
“Bu, Ayah bilang nggak usah ya nggak usah. Apa yang menimpa anak itu sekarang adalah akibat perbuatan dia sendiri,” tukas Pak Saka ngotot agar istrinya tak menjenguk Mila. Segera beliau merangkul pundak istri, mengajak berbalik badan. Kembali menaiki mobilnya dan melanjutkan niatnya pergi. “Ayo kembali masuk ke dalam mobil kita. Ayah udah telat nih janjian main golf bareng partner bisnis.”
Apa? Main golf? Putrinya sedang lemah terbaring di rumah sakit bisa-bisanya ayah Mila itu main golf, batin Reva sembari memandang sekilas wajah Pak Saka.
Namun dengan tegas Ibu Ranita menolak sikap suami. Keukeuh ingin menjenguk putrinya. Barangkali inilah saat-saat terakhir berjumpa dengannya.
“Ayah kalo nggak mau njenguk Mila juga nggak apa-apa. Jangan melarang Ibu menjenguk. Ibu bisa kok pergi dengan Nak Reva.”
Perkataan istrinya itu sontak membuat Pak Saka marah. Menilai kalau istrinya sama keras kepalanya dengan Mila.
“Bu, Ibu lupa pada kekurangajaran Mila pada kita? Dia itu sudah mencoreng nama baik kita, Bu. Ngapain pake njenguk anak itu segala,” debat Pak Saka. Nada suaranya meninggi.
“Bapak jangan berkeras hati begitu dong. Lagian ‘kan partner bisnis kita nggak ada yang tahu. Bapak ‘kan bisa ikut main golf lain hari. Biar bagaimanapun dia itu putri kita, Pah. Darah daging kita. Kita harus jenguk dia mumpung masih ada waktu.”
Tercekat Pak Saka tak dapat bicara lagi. Akhirnya, beliau pun menyerah. Membiarkan istrinya pergi ke rumah sakit menumpang mobil Reva. Tapi pria paruh baya itu tetap pada pendiriannya untuk tidak ikut.
“Kalau begitu baiklah, silahkan Ibu jenguk anak itu. Ayah tetap pergi main golf. Ngapain ketemu anak itu bikin nyesek aja. Mending main golf.” Sembari menggerutu Pak Saka berbalik badan melangkah ke arah mobilnya kembali. “Gara-gara anak itu aku telat nih.”
Setelah Ibu Ranita memandangi suaminya sampai masuk mobil sambil geleng-geleng kepala, beliau dipersilahkan Reva untuk masuk ke mobil. Dengan sigap, ia membukakan pintu. Menurutnya tidak gunanya berdebat dengan orang yang keras kepala.
“Silahkan masuk, Bu.”
“Ya terimakasih.”
Setelah menutup kembali pintu mobil, Reva juga segera masuk dan menjalankan kendaraannya menuju rumah sakit lagi.
“Nak Reva, bagaimana keadaan Mila?” tanya Ibu Ranita. Wajahnya nampak khawatir. Sebenarnya beliau itu sosok yang penyayang. Walaupun dulu beliau sempat tak peduli dengan ucapan maaf putrinya. Tak bisa dipungkiri, saat itu beliau sangat kecewa juga terpukul mengetahui Mila hamil.
“Kata dokter napas dan denyut jantungnya sudah normal tinggal menunggu Mila siuman,” terang Reva berusaha memberikan kabar yang tidak membuat Ibu Ranita makin khawatir. Waktunya belum tepat menceritakan tentang kehamilan Mila yang ada hubungannya dengan Zacky.
__ADS_1
“Lalu bagaimana kabar anak-anak Mila?”
Sembari menyetir, Reva berusaha memberi jawaban apa adanya. Mengatakan sesuai fakta kehidupan Mila saat ini.
“Mereka baik-baik saja, Bu. Pertumbuhan mereka bagus dan keduanya memiliki paras cantik seperti neneknya. Apakah Ibu sudah tahu kalau cucu Ibu kembar?”
Mendengar perkataan Reva, sekejap raut Ibu Ranita berubah. Wajah murungnya seketika lenyap. Sekejap berganti rona bahagia, mendengar Mila punya anak kembar.
“Apa kembar? Jadi ternyata Mila mempunyai putri kembar?” tanya Ibu Ranita. Nada suaranya terdengar amat gembira.
Reva tersenyum lalu mengangguk.
“Aduh Mila ... Mila ... kenapa kau tidak pulang ke rumah dan memberitahu Ibu kalau kau punya anak kembar?” rintih Ibu Ranita. Matanya mulai berkaca-kaca. Perasaannya bercampur antara bahagia dan sedih. “Kalau saja kau mau pulang bersama anak-anakmu mungkin saja Ayahmu akan luluh, Nak.”
"Tapi, Bu ...," potong Reva. Ibu Ranita melihat teman anaknya itu memurungkan wajah. Sepertinya ada suatu hal buruk yang akan dia sampaikan.
"Saya ingin mengatakan sesuatu. Tapi takutnya Ibu akan sedih dan malah nggak mau jenguk Mila."
"Apa yang ingin kau katakan tentang Mila, Rev? Tolong katakan tentang hidup Mila selama ini, Rev," desak Ibu Ranita.
"Jadi begini, Bu. Mila memang dikaruniai dua putri kembar, tapi sayangnya satu putrinya mengalami gangguan bicara," jelas Reva.
"Apa. Mengalami gangguan bicara. Bisu maksud kamu?" tekan Ibu Ranita melebarkan mata. Memandang lekat perempuan yang sedang memutar stir itu lalu melihatnya mengangguk.
Air mata Ibu Ranita pun keluar makin deras. Menangisi hidup putrinya yang menyedihkan itu. Jadi selama ini Mila hidup menderita.
"Ya Allah. Kasian sekali hidupmu sekarang, Nak," rintih Ibu Ranita kepada anaknya. Sapu tangan yang diambil dari dalam tas lalu dipepalkan ke pipi yang basah karena air mata.
Tanpa terasa mereka pun sampai di rumah sakit. Dengan buru-buru mereka langsung memasuki tempat itu. Mengikuti jalan Reva, Ibu Ranita melangkah cepat demi segera melihat kondisi putrinya.
__ADS_1
Sesampainya di ruang ICU, mereka disambut perawat. Dia menyampaikan kabar gembira pada mereka berdua, bahwa pasien bernama Mila sudah siuman.
"Kabar gembira, Bu Reva. Teman Anda sudah siuman," ucap perawat itu.
Dan saat itu juga Mila pun memanggil. Kata yang diucapkan pertama kali olehnya setelah sadar adalah ucapan kata maaf. Walaupun suaranya begitu lemah, tapi Reva tetap bisa mendengar suara temannya itu.
"Rev, maafin aku."
Mendengar ucapan itu, Ibu Ranita dan Reva menengok bersamaan ke arah Mila. Tampaknya dia telah mampu mengangkat tangan dan melambai lemah. Saking senangnya, orang tua Mila mendahului Reva untuk memeluk putrinya itu.
"Nak, syukurlah kau telah siuman," ucap Ibu Ranita sembari mendekap. Air matanya kembali berderai. Membasahi selimut yang menutupi tubuh putrinya.
Mila menggerakan kepalanya perlahan. Lehernya yang terbalut perban, membuatnya terbatas saat menengok. Hanya bisa melirik untuk bisa melihat sosok ibunya.
"Ibu, maafin Mila," ucap Mila lagi. Kata-kata maaf yang diucapkannya itu seperti orang yang sedang menghadapi sakaratul maut. Seakan besok dirinya akan tiada.
"Ya, Nak. Ibu sudah maafin kamu." Tangis Ibu Ranita makin terisak. Mengangkat badan dari peluknya. Netranya menatap lekat sang anak. Mengelus lembut sisa rambutnya yang tidak dibalut perban.
Setelah itu, Mila kembali menggeser pandangannya kepada Reva yang tak kunjung mendekat.
"Rev, kenapa kau tak mendekat. Apa kau jijik denganku?"
Raut muka Reva menyiratkan rasa berat hati untuk mendekat. Bukannya jijik tapi hatinya sudah sangat terluka akibat pengkhianatan sahabatnya itu.
"Kemarilah, Rev. Aku hendak mengucapkan maaf padamu," undang Mila. Ia berusaha mengangkat tangan lemahnya untuk kembali memanggil Reva.
Dengan setengah hati Reva memaksa kakinya untuk mendekat. Sebetulnya, ia ingin pergi dan tak mengurusi kehidupan sahabatnya itu lagi. Mumpung Mila sudah siuman dan sudah ada sosok ibu mendampinginya.
Bersambung ....
__ADS_1