Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 7


__ADS_3

Di bawah bingkai pintu kafe, Mila berdiri. Pandangannya beredar mencari Reva. Hanya sebentar gadis itu mencari, pandangannya berhenti pada lambaian tangan sahabatnya di sana. Melihat keberadaan Reva, Mila segera menghampiri. Kedatangannya kemudian disambut dengan senyuman yang mengembang.


“Mil, apa kabar? Gila gue kangen banget ama elu.” Tangan Reva lantas menarik pelan tangan Mila. Membawa pada pelukan hangat. Mila melebarkan mata. Tak menduga sebelumnya kalau akan dipelulnya. Hati jadi terenyuh. Ternyata tak ada dendam sama sekali di hati sahabatnya itu. Dia tahu dari dulu, Reva memang berhati mulia. Perlahan rasa malu dan sesal hinggap di kalbunya, karena sikapnya dulu begitu keterlaluan.


Gemetaran Mila membalas pelukan Reva. Perlahan mengeratkan tangannya yang melingkar di pinggang. Dengan ragu dia berbisik, “Gu-gue minta maaf karena sikap gue waktu itu.”


“Iya,” jawab Reva. Dia teramat tulus memaafkan Mila. Tangannya kemudian dengan lembut mengelus punggung sahabatnya itu. “Lagian gue udah ngelupain kok, Mil.”


Selang beberapa lama, mereka melepas pelukan. Saling pandang. Mata mereka berkaca-kaca. Hingga tangan mereka berusaha menyeka air mata yang perlahan membasahi pipi.


“Silahkan duduk, Mil,” kata Reva yang kemudian kembali menduduki kursi yang sudah didudukinya.


Lalu pandangan mata Reva beralih ke layar laptop. Di sana dia sudah mempersiapkan video rekaman CCTV yang menjadi bukti perselingkuhan Andre.


“Apa elu sudah siap melihat video ini?”


Pertanyaan Reva dibalas dengan anggukan ragu Mila. Dari rumah hatinya sudah dipersiapkan untuk melihat kenyataan kalau memang benar di video itu, Andre dan selingkuhannya.


“Oke. Kalo elu udah siap, ini videonya.”


Laptop pun diputar ke arah Mila. Dengan debaran jantung yang cukup kencang, ia harus melihat kenyataannya. Ketika sudah menyaksikan video itu, ia pun membenarkan bahwa di video itu benar-benar Andre. Sungguh sebuah kenyataan yang membuat hatinya seperti didera seribu kali.


Air mata gadis itu seketika tumpah. Mengalir deras di pipinya yang putih. Sekejap saja hatinya merasa sakit. Betapa tidak, pria yang selama ini ia cintai tega mengkhianati. Hatinya seakan remuk redam melihat Andre dengan mesranya membelai rambut wanita lain. Saling rangkul. Dan jantungnya serasa makin ditusuk-tusuk, ketika ia melihat pria yang amat dicintainya itu tanpa ragu mencium bibir wanita selingkuhannya.


Tak kuasa melihat video itu lebih lama, laptop Reva kemudian dipalingkan dari pandangan.


“Udah cukup, Rev. Gue  nggak sanggup melihatnya lagi,” keluh Mila. Tangisnya makin berderai. Lemas seketika. Bahkan untuk menyangga kepalanya, Mila serasa tak mampu lagi.


Demi menjaga perasaan sahabatnya, Reva buru-buru menarik kembali laptopnya. Video yang tadi diputar langsung dihentikan. Cepat-cepat Reva menghibur sahabatnya itu.


“Rev, mengapa Andre begitu tega mengkhianatiku?” rintih Mila di tengah isakan tangisnya.

__ADS_1


Reva hanya bisa menghela napas. Tak mau berkomentar apapun saat ini. Semua sudah terjadi. Andai saja dia mampu jujur, sebenarnya saat pertama kali melihat Mila bersama Andre, Reva berfirasat kalau pria yang bersama sahabatnya itu tidak baik.


Sebagai wanita yang berpengalaman di dunia malam, Reva tentu tahu tingkah laku pria yang suka selingkuh dan mana yang tidak. Tapi dia merasa tak enak kalau mengatakannya. Karena pasti Mila tidak akan terima pada ucapannya.


“Sudah, Mil. Nggak perlu elu nangisin pria macam Andre. Dia itu nggak layak elu tangisin.” Reva coba menghibur dengan mengelus lembut punggung tangan sahabatnya.


Mila kemudian berdiri. Tak sanggup lagi di tempat itu berlama-lama. Ia ingin secepatnya pergi.


“Sorry, gue pulang dulu, Rev. Gue pengen sendiri.” Setelah berujar seperti itu, Mila pun bergegas pergi. Sambil menangis, ia berlari membelah keramaian. Tak peduli lagi pada orang yang melihatnya. Di sana, di tepi jalan, Reva melihat dari jendela kafe, sahabatnya itu telah pergi menaiki taksi.


...*****...


Selesai membayar makan di kasir, Reva balik badan dan melangkah keluar. Sesampainya di teras restoran, dia dikejutkan pada kedatangan Andre dengan seorang wanita keluar dari mobil. Pria itu terlihat menggandeng mesra wanita lain dan berjalan menuju restoran yang sama.


Ketika langkah mereka makin mendekat, Reva cepat-cepat sembunyi di sela pintu masuk dan lift agar mereka tak melihat. Beruntung ada banner iklan yang bisa digunakannya menutupi persembunyiannya.


Saat mereka telah berlalu, Reva menghela napas. Syukurlah Andre dan selingkuhannya tak mengetahui keberadaannya. Gadis itu membatalkan niatnya pulang, sebab ingin mematai-matai mereka. Tak mau kehilangan jejak, kepalanya melongok dan bersembunyi pada dinding dekat lift. Dia ingin tahu meja mana yang ditempati laki-laki berengsek itu. Ternyata Andre duduk tak jauh dari tempat Reva mengawasi.


"Halo," ucap Mila saat menjawab panggilan telepon dari Reva.


“Halo, Mil. Gawat, Mil. Sekarang juga elu harus ke basecamp. Soalnya gue lihat sekarang Andre lagi ada di sini sama wanita lain,” kata Reva memberitahu Mila dengan berbisik. Ia sering menyebut restoran tempatnya berada sebagai basecamp karena waktu SMA, dia, Mila, dan beberapa temannya sering menjadikan restoran itu sebagai tempat nongkrong. Tampaknya waktu pacaran, Mila juga sering mengajak Andre ke tempat favoritnya ini, sehingga Andre menjadi tahu restoran ini.


Mendengar kabar bahwa Andre ada di situ, Mila pun segera menyatroni. Sampai sahabatnya datang, Reva akan tetap bersembunyi. Gadis itu tersenyum pongah mengutuk Andre bahwa sebentar lagi kebejatannya akan terungkap.


Seperempat jam kemudian, Mila pun datang dengan wajah amat marah. Setibanya di depan Reva, gadis itu mengangkat kepala seraya bertanya dimana keberadaan Andre. Ingin segera melabrak laki-lakinya yang telah berkhianat itu.


Telunjuk Reva langsung menunjuk ke meja yang ditempati Andre dan teman wanitanya. Pandangan Mila mengekor telunjuk sahabatnya. Seketika ia terperanjat saat apa yang dilihatnya itu benar-benar Andre. Hatinya langsung terbakar melihat Andre berselingkuh. Tak mau berlama-lama, gadis itu segera menghampiri. Di belakang, Reva segera mengikutinya. Takut terjadi hal yang tidak diinginkan menimpa sahabatnya.


Dan sesampainya di tempat Andre berada, Mila langsung menggebrak meja. Gebrakan itu membuat Andre dan selingkuhannya begitu terkejut. Hingga laki-laki itu panik bukan kepalang. Ditambah lagi tamparan keras tangan Mila menyabet kasar pipinya. Bahkan bunyi tamparan itu sampai ke telinga beberapa orang di sekitarnya.


“Mil-Mila?” Muka Andre memucat saat Mila muncul tiba-tiba. Sambil memegangi pipi yang terkena tamparan tadi, dia menatap Mila keheranan. “Ke-kenapa kamu bisa tahu aku ada di sini?”

__ADS_1


“Kenapa? kaget?” seru Mila dengan lantang. Suaranya yang lantang membuat dia menjadi pusat perhatian semua orang di restoran itu dalam sekejap.


Rasa marah Mila tak terbendung. Ia pun dengan berani mengangkat kerah kemeja Andre. Meluapkan semua kekesalannya pada pria yang telah mengkhianati cintanya. Sekali lagi, tamparannya mendarat keras di pipi Andre.


“Elu tega ya. Mengkhianati hubungan kita. Asal elu tahu gue ini hamil dan elu harus bertanggung jawab!” bentak Mila sembari menangis.


Semua kaget mendengar pernyataan itu. Andre dan selingkuhannya, juga Reva, membelalakan mata.


“A-Apa elu hamil, Mil?” tanya Reva seakan tak percaya.


Saking terkejutnya, Reva sampai menutup mulut sendiri yang menganga secara tidak sengaja. Merasa tak terima sahabatnya itu dihamili Andre, ia segera membantu Mila menekan laki-laki itu agar mau bertanggung jawab.


“Ndre, berengsek elu ya. Setelah elu ngehamilin sahabat gue. Elu tinggalin gitu aja sahabat gue. Kalo elu laki-laki, elu harus tanggung jawab. Udah gitu pake acara selongkuh segala lagi,” umpat Reva. Dengan gemas, tangannya mendorong Andre hingga jatuh terjengkang.


Melihat kekasihnya di dorong, wanita yang bersama Andre segera bertindak. Pasang badan membela Andre. Dia membantu Andre berdiri lagi.


“Maaf ya mbak. Mbak siapa ya? Kok tiba-tiba marah-marah dan nyerang pacar gue!”


“Gue pacarnya. Gue hamil gara-gara dia," tegas Mila sembari menunjuk muka Andre.


“Jangan percaya dia. Aku nggak ngerasa ngehamilin dia. Dekat aja nggak, apalagi sampai hamil.” Elak Andre. Walaupun telah tertangkap basah, dia tetap berkelit. Setelah laki-laki itu mampu berdiri, ia menggandeng wanita selingkuhannya dan pergi meninggalkan Mila dan Reva agar bisa lari dari tanggung jawab.


Tak mau pria yang sudah menghamilinya kabur, Mila dan Reva segera mengejar. Dengan sekuat tenaga, Mila menahan Andre berhenti. Laki-laki itu harus tetap bertanggung jawab atas janin yang dikandung. Di depan, Reva juga menghadang agar laki-laki itu tidak bisa lari kemana-mana.


“Lepasin gue. Gue nggak ngerasa ngehamilin elu. Bisa aja elu hamil sama cowok lain ‘kan? Elu 'kan cewek malam.” Andre terus berkilah. Dengan kasar, ia melepas genggaman tangan Mila yang sedang mencengkeram pergelangan tangannya. “Pak Security, singkirkan mereka. Mereka hanya mengganggu saja kenyamanan saya makan di sini.”


Tanpa mau tahu duduk masalah, tiga security restoran menurut saja ucapan Andre. Menangkap Reva dan Mila. Giliran tangan mereka ditahan. Tak terima diperlakukan seperti ini, keduanya pun berusaha meronta.


Andre tertawa puas melihat mereka ditangkap security. Ia tak mau menyia-nyiakan ini. Pria berengsek itu pun kabur. Kaburnya Andre yang tak mau tanggung jawab itu membuat Mila teriak sekeras mungkin, memintanya agar tidak lari dari perbuatannya.


“Ndre berengsek kau. Jangan pergi gitu aja elu. Elu kudu tanggung jawab. Ini yang di rahim gue tuh anak elu.” Dalam belenggu security, Mila berontak. Akan tetapi tak bisa, security itu dengan kuat menahan tangannya. Malahan sekarang ia dan Reva hendak dibawa ke posko untuk dimintai keterangan, sedang laki-laki berengsek itu melenggang bebas.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2