
Suara ketukan pintu terdengar tiba-tiba. Seorang baby sitter yang sedang duduk menemani Nina dan Nani bermain di ruang tamu, bergegas membukakan pintu. Begitu daun pintu dibuka, nampaklah kedatangan Ibu Ranita.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikum salam, silahkan masuk, Bu.” balas baby sitter memberi senyum seraya menyambut kedatangan majikannya. Setelah itu, baby sitter menoleh pada Nina dan Nani untuk memanggil mereka. Memberitahu bahwa nenek mereka telah datang.
“Nina, Nani, lihat siapa yang datang?”
Nina dan Nani menoleh bersamaan. Wajah polos mereka menggambarkan ketidaktahuannya pada sosok yang datang itu. Mereka hanya memandangi sepintas saja pada wanita yang sedang berdiri di ambang pintu. Walaupun sambil bermain kembali, di benak mereka sebenarnya bertanya-tanya pada sosok wanita paruh baya itu. Sungguh orang yang belum pernah dilihat selama ini.
Baby sitter lantas tersenyum melihat tingkah dua anak itu, meski sikapnya cenderung abai pada kedatangan sang nenek. Sikap mereka dapat dimaklumi, karena semenjak Nina dan Nani lahir, mereka tak pernah bertemu dengan sang nenek. Pemindahan mereka ke apartemen kemarin pun tanpa didampingi beliau sendiri. Tak bisa dipungkiri nenek mereka itu wanita karir yang super sibuk. Selain itu, beliau juga harus selalu mendampingi ibu mereka di rumah sakit. Sekarang barulah ada waktu baginya untuk melihat kedua cucunya yang lucu-lucu itu.
“Nina ... Nani ... ayo jangan begitu, beliau ini nenek kalian lho,” terang baby sitter yang kemudian direspon dengan tolehan lagi kepala dua anak itu.
Di bingkai pintu, Ibu Ranita melambaikan tangan sembari memberi senyum pada dua cucunya itu. Lalu beliau coba mendekati agar mereka lebih mengenalnya. Di dekat cucu, beliau langsung memeluk mereka. Sekaligus meluapkan rasa rindu pada keduanya. Sekarang barulah beliau menyadari ternyata beginilah rasanya punya cucu. Andai suaminya juga ikut merasakan ini.
“Duh cucu nenek yang lucu-lucu. Nenek kangen banget sama kalian, Nak,” pekik Ibu Ranita sambil mengeratkan peluknya. Menciumi kening keduanya beberapa kali.
Sedang di pelukan sang nenek, dua anak itu masih diliputi wajah yang malu-malu. Maklum dipeluk oleh seseorang yang baru dijumpainya tidak bisa langsung nyaman. Pastinya ada perasaan segan dan malu.
Lama-lama Ibu Ranita pun merasakan keanehan juga pada sikap kedua cucunya sebab tak ada sedikit pun pekik kegembiraan. Kebanyakan anak-anak justru sangat senang saat bertemu dengan nenek mereka. Tapi tak apalah, apa yang terjadi pada sikap cucunya itu, beliau dapat memahami mereka yang telah lama hidup tanpa kehadiran seorang nenek. Kemudian Ibu Ranita melepaskan pelukan. Memandangi wajah kedua anak itu. Sungguh mereka mempunyai wajah yang rupawan seperti ibunya.
__ADS_1
“Nina, Nani, aku ini nenekmu. Maafkan nenek karena selama ini nenek tak peduli dengan hidup kalian.”
Ibu Ranita kembali merangkul cucu-cucunya itu. Menangis tersedu-sedu di antara pundak keduanya. Di hati Nina muncul perasaan iba pada wanita yang mengaku sebagai neneknya itu. Nani yang tak bisa bicara juga ikut merasakan keharuan ini. Lalu bersamaan tangan keduanya mengelus punggung sang nenek.
“Nenek, jangan sedih ya,” ucap Nina. “Nina dan Nani senang kok bertemu dengan Nenek.”
Mendengar ucapan Nina yang melegakan itu, membuat tangis sang nenek reda. Kembali melepaskan peluknya. Tatapan teduhnya memandangi lagi wajah mereka satu per satu sembari membelai lembut rambut keduanya.
“Nenek, apa nenek sudah bertemu dengan Ibu?” tanya Nina. Matanya menyiratkan kerinduan pada sosok ibunya yang sudah hampir sebulan tak bertemu. Sebab kedua anak itu sengaja tak diberitahu Reva kalau ibunya kecelakaan.
Ibu Ranita lantas mengangguk menjawab pertanyaan Nina. Melihat anggukan neneknya seketika wajah Nina berbinar.
“Ibu dimana, Nek. Kok sampe sekarang Ibu nggak pulang?”
“Nina dan Nani nggak usah khawatir ya. Ibu kalian baik-baik saja kok.”
Walaupun sudah berusaha menahan tangisnya tapi Nina masih dapat mendengar ucapan kesedihan neneknya itu. Hingga anak itu pun sebenarnya tak percaya kalau ibunya sedang baik-baik saja.
“Ibu baik-baik saja tapi kenapa nenek sedih? Apa Ibu sedang dirawat di rumah sakit ya, Nek?”
Seketika Ibu Ranita terhenyak mendengar pertanyaan Nina yang begitu menyelidik itu. Tak disangka Nina telah tumbuh menjadi anak yang cerdas. Buru-buru beliau menyeka air mata yang mulai membasahi pelupuk matanya. Beliau ingin tahu darimana Nina mengetahui kalau ibunya masuk rumah sakit
__ADS_1
Tanpa perlu banyak menerka, Ibu Ranita menoleh ke arah baby sitter. Beliau yakin kalau Nina mendengar pembicaraan baby sitter itu dengan sekretarisnya kemarin. Dugaannya pun semakin menguat saat baby sitter itu kelimpungan begitu Ibu Ranita memandanginya.
Hanya sesaat beliau memandangi baby sitter itu dengan penuh kecurigaan karena rengekan Nina yang ingin menjenguk ibunya.
“Ayo, Nek. Anterin aku dan Nani ke Ibu,” rengek Nina sambil menggoyangkan tangan Ibu Ranita. Nani mengangguk-angguk beberapa kali seraya mendukung rengekan kakaknya itu.
Merasa tak dimungkinkan untuk anak sekecil mereka menjenguk ibu di rumah sakit, rengekan itu segera ditolak dengan halus oleh Ibu Ranita.
“Nina dan Nani, Ibu kalian sedang tidak di rumah sakit. Ibu kalian sedang cari pekerjaan agar bisa punya uang buat kalian beli jajan.”
Tapi alasan itu tak langsung membuat Nina percaya. Anak itu tahu kalau neneknya sedang berbohong. Namun, apa daya anak sekecil dirinya tidak bisa melakukan apa-apa. Dari dalam hatinya hanya bisa mendoakan kesembuhan sang ibu.
“Oya di antara Nina dan Nani apakah sudah pernah main ke mall?” tanya Ibu Ranita mencoba mengalihkan pembicaraan agar Nina tak terus-terusan merengek.
Akan tetapi, pertanyaan itu hanya dibalas dengan gelengan jengah Nina. Ia tahu neneknya tidak akan mengabulkan permintaannya. Lagipula, dia dan adiknya selama ini tak pernah mengerti apa itu mall. Di hidup mereka hanya mengenal satu tempat saja yang terdapat banyak orang. Tempat itu adalah terminal. Tempat dimana dia dan adiknya dulu disuruh mengemis.
Sementara, dari gelengan kepala itu, Ibu Ranita merasa perlu mengajak Nina dan Nani berjalan-jalan ke mall sebagai hiburan atas kedukaan yang selama ini mereka rasakan.
“Kalo gitu kalian mau nggak jalan-jalan ke mall sekarang bersama Nenek?”
Ibu Ranita lantas mengulurkan kedua tangannya. Di hadapan kedua cucunya, beliau membuka telapak tangan. Beliau ingin tangan kedua cucunya menyambut.
__ADS_1
Namun sebelum menyambut tangan sang nenek, Nina dan Nani saling berpandangan. Keduanya berpikir cukup lama. Namun pada akhirnya, mereka pun mau menyambut tangan sang nenek sekaligus menerima ajakannya. Wajah keduanya menyeringai memperlihatkan gigi-gigi susu mereka yang berbaris rapi.
Bersambung ....