Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 11


__ADS_3

Bukannya tersentuh atas kelembutan hati putrinya, malah dengan kasar Mila mendorong Nani. Bagi wanita itu yang dibutuhkan saat ini adalah uang bukan perhatian ucapan saja.


“Pergi jauh-jauh sana. Dasar anak pembawa sial!”


Nina menatap getir ibunya. Untuk kesekian kali, hatinya tersayat dengan perkataan ibunya yang selalu menyakitkan.


Dalam waktu singkat telah banyak orang mengerumuni. Beberapa orang menolong dan ada beberapa orang juga mendesak pengendara mobil agar bertanggung jawab.


Menghindari amukan massa, pengendara itu pun bersedia keluar. Membuatnya mau tak mau harus bertanggung jawab.


“Mbak, baik-baik saja ‘kan?” tanya orang itu pada Mila.


Sedang Mila masih sibuk membersihkan debu-debu yang menempel di celana dan tangannya. Meski tak tertabrak, tetap saja ada beberapa bagian tubuh yang lecet dan terasa cukup sakit. Lumayan perih jika digerakan. Sebab saat dia roboh ke aspal, siku dan lengan sebelah kirinya membentur jalanan cukup keras.


“Baik-baik aja gimana. Lu lihat lecet nih. Jadi kotor juga ‘kan celana gue. Lain kali kalo naik mobil di terminal ati-ati, Bang," omel Mila tanpa melihat orang itu. Ia berusaha keras meniup luka lecet yang dirasakan paling sakit. Agar sakitnya terasa lebih ringan.


“Mbak saya mohon maaf. Sebetulnya ini bukan murni kesalahan saya. Mbak juga salah kenapa berlarian di tengah jalanan terminal begini?"


Mila tersentak mendapat jawaban itu. Membuatnya tak bisa mendebat lagi.


Orang itu pun tersenyum, lalu mengajak berdamai. Supaya tak ada dendam di antara keduanya.


"Mbak, ini ada uang sebagai ungkapan permintaan maaf saya. Semoga cukup buat ngobatin luka-luka lecet itu di klinik.” Orang itu menyodorkan tiga lembar uang warna merah muda kepada Mila.


Melihat lembaran-lembaran uang di hadapannya, rasa jengkel Mila lenyap seketika. Dan tanpa basa-basi, Mila segera menyambar uang itu. Ia lantas berterimakasih dan tersenyum lebar sekali. Kepalanya coba mendongak karena penasaran ingin melihat orang baik hati itu. Namun, saat ia telah menatap wajah itu, dia sungguh terkejut. Ternyata orang yang akan menabraknya itu adalah Zacky, suami Reva.


“Mas Zacky.” Mata Mila melebar melihat sosok pria yang bernama Zacky itu.


Suami sahabatnya itu memberi senyum ramah. Mengangguk seraya mengiyakan sapaan Mila itu. Entah kenapa wajah Mila menjadi bersemu merah. Malu karena telah mengomelinya tadi.


“Oh Mbak Mila tho. Saya mohon maaf ya, Mbak. Saya hampir menabrak Mbak Mila tadi,” ucap Zacky dengan logat jawanya yang kental.


Dan Mila pun hanya mengangguk saja. Mendadak sikapnya menjadi kikuk.


“Om Zacky,” pekik Nina di sela percakapan itu. Langsung berlari mendekati sosok yang selama ini sudah baik dengannya. Dengan perasaan bahagia juga, Nani pun ikut berlari di belakang kakaknya.


“Wah ada Nina dan Nani juga di sini,” sambut Zacky ketika mereka sudah dekat. Lalu membungkukan badan agar sejajar dengan tinggi anak-anak itu.

__ADS_1


Memandangi mereka satu per satu. Dahinya langsung mengerut ketika melihat pakaian lusuh mereka. Sedang apa mereka di sini dengan pakaian yang compang-camping begitu. Sekejap menimbulkan tanya di hati Zacky.


“Kenapa kalian ada di sini?” tanya Zacky sambil mengelus kepala Nani.


Kepala Nina menunduk. Sungguh dia ingin bercerita tentang yang sebenarnya terjadi. Tetapi saat menoleh ke arah ibu, ibunya sudah menatapnya tajam di sana. Tatapan itu mengisyaratkan larangan agar tak bicara macam-macam. Lagi-lagi, Nina dipaksa untuk tak mengatakan apapun.


“Kenapa, Nina nggak jawab pertanyaan Om? Sebenarnya sedang apa kalian di sini? Di sini bahaya lho banyak kendaraan. Nanti kalau ketabrak gimana?” Zaki menatap Nina lekat sembari menyibak poni anak kecil itu. Dia tahu kalau diamnya Nina sedang dalam keadaan sangat tertekan.


Andai Om Zacky tahu, Nina diam seperti ini karena takut disiksa ibunya.


“Kami sedang main di sini, Om,” jawab Nina lemah, kepalanya menunduk. Terpaksa berbohong, demi menyelamatkan dirinya juga sang adik.


“Main? Kenapa main di sini? Bahaya lho. Banyak bus dan kendaraan lain berlalu lalang.”


Kepala Nina terus menunduk sudah tak berani berkata-kata lagi. Untuk mencegah, putrinya bercerita, cepat-cepat Mila menghampiri lalu mengajaknya pulang.


“Ayo, Nina pulang. Ibu sudah mendingan nih.”


Untuk pertama kalinya Mila menggandeng kedua anaknya berjalan. Terpaksa ia lakukan ini supaya tidak ada percakapan lagi antara Nina dan Zacky. Uang tiga ratus ribu sudah cukup baginya untuk tambahan bayar kontrakan dan bersenang-senang.


...*****...


Sesampainya di kontrakan Mila, Zacky mengucap salam pada Nina dan Nani yang tengah asyik bermain boneka.


“Assalamu’alaikum. Wah sepertinya sedang seru nih?” goda Om Zacky di bingkai pintu.


Mereka hafal betul pemilik suara itu. Kepala mereka pun dengan kompak menengok melihat kedatangan Om Zacky. Senyuman merekah di bibir keduanya. Dengan girang, mereka berlari memeluk pria yang selama ini sangat baik pada mereka.


“Hore ... Om Zacky datang.”


Dua anak itu pun dipeluk dan menciumi pipi keduanya.


“Oya Ibu kalian mana?” tanya Om Zacky usai puas bercengkerama dengan mereka.


“Ada di dalam. Lagi tidur karena tadi pagi Ibu baru pulang kerja.” jawab Nina sambil menunjuk ke arah kamar yang dindingnya hanya dibatasi triplek warna putih. Sedang, Nani mengikuti saja gerakan kakaknya itu. “Nina nggak berani mbangunin Ibu, Om. Takut dimarahin.”


“Ya udah biarin aja. Biar Ibu kalian istirahat. Yang penting Ibu kalian nggak papa 'kan?”

__ADS_1


Nina menjawabnya dengan anggukan kepala.


"Ya udah Om Zacky permisi dulu ya. Salam buat Ibu kalian."


Sebelum Om Zacky pergi, Nina dan Nani bergiliran menciumi punggung tangannya. Seperti biasa beliau juga memberikan selembar uang lima puluh ribu pada Nina.


“Ini untuk kalian beli jajan.”


“Makasih, Om,” jawab Nina sambil memperlihatkan giginya yang ompong satu.


Usai memberi uang, Om Zacky pun pergi. Pandangan Nina dan Nani lekat melihat kepergiannya.


Selepas Om Zacky pergi jauh. Diam-diam. Tanpa disadari. Tangan Ibunya menarik telinga mereka dengan keras dari arah belakang.


“Kenapa kalian tak bangunin Ibu, kalo Om Zacky datang, hah?”


Jeweran telinga itu sontak membuat Nina dan Nani meringis kesakitan. Mereka pun menangis minta dilepaskan.


“Tolong lepasin, Bu. Telinga kami sakit,” rengek Nina memegangi tangan Ibunya agar mau melepaskan.


“Jawab dulu pertanyaan Ibu. Mengapa tadi elu nggak mbangunin Ibu saat Om Zacky datang. Hah?”


“Nina takut gangguin Ibu.”


Dan Mila pun terdiam mendengar jawaban putrinya itu. Anak itu sepertinya telah belajar dari peristiwa dulu. Dirinya pernah menampar Nina saat coba membangunkannya. Kala itu pemilik kontrakan datang menagih uang sewa bulanan.


Mengingat kejadian itu, Mila pun melepaskan telinga kedua anaknya. Jeweran yang tak terkira sakitnya itu meninggalkan bekas merah di telinga mereka.


Bukannya ada rasa sesal di hati Mila setelah mengingat kejadian itu, malah kini dia merebut paksa uang pemberian Zacky dari genggaman Nina.


“Nina, sini uangnya.”


“Jangan, Bu. Ini uang kami. Om Zacky bilang, ini buat jajan Nina sama Nani, Bu,” jawab Nina yang segera mempertahankan uang itu. Kedua telapak tangannya menggenggam erat lembaran yang sangat berharga bagi dirinya itu.


Namun, Mila selalu mengandalkan kegalakan bentakannya dalam merebut segala sesuatu dari anaknya. Ibarat kata yang galaklah yang menang. Tangan kecil Nina ditarik kasar. Uang itu kemudian diambil paksa darinya.


“Ekh Nina! Asal elu tahu. Anak kecil nggak boleh megang uang gede ya.”

__ADS_1


Selalu saja ibunya mengatakan begitu. Ini yang ketiga kalinya, sang ibu merebut uang pemberian Om Zacky. Kemudian kepala Nina ditoyor dan seenaknya melenggang pergi. Seperti hari-hari lalu, Nina hanya bisa menangis sembari memeluk saudara kembarnya.


Bersambung ....


__ADS_2