Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 25


__ADS_3

“Bu, bisa tinggalkan kami berdua?” pinta Mila kepada ibunya. Dia merasa perlu bicara berdua dengan sahabatnya itu. Sebab dari raut wajah Reva, Mila menangkap kekecewaan yang amat dalam.


Sekilas Ibu Ranita memandang Reva yang mematung agak jauh dari posisi Mila. Mukanya terlihat begitu murung. Wanita paruh baya itu tahu, di antara mereka berdua ada masalah. Namun, ini adalah urusan pribadi mereka. Beliau pun menghormati permintaan putrinya. Melangkah keluar, meninggalkan mereka. Supaya mereka nyaman bicara berdua.


Saat beliau sudah menjauh Mila menengadahkan tangan. Berharap tangan sahabatnya menyambut. Di benak Reva sebenarnya amat sungkan untuk mendekati. Tapi hati terus memaksa untuk bicara. Setengah hati ia melangkah mendekati Mila. Tanpa sedikit pun mau menyambut tangannya.


“Rev, maafin aku. Akulah yang menjebak suamimu dengan menaburkan obat perangsang di minumannya agar dia mau berhubungan intim. Sengaja aku lakukan itu karena aku ingin punya suami yang bertanggung jawab seperti Mas Zacky. Ternyata yang aku lakukan ini salah,” ucap Mila. Agar bisa mengucapkan kalimat ini, dia harus mengumpulkan segenap tenaga.


Mata Reva langsung terlihat menyala-nyala mendengar pengakuan itu. Menatap Mila dengan penuh rasa kesal. Ternyata benar dugaannya. Bahwa kehamilan wanita itu adalah hasil hubungannya dengan Zacky. Sebenarnya Reva ingin meluapkan amarah. Namun ini rumah sakit, dia tak ingin membuat kegaduhan. Tak enak juga mengganggu pasien lain.


Hanya kulit mukanya yang putih terlihat memerah. Menahan marah. Tanpa terasa air matanya sedikit demi sedikit keluar dari sudut mata.


“Kenapa elu tega ngekhianatin gue. Sedangkan elu tahu Zacky itu suami gue 'kan?” ucap Reva menatap nanar. Tampak urat matanya memerah disertai kaca-kaca.


Mata Mila terpejam. Hati kecilnya tengah mengutuk dirinya sendiri. Baru kali ini dia menyadari, kalau perbuatannya begitu kejam, menghancurkan rumah tangga sahabat sendiri. Di sudut matanya keluar pula bulir-bulir bening lalu mengalir di pelipisnya.


“Gu ... gue saat itu terbuai nafsu. Nafsu yang ingin memiliki suami elu.”


Reva menghela napas.


“Sekarang elu pasti puas udah menghancurkan rumah tangga gue. Asal elu tahu, gara-gara elu, sekarang gue kehilangan untuk selama-lamanya orang yang gue cintai.” Tangis Reva semakin deras berderai. Tangisan adalah representasi amarahnya.


Mendengar ucapan Reva, Mila membelalakan mata. Ia belum mengerti akan maksud ucapan Reva.


“Apa tadi kata lu, elu kehilangan orang yang dicintai untuk selama-lamanya. Bukannya itu berarti kalo Mas Zacky telah meninggal?”


Reva mengangguk sambil memepalkan jemari ke pipi, mengusap air mata. Isak tangisnya terdengar sampai ke telinga Mila.


Seketika tangis Mila pun pecah juga. Ikut menangis tersedu-sedu. Saat itu juga rasa bersalahnya menjadi naik berkali-kali lipat.


“Gu ... gue bener-bener minta maaf. Gue nggak tahu kalau akhirnya bakalan kayak gini.”


Tak kuat menahan kesedihan, Reva pun beranjak dari tempat itu. Berlari membuka pintu keluar. Di luar, ia masih berlari melewati Ibu Ranita. Tak peduli dengan orang tua itu yang memandanginya.

__ADS_1


Melihat Reva berlari keluar sambil menangis tadi, membuat wanita paruh baya itu terkejut. Ia ingin mengejar namun tak mampu. Sebenarnya apa yang sudah terjadi di dalam, membuat benaknya langsung disusupi kekhawatiran terhadap putrinya.


Jangan-jangan Mila ...


Takut terjadi hal yang tak diinginkan pada anak perempuannya, beliau pun segera memasuki kembali ruang itu.


Napasnya cukup terengah saat sampai di dekat Mila. Sebab tadi jalannya begitu tergopoh-gopoh. Di sana beliau juga mendapati putrinya sedang menangis.


“Ada apa, Nak?” tanya Ibu Ranita sambil mengelus dahi putrinya. “Mengapa kalian menangis?”


“Mila telah berbuat dosa, Bu. Mila telah berbuat dosa.” Sambil menangis Mila berucap. Rintihan tangisnya begitu keras. Sampai perawat dan pasien lain mendengarnya.


“Kau telah berbuat dosa apa, Nak?” tanya Ibu Ranita. Wajahnya ikut cemas.


Tak menjawab pertanyaan ibunya, malah Mila meronta. Kepalanya menggeleng tak karuan. Takut keadaannya bertambah parah, Ibu Ranita segera memanggil perawat.


...*****...


"Bagaimana keadaan anak saya, Dok?" tanya Ibu Ranita dengan cemas.


"Baik, Dok."


Begitu dokter beranjak, Ibu Ranita mengikuti sampai dia masuk ke ruang sekretariat ICU. Menduduki kursi yang sudah ada berhadapan langsung dengan Ibu Ranita.


"Bu, apakah Ibu Reva sudah memberitahu Anda soal akan dilakukannya penanganan serius terhadap putri Anda?"


Mendengar pertanyaan itu, Ibu Ranita berpikir sejenak. Keningnya tampak mengerut. Kemudian beliau menggeleng. Seingatnya sahabat putrinya itu belum mengatakan. Wanita itu menatap dokter dengan perasaan penuh tanya.


"Belum, Dok. Dia belum sempat memberitahukannya pada saya."


Kemudian dokter pun merubah posisi duduknya. Menegakkan punggungnya dari sandaran kursi. Dengan serius, menatap lekat Ibu Ranita.


"Jadi begini, Bu. Akibat kecelakaan kemarin membuat janin di kandungan putri Anda keguguran."

__ADS_1


"Apa keguguran, Dok?"


Mata Ibu Ranita terbelalak. Begitu terkejut mendengarnya.


"Jadi waktu kecelakaan terjadi Mila dalam keadaan mengandung? Lalu dengan siapakah dia hamil?" batin Ibu Ranita di sela penjelasan dokter. Tak habis pikir kalau putrinya bisa hamil lagi. Dulu ditinggal begitu saja oleh Andre dalam keadaan tengah mengandung, dan kini siapa lagi yang telah menghamilinya. Sampai wanita itu berasumsi kalau Mila kembali berhubungan lagi dengan laki-laki itu.


"Benturan keras di perut putri Anda pada dashboard mobil membuat kerusakan di bagian rahim. Sehingga rahim putri Anda harus diangkat," lanjut dokter.


Penjelasan dokter ini menambah Ibu Ranita terperangah. Mengapa keadaan putrinya bisa separah ini? Sebenarnya pergaulan seperti apa yang telah dilakukan Mila sehingga tertimpa akibat seberat ini.


"Rahim putri saya harus diangkat, Dok?" tanya Ibu Ranita, membelalakan matanya lagi, seakan tak percaya dengan yang baru saja didengarnya.


Dokter itu mengangguk pasti. Dan Ibu Ranita hanya bisa berpasrah dengan apa yang harus terjadi pada putrinya.


"Baiklah kalau memang itu yang terbaik, saya setuju, Dok."


"Baiklah kalau Ibu setuju, silahkan tanda tangan di sini sebagai bukti persetujuan Anda." Disodorkannya beberapa lembar berkas untuk ditandatangani Ibu Ranita.


Beliau pun dengan gemetar menandatangani lembar demi lembar berkas itu. Tak pernah membayangkan hal ini sebelumnya. Nasib buruk menimpa putrinya.


Setelah semua selesai ditandatangani, diberikannya kembali berkas itu pada dokter. Saat menyodorkan itu, mendadak di sekujur tubuhnya merinding. Begitu cemas dan takut pada tindakan medis itu.


"Baiklah. Terimakasih, Bu. Tindakan ini akan segera kami lakukan setelah kondisi pasien stabil. Kalau begitu silahkan Ibu boleh meninggalkan ruangan ini."


Ibu Ranita pun beranjak. Jalannya terasa begitu lesu ketika kembali pada Mila. Ketika sudah berada di sampingnya, beliau menatap sendu wajah anak itu. Air mata kemudian perlahan mengalir di pipinya.


"Nak, Ibu tak mengerti apa yang sudah kau lakukan selama ini. Maafkan Ibu yang tak mencarimu dan mempedulikanmu. Harusnya saat pertama kali kau hamil, Ibu menerimamu kembali. Tanpa mempedulikan omongan Ayahmu. Sehingga kau tak terlalu jauh terjerumus ke lubang hitam," katanya lirih. Terselip di hatinya rasa sesal yang mendalam.


Namun, satu hal lagi yang cukup menggelayuti pikirannya adalah perihal keguguran putrinya.


Lalu tiba-tiba saja beliau memikirkan sosok Reva. Anak itu pasti tahu semua hal tentang putrinya dan tentang mengapa Mila keguguran. Tapi kemana anak itu sekarang? Lepas pergi lalu tak kembali lagi.


Beliau merasa harus mencari Reva secepatnya untuk mengetahui perihal kehamilan putrinya.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2