Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 22


__ADS_3

“Siapa nama perempuan itu, Pak?” tanya Reva sangat penasaran. Dia masih belum mengerti mengapa suaminya pergi bersama perempuan lain tanpa sepengetahuannya. Tumben sekali suaminya melakukan ini. Biasanya kalau Zacky pergi bersama klien atau rekan kerjanya selalu menelepon dulu. Lama-lama Reva pun curiga akan adanya perselingkuhan.


Sementara Reva menganalisa, Pak Hasyid kembali sibuk membuka dokumen. Mencari nama perempuan yang bersama Zacky. Begitu namanya ketemu, barulah polisi itu memberitahukannya pada Reva.


“Namanya Mila Sokawati,” jawab polisi.


Mendengar nama Mila Sokawati disebut, Reva sangat terkejut. Barulah sekarang dia mengerti kalau selama ini suami dan Mila ada hubungan spesial. Apalagi menurut keterangan dari Pak Hasyid tadi, mereka berdua terlibat pertengkaran di dalam mobil. Tak mungkin tidak ada hubungan spesial kalau sudah terjadi pertengkaran.


Pertengkaran mereka itu kemudian memunculkan tanya di benak Reva. Sebenarnya apa yang mereka pertengkarkan sampai membuat Zacky mengalami kecelakaan seperti ini? Sebab dia tahu suaminya adalah pria yang kalem. Marah pun rasanya tidak pernah. Pasti ada masalah yang sangat pelik hingga dia tak bisa mengontrol diri ketika tengah mengemudikan mobil. Reva merasa harus segera tahu masalah itu.


“Sekarang dimana jenazah perempuan itu?” tanya Reva. Secepatnya ingin tahu nasib sahabatnya itu.


“Dia tidak meninggal. Hanya saja kondisinya sangat kritis,” jawab Pak Hasyid. Kemudian beliau menengok pada dokter yang berdiri di samping. Memintanya untuk menjelaskan lebih detail kondisi pasien yang bernama Mila.


“Ya betul kondisinya sangat kritis. Dengan sangat menyesal juga saya sampaikan kalau pasien yang bernama Mila mengalami keguguran,” jelas dokter.


Semakin terkejut Reva ketika mendengar Mila keguguran. Bukan karena kondisi kritisnya, tapi lebih pada perasaan herannya pada Mila yang ternyata sedang hamil. Dengan siapa dia melakukan hubungan hingga hamil. Tapi seketika Reva jadi teringat pada mimpi buruknya beberapa waktu lalu. Inikah yang dinamakan mimpi jadi kenyataan?


“Apa? Keguguran, Dok?” tanya Reva untuk lebih meyakinkan dirinya.


“Ya keguguran.” Kepala sang dokter mengangguk mantap. “Setelah kami teliti, usia kandungannya baru 9 hari.”


Oh tidak ... rasanya dia ingin mati juga kalau benar suaminya telah selingkuh. Kecurigaannya kini tertuju pada kandungan Mila. Apakah janin di kandungannya adalah hasil dari hubungannya dengan Zacky? Kalau benar suaminya telah menghamili Mila, tentu hatinya akan hancur berkeping-keping. Tapi sebelum curiga lebih jauh, sekarang Reva harus tahu dulu di mana temannya itu berada sekarang.

__ADS_1


“Lalu dimana pasien Mila Sokawati itu berada, Dok? Tolong antarkan saya ke pasien itu. Sebab saya adalah sahabat karibnya,” pinta Reva.


“Oh ... jadi pasien yang bernama Mila itu sahabat Ibu Reva. Kebetulan saya sedang menunggu kedatangan orang terdekatnya,” jawab dokter. Wajahnya nampak senang ketika mendengar pengakuan Reva.


“Mungkin Ibu Reva dapat membantu kami untuk mengabarkan pada pihak keluarga Ibu Mila. Sebab semua nomor yang kami hubungi sepertinya tak mempedulikan ketika mendengar Ibu Mila kecelakaan. Bahkan ada yang langsung mematikan teleponnya,” aku Hasyid. Dia juga ikut senang kalau Reva adalah teman Mila. Karena bagi polisi, dengan adanya pihak keluarga pasien atau orang terdekatnya, itu dapat membantu dalam mendalami kasus ini.


“Mila tidak punya keluarga, Pak. Dia hanya mempunyai dua putri yang masih anak-anak,” jelas Reva. "Kalau begitu wakilkan saja pada saya. Hubungan kami juga sangat dekat.”


“Oke kalau itu permintaan Ibu Reva. Kami pun tak masalah,” jawab Hasyid. Senyumnya terbit pertama kali di sela raut wajahnya yang sedari tadi nampak serius. “Baiklah kalau begitu, kami antarkan ke ruang ICU, di mana teman Ibu Reva berada.”


Reva tersenyum. Mempersilahkan dokter untuk berjalan terlebih dahulu. Dia dan Pak Hasyid berjalan mengikuti langkah dokter.


...*****...


“Bagaimana kondisi Mila sekarang, Dok?” tanya Reva sambil mengamati keadaan Mila.


“Denyut jantung dan napasnya sudah normal. Kami menunggu Ibu Mila siuman dan kesehatannya kembali stabil. Kalau semua itu sudah, barulah kami membersihkan organ reproduksi beliau,” terang dokter.


Reva mengangguk. Sementara Pak Hasyid melihat jam tangannya. Rasanya waktunya di rumah sakit sudah cukup. Dia harus kembali ke kantor.


“Baiklah. Kalau begitu kami permisi dulu. Terimakasih atas waktunya, Bu Reva,” kata polisi itu. Mengulur tangan hendak menyalami Reva. “Selanjutnya kalau ada hal yang perlu dibicarakan lebih lanjut, kami akan menghubungi Ibu. Saya harap, Ibu bersedia membantu kami.”


Reva mengangguk. Mengizinkan polisi dan dokter meninggalkan tempat itu. Suasana menjadi hening. Hanya bunyi peralatan medis terdengar bersahutan di setiap ruang. Berpadu dengan hembusan napas pasien yang terdengar samar. Suasana sunyi bercampur harap begitu kental di sini. Tempat ini adalah tempat hidup dan mati bagi mereka yang tengah berjuang melawan sakit.

__ADS_1


Perlahan Reva berbalik badan. Melangkah mendekati Mila. Tatapannya begitu getir. Hati Reva sebenarnya sangat terpukul. Ketika terngiang kembali di telinganya pada keterangan dokter kalau Mila hamil. Entah siapa yang menghamilinya. Reva tidak tahu apa yang diperbuat suami bersama wanita itu selama dirinya sibuk mengurus bisnisnya di Malang.


Sepertinya benar dugaan polisi itu, bahwa telah terjadi pertengkaran di antara keduanya. Hal ini cukup mengindikasikan kalau mereka meributkan kehamilan itu. Pastinya sungguh hancur hati Reva kalau dugaan itu benar. Reva menarik napas dalam-dalam.


“Keluarga Mila Sokawati.” Di sela kegelisahan Reva, panggilan itu menggema di sela keheningan. Perawat yang sedang duduk di balik meja melihat ke arah Reva.


Merasa terpanggil, Reva pun segera memenuhi panggilan perawat itu. Biar bagaimanapun, ia  ingin mengetahui keadaan kawannya. Walau dia menaruh curiga yang besar pada Mila. Tapi sebelum ada bukti, Reva tetap harus mengurus sahabatnya yang sebatang kara itu.


Sesampainya di hadapan perawat, Reva duduk. Sekilas dia memandangi perawat yang memanggilnya. Raut wajah perawat itu menyiratkan bahwa akan ada hal yang tak mengenakan yang hendak disampaikannya.


“Maaf dengan Ibu siapa saya bicara?” tanya perawat itu sembari membuka lembaran-lembaran data rekam medis Mila.


“Saya Reva, Sus. Saya teman dekat pasien.”


“Oh ... teman dekat pasien. Kalau boleh tahu dimana keluarga pasien?” tanya perawat sambil menatap Reva.


“Pasien ini tak punya keluarga. Dia hanya tinggal dengan dua anaknya yang masih kecil. Kalau mau bicara terkait teman saya itu, katakan pada saya saja,” jelas Reva.


“Baiklah,” jawab perawat. Sepertinya dia juga telah berhenti memeriksa data rekam medis itu. Di sana terlampir foto-foto USG. Sebelum melanjutkan pembicaraan, perawat itu sempat menghela napas berat. “Jadi begini, Bu. Dari hasil pemeriksaan USG oleh dokter spesialis kandungan bahwa rahim teman Ibu mengalami kerusakan akibat benturan keras saat kecelakaan. Sehingga perlu dilakukan tindakan medis berupa pengangkatan dinding rahim.”


Mendengar penjelasan itu, kepala Reva menunduk dan kedua tangannya meremas sendiri jemarinya. Musibah memang tak pernah terduga dan selalu datang pada siapa saja. Seandainya suami dan sahabatnya itu tak pernah bertemu, pasti musibah mengerikan ini tak akan terjadi. Dan tak akan pernah terjadi pertengkaran hingga menimbulkan kecelakaan seperti ini.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2