Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 6


__ADS_3

Dengan dipapah Mila, Andre memasuki salah satu kamar hotel yang telah disewanya. Langkahnya yang pincang membuat pria itu harus dibantu jalannya. Sewaktu keributan tadi, dia sempat jatuh tersungkur akibat hantaman keras ke wajahnya. Begitu sampai di ranjang, Mila mendudukan pelan kekasihnya itu. Ia pun ikut duduk di sampingnya.


Mila cemas melihat kekasihnya kesakitan. Andre harus segera diobati. Dengan cepat, Mila membongkar isi tasnya. Seingatnya, ia selalu membawa kapas dan obat antiseptik. Karena itu, tak butuh waktu lama untuk mencari dua benda itu di dalam tasnya


Untuk mengobati kekasihnya, Mila menuangkan obat antiseptik pada kapas secukupnya. Kapas itu lantas dipepalkan ke bagian-bagian yang memar di wajah Andre. Ketika dipepalkan, Andre memekik. Lumayan perih hantaman dari ayah Mila ini.


Namun, bagi Andre perih ini tak ada apa-apanya dibanding dengan perih di hati. Sebab di hatinya kini, bagaikan banyak luka sayatan dari penghinaan yang dilontarkan mulut orang tua Mila. Kalau mengingat itu, Wajah Andre jadi mengeras. Urat-urat lehernya tampak tegang. Rasa sakit di wajah seolah kalah dengan rasa sakit di hatinya.


“Apa kau sudah merasa lebih baik?” tanya Mila. Berhenti sejenak memepalkan kapas. Baginya pengobatan ini sudah cukup.


“Iya, sedikit lebih baik.”


Mendengar jawaban itu, Mila melengkungkan bibir tipisnya. Tersenyum amat manis. Tangannya kemudian memasukkan kembali benda-benda yang sudah dikeluarkan untuk pengobatan tadi. Saat dia sibuk melakukan itu, tanpa disadari ternyata Andre memandangi wajahnya.


Tangannya kemudian bergerak menyentuh pundak kekasihnya. Jemarinya mengelus kulit halus Mila. Rangsang sentuhan yang diberikan Andre membuat Mila bergetar. Hingga gadis itu balas memandangi wajah Andre.


“Mila apa kau sangat mencintaiku?” tanya Andre dengan tatapan yang serius.


Seperti biasa, laki-laki itu memang selalu terlihat bersungguh-sungguh kalau membahas masalah cinta. Tak mau berpura-pura juga Mila pun membalasnya dengan senyum dan anggukan tulus.


“Kau tidak akan meninggalkanku ‘kan Mil?”  tanya Andre lagi.


Lantas Mila terkesiap mendengar pertanyaan ini. Untuk meyakinkan ketulusan cintanya, tangan prianya itu pun digenggamnya.


“Aku juga mencintaimu. Aku tidak akan meninggalkanmu," jawab Mila makin mengeratkan genggaman.


“Walau Ayahmu tidak suka dengan hubungan ini?” cegat Andre.


Kepala Mila pun menggeleng sebagai tanda Mila tidak akan meninggalkannya walau orang tua tidak menyetujui hubungan ini.

__ADS_1


“Kalau begitu maukah kau menemaniku tidur malam ini? Agar aku merasa yakin kau tidak akan meninggalkanku.”


Mila mengangguk pasrah tanpa rasa curiga. Semua ini untuk membuktikan betapa besar cintanya pada Andre. Walaupun gadis itu punya banyak pengalaman soal cinta, ia tak mengerti maksud di balik ajakan kekasihnya. Padahal sebentar lagi dia akan masuk ke jurang kenistaan.


Bodohnya lagi, Mila pun terus berpasrah pada Andre yang saat ini hendak mencium bibirnya. Dekat dan semakin dekat, akhirnya bibirnya bersentuhan dengan bibir Andre. Keduanya berciuman cukup lama. Hingga sampailah saat dimana keduanya hilang kendali.


Tampaknya iblis telah sukses menguasai hawa nafsu mereka. Hingga keduanya terjerumus dalam perbuatan terlarang.


Bagi Andre yang telah terbiasa tidur dengan belasan wanita, mungkin ini bukan hal yang baru. Dosa sudah ini dianggap biasa. Namun, bagi Mila, malam ini ia telah dibutakan oleh cinta dan kenikmatan sesaat. Berhasil diperdaya Andre melakukan perbuatan ini dengan diliputi rasa dendam.


...*****...


Dering ponsel menggema di telinga. Membangunkan Mila yang tertidur pulas. Siapa orang yang tak menggerutu ditelepon tengah malam begini. Namun sekejap rasa jengkel gadis itu menghilang, saat dirinya berharap kalau itu panggilan telepon dari Andre. Sebab dia telah menunggu kekasihnya menghubungi. Sudah dua minggu lamanya menunggu telepon dari Andre.


Tak mau ketinggalan telepon dari kekasihnya, Mila segera menggerayangi, mencari-cari ponselnya yang ia letakkan di meja kecil samping ranjang. Perlu upaya keras hingga benda yang masih berdering itu akhirnya ia dapatkan.


Namun ketika Mila tahu si penelepon itu, ia sangat terkejut. Ternyata bukan dari Andre, tapi Reva. Yang kemudian menimbulkan tanya. Mengapa sahabatnya itu menelepon tengah malam begini? Mungkinkah Reva akan menuntut balas pada pertengkaran lalu? Semenjak pertengkaran itu memang tak ada komunikasi lagi di antara dia dan Mila.


Panggilan telepon dari Reva memunculkan dugaan lain di benak Mila. Apa iya Reva tak terima karena pertengkaran itu? Perlahan jemarinya menyentuh tombol hijau untuk menerima panggilan itu, meski diliputi rasa takut dan ragu.


“Halo,” sapa Mila penuh ragu.


“Halo, Mil. Gimana kabar lu?” tanya Reva di balik telepon.


“Ba-baik.” Ucapan Mila jadi tersendat saat menjawab pertanyaan itu. Takut kalau dugaannya benar. Di dalam hatinya kemudian muncul perasaan bersalah. Tapi sepertinya dari nada suaranya, Reva sudah tak lagi mempermasalahkan.


“Ada apa ya, Rev?" Mila langsung bertanya agar tahu tujuan sahabatnya menelepon tengah malam begini.


“Nggak ada apa-apa, Mil. Gue cuma mau tanya apa elu masih pacaran sama Andre?”

__ADS_1


Deg. Mila tersentak. Mengapa Reva bertanya seperti itu? Jangan-jangan dia mau mengungkit Andre karena saat pertengkaran terjadi, dia ikut campur.


“Ya," jawab Mila diliputi rasa cemas barangkali dugaannya benar. Pelan-pelan dia pun bertanya lagi agar tahu mengapa Reva bertanya seperti itu. "Sorry ada apa ya, Rev. Kenapa elu tiba-tiba tanya hubunganku dengan Andre?"


“Jadi gini, Mil. Sorry sebelumnya gue nggak punya maksud apa-apa. Gue harap elu nggak emosi ke gue saat elu denger kabar yang mau gue sampein ini.”


Dahi Mila mengerut. Makin dibuat penasaran. Tadi dia tanya tentang hubungan dengan Andre. Mungkinkah ada sangkut pautnya dengan Andre pada kabar yang akan dia sampaikan. Gadis itu masih belum dapat mengiranya.


“Info apa emangnya, Rev?” tanya Mila yang ingin segera tahu kabar apa yang akan disampaikan sahabatnya itu.


Di balik telepon, Reva menghela napas. Dia coba memberanikan diri untuk mengatakannya. Meski tak enak hati, Mila tetap harus tahu tentang apa yang telah dilihat dengan mata kepala Reva sendiri. Semoga sahabatnya dapat menerima informasi ini dan tidak menyangkanya mengarang cerita.


“Sorry nih Mil, bukannya gue ikut campur. Kemaren, gue lihat dengan mata kepala gue sendiri Andre dengan seorang cewek minum bareng di tempat gue. Gue kira cewek itu elu, pas gue liat dari deket ternyata bukan. Gue liat mereka mesra banget, Mil.”


“Akh jangan bicara yang enggak-enggak, Rev. Kali aja yang elu liat itu orang yang mirip Andre,” tepis Mila. Tampaknya dia masih begitu percaya pada Andre. Dia percaya kalau kekasihnya itu adalah orang yang setia. “Rev, lain kali kalo elu salah liat jangan ngasih tau gue dulu, sebelum elu punya bukti.”


Sebelumnya, Reva sudah menduga akan dapat jawaban seperti ini. Tapi sebagai sahabat, ia merasa punya kewajiban mengingatkan, kalau Andre bukan pria baik. Sebab, dia yakin bahwa yang dilihatnya kemarin malam adalah Andre. Dia juga punya bukti kuat untuk membuat Mila percaya.


“Oke. Kalo elu minta bukti, gue punya bukti berupa rekaman video. Sekarang elu boleh ke kafe gue buat lihat rekamannya,” terang Reva lalu menutup teleponnya.


Sementara di kamar, Mila membanting ponselnya di kasur setelah percakapannya terputus. Tak percaya dengan kabar ini. Namun di lubuk hatinya, dia sebenarnya menaruh rasa curiga, barangkali apa yang dikabarkan Reva itu benar.


Jika itu bukan Andre, terus kemana perginya selama empat bulan ini. Akhir-akhir ini dia tak memberikan kabar walau hanya sekedar SMS. Terakhir dia bilang banyak pekerjaan menumpuk di perusahaannya.


Semua ini membuat kepala Mila tiba-tiba terasa pening. Saking tak kuatnya, gadis itu kemudian menjambak rambutnya sendiri. Berteriak. Menangis di kamar kontrakannya.


"Andre, mungkinkah kau mengkhianatiku?"


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2