
Sepulangnya dari klinik, Zacky menuntun istrinya masuk ke rumah. Sejak turun dari mobil, langkah Reva terhuyung. Serasa ingin pingsan. Bahkan kakinya tak punyai tenaga lagi untuk berjalan. Penjelasan dokter tadi masih terngiang di telinga.
“Kau lebih baik istirahat, Sayang,” kata Zacky terus memapah tubuh Reva memasuki kamar. Dengan penuh perhatian, dia membaringkan istri ke tempat tidur.
“Kamu lebih baik tiduran dulu,” bujuk Zacky sambil membelai rambut halus istri. “Sebentar ya aku ambilkan air putih.”
Saat Zacky hendak beranjak, tangan Reva menahan.
“Aku saat ini tidak butuh air putih. Sekarang yang aku butuhkan cuma kamu, Mas. Aku ingin kau selalu di sisiku sekarang.”
Atas permintaan istri, Zacky mengurungkan niat. Duduk di sebelah istri. Matanya menatap sayu wanita yang sudah empat tahun mendampinginya. Wajah teduhnya memberi senyum seraya memberi kesejukan di tengah kegalauan sang istri.
“Mas, aku ingin tanya sesuatu padamu,” ucap Reva. Jemarinya mengelus lembut telapak tangan suami yang digenggamnya dan diletakkan depan dada.
“Apa, Sayang?”
Badan Zacky mendekat. Bibirnya lantas mencium kening istri. Cukup lama dia mengecup. Pria itu berharap ciumannya dapat memudarkan kegalauan istri.
“Mas, apakah kamu akan tetap setia dengan keadaanku yang sekarang?” tanya Reva ketika kecupan itu lepas dari keningnya.
Mendengar pertanyaan itu Zacky sangat terhenyak. Mengapa Reva tanya begitu? Pria itu memandangi istri sembari mengernyitkan dahi. Akh ... mungkin itu adalah emosi sesaatnya saja. Pria itu sangat memahami keadaan emosional istri yang sedang terguncang sekarang.
“Mas, mengapa kau diam?” tanjak Reva bertambah gusar di balik sikap diam suaminya. Perasaannya makin tak enak.
“Sudahlah sayang, jangan bicara macam-macam. Kau lebih baik istirahat sekarang.”
“Tidak, Mas. Aku butuh jawaban itu sekarang.” Jemari Reva makin mengerat di telapak tangan suami.
“Reva, aku sangat menyayangimu. Apapun kondisimu sekarang. Aku pun siap menerimamu dan tetap setia padamu dengan semua yang terjadi padamu kini.”
Mendengar pernyataan Zacky, Reva tersenyum. Saat suaminya bicara, wanita itu menangkap kesungguhan di sorot matanya.
“Terimakasih, Sayang.”
Senyum merekah di wajah Zacky. Sekali lagi dia mengecup kening istrinya. Tanpa disadari air mata Reva keluar dari sudut matanya. Dia begitu terharu pada kesetiaan Zacky.
“Sebentar ya, kuambilkan minum dulu.”
__ADS_1
Reva mengangguk. Lalu Zacky secepatnya menuju dapur. Tak lama, laki-laki itu kembali dengan segelas air putih. Melihatnya mendekat, Reva bangkit dari pembaringan, menerima gelas itu.
“Ayo diminum.” Bibir Zacky bergerak tanpa suara.
Senyum tipis Reva menyambut dan segera meneguk.
Setelah air dalam gelas itu habis, Reva kembali berbaring. Benar sekali apa kata suaminya, tubuhnya sedikit bugar setelah minum.
“Selamat tidur, Sayang.”
Setelah mendapat anggukan istri, Zacky keluar kamar. Agar dia beristirahat untuk menyetabilkan kondisi emosionalnya.
Bersamaan dengan pintu tertutup, ponsel pria itu kemudian berdering. Bergegas tangannya merogoh saku. Zacky tertegun melihat layar ponsel begitu tahu Mila meneleponnya.
“Halo, Mas. Apa kabar?”
“Ya baik. Kabarku baik,” jawab Zacky singkat. Nada suaranya tak seperti biasa. Terdengar berat menjawab sapaan Mila. Tak bisa dipungkiri ujian berat yang menimpanya saat ini membuat pria itu malas bicara.
“Ada apa, Mas. Sepertinya ada masalah ya, Mas. Cerita aja sama aku, Mas. Aku bisa menerawang lho dari sini, Mas. hehehe ....” Mila coba menghibur Zacky sekaligus sebagai pancingan agar suami sahabatnya itu mau bicara.
Zacky tertawa pendek dan tak terpancing dengan candaan Mila. Menurutnya, masalah rumah tangganya ini bukan untuk diceritakan pada siapapun.
"Oh ya udah deh, Mas. Selamat menjalankan solat ashar ya," jawab Mila dengan ketus.
Jawaban singkat itu lalu mengakhiri pembicaraan keduanya. Dengan kesal, Mila mematikan teleponnya dan menghempaskan diri ke atas tempat tidur.
...*****...
Zacky yang tengah membuat makan siang untuk istri tiba-tiba dikejutkan dengan bunyi bel sehingga dia menghentikan sejenak dan bergegas menuju pintu untuk membukanya. Namun, saat pintu telah dibukanya, dia dibuat terkejut pada kedatangan Mila.
“Mas Zacky,” sapa Mila sambil memberi senyum.
“Oh ternyata Mbak Mila tho,” gumam Zacky. Untuk menghormati kedatangannya, wanita itu disuruh Zacky masuk. “Silahkan masuk, Mbak Mila.”
Mila pun dengan senang hati memasuki rumah besar itu.
“Wah sudah lama aku nggak main ke sini, Mas. Rasanya aku rinduuu banget sama rumah ini.”
__ADS_1
Zacky hanya tersenyum mendengar Mila menggumam. Sebenarnya hari ini dia tidak sedang menerima tamu. Mengingat kondisi istrinya yang belum stabil. Mendengar suami datang, takutnya mengganggu tidur istri.
“Oya mana Reva, Mas? Katanya dia pulang. Tolong antarkan aku menemui dia, Mas. Aku juga kangen banget sama dia.”
Mata Zacky melebar mendengar Mila ingin bertemu Reva.
“Reva sedang istirahat. Dia lagi nggak enak badan.”
Namun, Zacky tetap menggiring Mila ke kamar untuk sekedar menengok istrinya. Sesampainya di bingkai pintu, Zacky membuka pintu kamar pelan-pelan. Memperlihatkan, agar Mila tahu kondisi istrinya sedang lemah.
Begitu melihat Reva sedang tidur pulas, wanita itu pun percaya kalau kondisi sahabatnya sedang tak baik. Hal itu dapat dilihat dari wajahnya yang pucat.
“Reva sakit, Mas?”
Zacky mengangguk.
"Kalau begitu biarkan dia tidur, Mas. Kita tunggu aja di sofa sampai ia terbangun."
Mila berpura-pura begitu padahal kondisi sahabatnya yang sedang seperti itu adalah kesempatan emas baginya. Karena yang sebenarnya dia tak peduli dengan keadaan Reva itu. Yang dia inginkan sekarang adalah bicara berdua saja dengan suami sahabatnya itu.
Setelah Zacky menutup pintu kamar, mereka berjalan menuju sofa panjang berwarna putih yang berada di depan kamarnya. Lalu mereka pun duduk di atasnya.
“Maaf, Mas. Kalau boleh tahu, Reva sakit apa?” Mila pura-pura memasang wajah prihatin.
Zacky pun diam sesaat. Dia bingung akan mengatakan yang sebenarnya atau tidak pada Mila. Laki-laki itu berpikir sambil melempar pandangannya ke pintu kamar. Setelah beberapa lama, ia pun menjawab, “Reva sakit demam.”
Ternyata jawaban lelaki itu masih tak mau terbuka pada Mila.
Mila mengangguk dalam-dalam sambil mencoba membaca mimik muka Zacky. Dia yakin, pria yang disukainya itu sedang berbohong. Wanita itu pun berusaha memancing kembali agar Zacky mau bercerita.
“Apa Mila sedang hamil, Mas?”
Pertanyaan yang menyelidik itu membuat Zacky terbeliak. Lidahnya menjadi gugup. Pertanyaan itu akhirnya bisa memancing Zacky untuk berkata jujur.
Kedua telapak tangannya menangkup ke wajah. Mendongak ke atas. Mengumpulkan energi untuk mengatakan hal yang sebenarnya pada Mila. Setelah yakin kalau dia percaya pada teman istrinya itu, lalu dia mengatakannya.
“Reva nggak bisa hamil,” ucap Zacky lemah nyaris tak terdengar. Kepalanya menggeleng bersama tatapan sendu ke arah Mila.
__ADS_1
Seketika hati Mila pun bersorak. Sepertinya dia benar-benar punya kesempatan untuk merebut Zacky ke dalam pelukannya.
Bersambung ....