Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 20


__ADS_3

Wanita itu cukup tenang menghadapi amarah Zacky. Tertawa jengah sambil mengangkat sebelah bibirnya. Sikapnya terang-terangan meremehkan Zacky.


“Mas, aku nggak peduli dengan cintamu pada Reva. Aku hanya peduli dengan anak di kandungan ini. Aku tak mau anak ini lahir tanpa bapak.”


“Apa kau yakin itu anakku?” pungkas Zacky. Sebenarnya, pria itu sudah tahu kalau selama ini Mila menjadi wanita penghibur. Sudah berapa banyak dia tidur dengan laki-laki hidung belang. Karena faktor itulah yang membuat Zacky ragu. Menurutnya, bisa saja janin di perut Mila adalah hasil dari hubungannya dengan laki-laki lain di luaran sana.


Sekarang giliran ucapan Zacky yang membuat wanita itu terkejut. Hingga dia merubah posisi duduknya. Menatap Zacky tajam. Dia tahu maksud pertanyaan itu. Pasti pria itu menuduhnya kalau janin di rahimnya adalah hasil dari hubungan dengan pria lain. Sepertinya pria itu akan memanfaatkan pekerjaan Mila untuk dijadikan alasan agar dia tidak mengakui kehamilan itu.


“Mas, aku memang suka berhubungan intim dengan laki-laki hidung belang. Tapi asal kamu tahu. Saat aku berhubungan dengan laki-laki lain aku selalu menyuruh mereka memakai alat kontrasepsi yang berkualitas bagus agar jangan sampai aku hamil.”


Zacky melengos. Wanita itu mencoba menepis tuduhannya. Sial, wanita itu telah benar-benar menjebaknya. Jerat yang dibuat Mila ini benar-benar sangat merugikan Zacky. Tapi, apapun bualan yang dikatakan Mila, pria itu tetap tidak mau menikahinya.


“Aku tak bisa, Mil. Aku tak mungkin bisa membagi cinta. Tak mungkin juga untuk jujur pada Reva tentang kehamilan ini.”


Perkataan Zacky itu membuat Mila diam. Tak bisa dipungkiri, rasa cinta pria itu terhadap istrinya sungguh luar biasa. Sepertinya Mila harus sedikit lembut agar dia mau memenuhi permintaannya.


Lalu yang dilakukannya saat ini adalah mencoba mengelus bahu Zacky dengan lembut. Mata pria itu hanya melihat saja apa yang hendak dilakukan wanita itu.


“Mas, aku dijadikan istri simpananmu juga tak apa-apa.”


Lantas pria itu pun tahu, ternyata apa yang dilakukan Mila adalah untuk mengambil hatinya agar menuruti permintaan yang malah lebih gila lagi.


“Nggak. Nggak mungkin. Bukannya malu malah kau menuntut permintaan yang lebih gila lagi,” tolak Zacky sembari menyingkirkan tangan Mila yang tengah merayapi bahunya.


“Terus kamu mau menelantarkan aku dan anak kita, Mas.”


Akhirnya, penentangan Mila itu membuat amarah Zacky meledak-ledak.


“Sudah aku bilang itu bukan anakku!” geram Zacky lantas memukul stir dengan kencang.

__ADS_1


Emosi Zacky itu cukup membuat Mila bergidik. Baru kali ini melihat Zacky bisa semarah itu.


Sebelumnya tak menduga. Kalau dia akan mengalami kesialan ini. Kalau saja dulu dia dan Reva tak berbaik hati pada Mila. Mungkin tak akan terjebak tipu daya wanita itu. Apa yang harus dilakukannya terhadap kandungan Mila. Kegalauan ini memunculkan niat buruk terhadap kandungan wanita itu.


“Kalau begitu lebih baik kandunganmu itu digugurkan saja.”


“Apa?”


Mata Mila melebar seketika. Amat kecewa dengan jawabannya. Karena bukan itu yang diharapkan.


“Jangan sembarangan kamu, Mas. Kenapa bisa-bisanya kau punya pikiran seperti itu?”


“Denger, Mil. Aku tidak mau rumah tanggaku hancur berantakan.”


Pertengkaran sengit berlangsung di dalam mobil. Membuat konsentrasi Zacky menyetir terganggu. Saking seringnya dia menoleh untuk mendebat Mila. Sampai-sampai tak melihat mobil dari arah berlawanan. Laju mobil Zacky jadi tak terarah. Kecepatannya yang kencang mengarah pada mobil yang berlawanan itu membuat mobil yang akan ditubruknya tak sempat menghindar. Dan tabrakan pun tak bisa terelakan. Mobil yang dikendalikan Zacky menghantam kencang mobil itu hingga terguling.


Di dalam mobil, mereka harus merasakan akibat yang fatal. Perut Mila membentur keras dashboard hingga pingsan. Sedangkan kepala Zacky pun membentur keras stir mobilnya sehingga darah keluar dan mengucur di dahi dan pelipisnya. Benturan keras itu membuatnya tak sadarkan diri. Tak berdaya, tubuhnya menelungkup di atas stir mobil.


Tak lama kemudian polisi berdatangan. Beberapa orang petugas memeriksa keadaan mobil yang terguling. Dan beberapa lagi memeriksa mobil yang dikendarai Zacky.


“Kondisi sopir dan dua penumpang di mobil yang terguling itu semuanya meninggal,” kata salah satu polisi melapor pada rekannya.


“Kecelakaan dua mobil yang betul-betul mengerikan.”


Rekannya mengangguk menyetujui pendapatnya. Lalu petugas lain menghampiri dua polisi yang sedang berdiskusi itu usai memeriksa kondisi Zacky dan Mila.


“Kondisi penumpang laki-laki di mobil itu meninggal. Sedang penumpang perempuan kondisinya kritis.”


“Oh ternyata ada yang masih hidup juga ya. Sungguh beruntung perempuan itu bisa selamat dari kecelakaan maut ini. Kalau gitu saya harus secepatnya minta bantuan ke rumah sakit terdekat. Semoga korban yang kritis itu bisa diselamatkan.”

__ADS_1


Dengan kompak dua rekannya mengangguk atas usulan polisi itu. Tanpa berlama-lama, ditungganginya motor dinas kepolisian yang selalu dikendarainya saat bertugas menuju rumah sakit.


Selepas anggota polisi itu pergi, petugas lain kemudian menghampiri. Kepada dua rekannya, dia memperlihatkan ponsel yang dia dapatkan dari mobil Zacky.


“Pak, saya mendapati ponsel korban di mobil itu. Berita baiknya ponsel ini masih bisa digunakan untuk komunikasi.” Polisi itu lalu menyodorkan benda itu pada rekannya.


Bagi polisi, ponsel kepunyaan korban sangat penting. Dengan alat itu mereka bisa mendapatkan nomor keluarga korban yang bisa dihubungi.


“Bagus kalau begitu. Coba sini biar saya langsung hubungi keluarga korban.”


Dari ponsel itu, polisi coba melacak mana orang yang sering dihubungi Zacky dari pesan singkat terbaru yang dikirim. Kebetulan sekali ada pesan masuk terbaru yang belum dibaca korban. Pesan masuk itu tertulis “My Wife”. Polisi itu lantas meyakini kalau pesan singkat itu dikirim oleh istri korban.


Secepatnya petugas itu menghubungi istri Zacky. Tanpa menunggu lama, panggilannya langsung tersambung.


“Halo, selamat siang,” sapa polisi itu dengan nada berat.


Dari balik telepon, Reva bertanya-tanya saat mendengar suara berat itu dari nomor ponsel Zacky yang disimpannya. Dia lantas keheranan karena dia yakin orang yang bicara di telepon bukan suaminya.


“Maaf ini siapa ya?” Untuk menghilangkan rasa penasarannya Reva pun bertanya.


“Mohon maaf, Ibu. Saya dari kepolisian. Hendak mengabarkan kalau suami ibu kecelakaan,” ujar polisi itu yang seketika membuat Reva terkejut bukan kepalang.


“Apa kecelakaan, Pak? Terus bagaimana kondisi suami saya sekarang?” jawab Reva. Dalam sekejap debaran jantungnya jadi tak menentu. Sebagai istri, tentunya dia sangat khawatir pada kondisi suaminya.


“Mohon maaf, Bu. Suami Ibu meninggal.”


“Apa? Meninggal? Yang benar saja, Pak. Bapak jangan mengada-ada ya,” tukas Reva. Tak terima dengan berita ini. Mustahil suaminya meninggal karena tadi pagi terlihat segar bugar dan sempat sarapan bersama.


“Saya mengabarkan yang sebenarnya. Suami Ibu mengalami kecelakaan di jalan raya. Saat kami memeriksanya, suami Ibu sudah dalam keadaan tak bernyawa. Kalau Ibu tak percaya. Ibu bisa melihat keadaan jenazah suami Ibu di Rumah Sakit Citra Pamungkas.”

__ADS_1


Setelah mendapat keterangan dari polisi, Reva langsung mematikan ponselnya. Tak kuasa mendengar berita ini. Seketika jiwanya seperti direnggut paksa dari raga. Tubuhnya tak mampu lagi tegak berdiri. Wanita itu akhirnya pingsan di lantai diskotiknya.


Bersambung ....


__ADS_2