
“Woy ... Ibu Reva pingsan,” teriak salah satu karyawan diskotik pada temannya. Karyawan itu melihat sendiri atasannya jatuh ke lantai setelah menerima telepon.
Beberapa rekan kerjanya yang mendengar teriakan itu, segera membopong atasannya ke sofa panjang. Sesampainya di atas sofa, tiga karyawan laki-laki yang membopong itu lalu membaringkan tubuh bosnya. Karyawan perempuan dan beberapa pengunjung yang mengerumuni ikut merasa cemas.
“Aduh gimana ini?” kata salah satu dari mereka. Maklum kebanyakan orang pasti akan kebingungan saat menolong orang pingsan.
“Panggil dokter atau perawat aja. Perasaan gue pernah lihat sekitar sini ada klinik,” kata karyawan lain.
“Ya betul. Lebih baik elu panggilin dokter atau perawat aja. Daripada elu semua nggak bisa nanganin orang pingsan ‘kan?” dukung karyawan perempuan.
“Baiklah gue ke klinik sekarang.” Karyawan yang kebingungan itu lalu bergegas menuju klinik terdekat.
Sementara karyawan lain yang masih tetap di situ berusaha memberi pertolongan pertama sebisa mungkin. Dengan memberikan aromatherapy minyak kayu putih, harapannya beliau akan segera siuman dengan mengirup aroma itu.
Tak beberapa lama, seorang dokter didampingi dua perawat datang. Salah satu perawat terlihat membawa tabung oksigen berukuran kecil. Selang napas kemudian dipasangkan menangkup hidung Reva. Sementara sang dokter memeriksa denyut jantung. Dari ujung stetoskop yang diselipkan ke dalam dua lubang telinganya, denyut jantung wanita itu terdengar lirih. Seorang perawat yang selesai mengatur dosis obat suntik, segera menyuntik ke pembuluh nadi.
Beberapa menit setelah obat itu bereaksi, Reva pun tersadar.
“Syukurlah,” desis salah satu karyawan perempuan.
“Ada apa ini? Kenapa kalian mengerumuniku?” tanya Reva sambil berusaha mendudukan tubuhnya. Dia tak ingat beberapa menit yang lalu telah jatuh pingsan.
Lamat-lamat dia melihat dokter dan perawat di dekatnya. Mereka terlihat memberi senyim. Dengan adanya petugas medis segala, itu membuat dia makin bertanya-tanya.
“Dokter, apa yang terjadi denganku?” Gerakan Reva berhenti dari keinginannya untuk duduk. Sepertinya masih belum mampu untuk sekedar duduk saja. Dia hanya bisa memiringkan tubuhnya di sandaran sofa. Kepalanya serasa berat untuk digerakkan.
“Ibu tadi pingsan. Salah satu karyawan Ibu mendatangi klinik lalu meminta tolong pada kami,” jelas dokter. Diikuti dengan anggukan kepala dua perawatnya yang seraya mengiyakan perkataan dokter.
“Apa iya aku pingsan tadi?” tanya Reva sembari menyoroti beberapa karyawan yang ada di hadapannya.
“Iya bener, Bu. Tadi Ibu pingsan,” jawab karyawan laki-laki yang menjadi saksi mata. “Saya lihat Ibu Reva pingsan setelah menjawab panggilan telepon.”
__ADS_1
Begitu mendengar penjelasan karyawannya itu, Reva jadi teringat pada telepon dari polisi yang mengabarkan kalau suaminya mengalami kecelakaan dan tewas seketika.
Ketika ingatannya beberapa saat yang lalu telah kembali, ia memaksa dirinya untuk bangkit. Walaupun tenaganya belum pulih, wanita itu berusaha berdiri. Berjalan langkah demi langkah meskipun terseok-seok.
“Lha, Ibu Reva mau kemana? Tenaga Ibu belum sepenuhnya pulih lho, Bu,” tegur Dokter.
“Tidak apa-apa, Dok. Saya sudah merasa mendingan kok. Saya harus segera ke Rumah Sakit Citra Pamungkas, Dok. Ada yang lebih darurat daripada keadaan saya ini. Suamiku tewas karena kecelakaan mobil, Dok,” jelas Reva lalu kembali melangkah menuju mobilnya. Semua pasang mata hanya tertegun melihat kepergian mobil yang ditunggangi Reva.
Sambil mengendarai mobil, sepanjang jalan Reva berlinangan air mata. Betapa tidak menyangka akan secepat ini Zacky meninggalkannya.
...*****...
Sertibanya di rumah sakit, Reva buru-buru memakirkan mobil. Keluar dari kendaraannya dan langsung masuk IGD. Di dalam, ia bertanya pada perawat dimana jenazah suaminya berada.
Atas permintaan Reva, perawat pun mengantarkannya ke ruang pemulasaran jenazah. Begitu sampai di ruang itu, Reva melihat empat jenazah yang ditutupi selimut sekujur tubuhnya. Dimana salah satu di antara mereka adalah suaminya.
“Dimana suami saya, suster?” tanya Reva dengan napasnya yang tersengal karena habis menangis di sepanjang jalan. Pipinya nampak basah dengan air mata.
Setelah dia temukan kertas bertuliskan Zacky Alamsyah, barulah melambaikan tangan pada Reva. Dengan cepat Reva pun menghampiri. Perawat kemudian menyingkap kain yang menutup bagian wajah jenazah Zacky untuk diperlihatkan pada istrinya. Dan begitu Reva melihatnya, tangisnya pun pecah kembali. Di atas jenazah suami, ia menangis histeris.
“Ya Allah, Mas Zacky.” Reva meratap di atas tubuh Zacky yang terbujur kaku. Menangis sejadinya. Tak peduli pada suster yang menemaninya. “Aku nggak menyangka sebelumnya kamu bakalan seperti ini, Mas.”
Reva terus menangis. Sampai-sampai ia tak menyadari kedatangan dokter dan seorang orang polisi. Baru saja mereka mendapat laporan dari perawat IGD kalau salah satu keluarga jenazah telah datang.
“Mohon maaf, apakah Anda bernama Reva Yuniar, istri dari Bapak Zacky Alamsyah?” tanya seorang polisi yang sudah berdiri tegak di dekat jenazah korban lain.
Mendengar pertanyaan itu, Reva sementara menghentikan tangisnya. Pandangannya kemudian beredar pada dua orang laki-laki yang datang itu.
“Ya benar,” jawab Reva sembari mengusap air mata.
“Boleh minta waktunya sebentar?”
__ADS_1
Reva mengangguk. Setelah menutup kembali wajah jenazah suaminya, dia pun menghampiri. Memenuhi panggilan polisi itu.
“Perkenalkan nama saya Hasyid,” kata polisi itu memperkenalkan diri. Mengulur tangan mengajak Reva berjabat tangan. “Saya anggota polisi yang ditugaskan untuk menuntaskan kasus kecelakaan ini.”
Perkataan polisi itu kemudian dibalas dengan anggukan lemah Reva. Wajahnya terlihat sendu. Sebagai seorang polisi tentu tahu wanita di hadapannya sedang terguncang jiwanya lantaran kematian suami.
“Pak Hasyid, Mengapa suami saya bisa begini, Pak?” tanya Reva. Matanya kembali berkaca-kaca.
Polisi pun ikut sedih. Kedukaan yang dirasakan Reva sepertinya telah menular kepadanya.
“Sabar, Bu. Saya ikut berduka cita atas meninggalnya suami Ibu,” ucap Hasyid. menangkupkan tangannya di depan dada.
“Bisa Bapak ceritakan kronologi kecelakaan yang dialami suami saya, Pak?”
Polisi itu diam sesaat. Dengan sangat teliti ia membuka lembaran-lembaran hasil olah TKP untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya saat kecelakaan itu terjadi.
“Jadi begini, Bu. Dengan didukung beberapa bukti dan beberapa saksi mata, mobil yang dikendarai suami Ibu Reva menabrak mobil lain sampai terguling.”
Mendengar penjelasan polisi, membuat telapak tangan Reva menutupi mulutnya yang membuka secara spontan, saking terkejutnya.
“Tidak. Tidak mungkin. Pak Hasyid pasti bohong ‘kan?” Wanita itu coba mengelak penjelasan Pak Hasyid. Kepalanya menggeleng beberapa kali, tak percaya kalau suaminya bersalah. “Saya tahu sendiri, Pak. Suami saya sangat hati-hati kalau mengendarai mobil.”
Pak Hasyid hanya bisa menghela napas mendapat pengelakan itu. Sebagai seorang polisi yang berpengalaman tentunya tahu kalau Reva sangat terpukul dengan kejadian ini, jadi masih sulit menerima kebenaran yang ada.
“Saya mohon Ibu Reva tenang dulu,” pinta Hasyid. Mengisyaratkan dengan kedua tangannya agar Reva menurunkan emosinya. “Jadi begini, Bu. Dari pernyataan saksi mobil suami Ibu melaju kencang tak terkendali. Mobil dari arah berlawanan sebenarnya sudah sempat menghindar namun karena kecepatan mobil yang dikendarai Pak Zacky begitu tinggi jadi mobil yang menjadi lawannya hanya punya sedikit waktu untuk menghindar. Terus dari hasil olah TKP kami menyimpulkan kalau di perjalanan Pak Zacky sempat terlibat adu mulut dengan perempuan yang kami temukan tak sadarkan diri juga di dalam mobil.”
“Apa kata Bapak, ribut dengan perempuan lain di dalam mobil?” Reva makin dibuat terperanjat mendengar penjelasan Hasyid yang terakhir. Otaknya pelan-pelan berusaha mencerna kronologi kecelakaan ini. “Berarti saat Zacky mengendarai mobil, dia tengah bersama perempuan?”
Hasyid pun mengangguk. Tampaknya istri korban sudah mulai memahami penjelasannya.
Bersambung ....
__ADS_1