan apa tinggal pilih,” tawar Nenek. Beliau sengaja duduk dekat kedua cucunya itu.
Namun, dua anak kembar itu tak langsung menjawab. Mereka menunggu perintah ibunya. Takut kalau ibunya menganggap salah jika Nina mendahului. Karena waktu itu Ibu Mila pernah bilang dengan judesnya, “Kalo kalian dikasih orang makanan, kalian harus ngasih Ibu dulu.”
Tekanan demi tekanan rupanya memberi trauma yang mendalam di jiwa mereka. Walaupun sang ibu sudah menyesali perbuatannya namun bayang-bayang rasa takut pada masa lalu masih membekas di ingatan anak-anak.
Melihat kedua cucunya yang tak lekas mengambil makanan, nenek mereka pun akhirnya turun tangan mengambilkan nasi dan menuruti keinginan lauk mana yang mereka mau. Ibu Ranita tahu kalau kedua cucunya takut pada ibunya.
“Nina pengen lauk apa? Ayam goreng?”
Ibu Ranita dapat langsung tahu apa yang diinginkan cucunya karena ketika baru ke meja makan, pandangan Nina pertama kali tertuju pada beberapa paha ayam di atas piring. Ayam goreng yang sepertinya lain daripada ayam goreng yang sering dibelikan Tante Reva dari warung. Warnanya terlihat mengkilat. Dengan ragu-ragu, anak itu mengangguk.
“Jangan takut Nina. Kalau kau mau ayam goreng ini mengangguk saja,” sindir Ibu Ranita sembari melirik putrinya yang langsung menunduk.
“Kalau Nani minta apa?” Giliran Nani yang ditawari. Namun, dia menggeleng. Setelah tadi antusias melihat banyaknya makanan enak, kini entah mengapa selera makannya jadi turun. Ditanya nenek, hanya diam saja. Tak bisa dipungkiri dia juga merasakan trauma yang sama seperti Nina.
Ibu Ranita menghela napas pelan. Kasihan sekali mereka. Dari sini, beliau dapat membaca kalau kekejaman Mila pada anak-anaknya sudah berlangsung lama hingga menimbulkan efek traumatis yang serius. Sebagai ibu yang mengetahui kalau Mila pernah menyiksa batin dan fisik anak-anaknya tentu tumbuh perasaan marah meskipun itu pada putrinya sendiri. Tapi sebagai orang tua, beliau memilih melampiaskan amarahnya dengan memberinya contoh yang nantinya bisa ditiru Mila.
“Nah, sekarang apa Nina dan Nani sudah bisa makan sendiri?” tanya sang nenek.
Nina mengangguk.
“Bisa, Nek. Nina juga bisa menyuapi Nani. Tiap hari kalau Ibu nggak ada. Nina yang nyuapin.”
__ADS_1
Mendengar ucapan cucunya itu, seketika Ibu Ranita terbeliak. Tak menyangka anak sekecil Nina sudah bisa menyuapi Nani. Benar-benar kebangetan Mila. Kemana saja dia, sehingga tak perhatian pada anak-anaknya.
“Apa? jadi Nina bisa menyuapi Nani? memangnya Ibumu nggak pernah nyuapin kalian?” Ibu Ranita sengaja meninggikan suara dengan kembali melirik Mila lagi. Di atas kursi roda, putrinya menunduk semakin dalam.
Seluruh orang di dalam ruangan ini senyap. Takut jadi sasaran kemarahan majikannya, Baby sitter pun segera berlalu setelah menuangkan air ke beberapa gelas. Sementara ucapan ibu Ranita itu, bagai batu besar yang menindih kepala Mila hingga berat untuk menatap wajah ibunya. Kali ini Mila merasa benar-benar malu.
“Tapi Nina, sekarang Nina tak usah menyuapi Nani lagi ya. Karena sekarang ada Nenek yang ingin sekali menyuapi kalian,” kata Ibu Ranita sembari menyendok nasi. Menyuil daging lalu meletakkan di atas nasi yang sudah disendoknya.
“Ayo buka mulut kalian lebar-lebar!” pinta Ibu Ranita. Wajahnya begitu bahagia bisa menyuapi kedua cucunya. Nina menurut dan membuka mulut, diikuti Nani yang juga membuka mulutnya.
Dengan penuh perhatian, Ibu Ranita menyuapi cucunya satu demi satu untuk beberapa kali suapan sampai nasi tersisa setengah piring. Beliau senang cucunya makan dengan lahap. Rasanya terharu merasakan untuk kebahagiaan ini. Dan senangnya hati Nina dan Nani mendapat kasih sayang yang luar biasa ini. Ternyata begini rasanya punya nenek.
...*****...
Sudah tiga bulan lamanya Mila dan anak-anaknya tinggal di apartemen. Semenjak mereka kembali pada ibu, hidup mereka menjadi terjamin termasuk kebutuhan gizinya. Tak bisa dipungkiri, Ibu Ranita mengeluarkan uang cukup besar untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari.
Pelan-pelan perlakuan Mila pada anak-anaknya sudah melembut. Tangannya sudah tak kaku lagi menyuapi Nina dan Nani. Seperti yang ia lakukan pada pagi ini, di tangannya membawa seporsi makanan untuk sarapan Nina dan Nani.
“Ayo Nina, Nani, nonton TV-nya berhenti. Kalian sarapan dulu ya. Ibu bawain nasi dengan telur mata sapi nih,” panggil Mila. Berjalan mendekati anaknya yang sedang asyik nonton TV.
Mendapat panggilan itu Nina dan Nani kompak menoleh. Di wajah kedua anaknya terlihat girang.
“Asyik,” teriak Nina sambil bertepuk tangan. “Aku tahu telur mata sapi buatan Ibu pasti enak.”
Dipuji putrinya, Mila tersenyum. Saat di hadapan keduanya, Mila berjongkok agar sama tingginya dengan Nina dan Nani yang sedang duduk-duduk di sofa. Kemudian mengambil sesendok nasi lalu mengiris bagian telur mata sapi.
__ADS_1
“Eits, siapa yang mau duluan Ibu suapi?”
Nina dengan cepat menunjuk Nani, yang membuat Nani sontak mengacungkan jari. Mila terkekeh melihat tingkah kedua putrinya. Dia baru sadar kalau dia mempunyai putri yang lucu-lucu.
Atas permintaan Nina, Mila pun menyuapi Nani. Barulah Nina pada suapan kedua. Begitu seterusnya sampai makanan itu tinggal sesuapan lagi.
Pada suapan yang terakhir ini, lagi-lagi Mila membuat challenge. Siapa nih di antara kedua anaknya yang mau makan suapan terakhir itu?
“Wah kalian hebat, makanannya udah mau habis. Tinggal satu suapan lagi. Siapa nih yang mau makan satu suapan terakhir?” kata Mila sembari mengangkat sendok yang sudah berisi suapan terakhir dan bersiap menyuapkannya ke dalam mulut anaknya yang mau.
Perkataan ibunya itu lalu direspon oleh Nina yang juga menunjuk Nani. Dia ingin suapan terakhir itu diberikan pada Nani.
Dan Mila pun menuruti keinginan Nina lagi. Tangannya bergerak mengantarkan sendok pada mulut Nani yang sudah menganga. Namun, begitu sampai di depan mulut Nani, tiba-tiba terdengar suara dering ponsel. Hingga Mila langsung membatalkan suapan itu dan diletakan kembali di atas piring. Piring itu kemudian dia letakkan sembarangan saja di meja tamu. Larinya tergopoh-gopoh, segera menyambar ponselnya yang tergeletak di atas kasur.
Ketika dia melihat layar ponsel, ternyata ibu meneleponnya. Ada apa ibu menelepon pagi-pagi begini? Bukannya ini jam-jam beliau mulai sibuk di kantor? Tak mau berlama-lama akhirnya dia menerima panggilan telepon itu.
“Halo.”
“Halo, Mba Mila?” tanya seseorang dari balik telepon. Mila langsung tahu bahwa orang itu bukan ibunya.
“Iya saya sendiri. Ada apa ya?”
“Saya sekretaris Ibu Ranita, mau mengabarkan kalau Ibu Ranita meninggal dunia,” jawab perempuan yang mengaku sebagai sekretaris ibunya itu. Kabar itu lantas membuat Mila terkejut seketika.
“Apa meninggal? Mbaknya jangan bercanda ya?” tentang Mila tak percaya pada berita duka itu.
__ADS_1
Bersambung ....