Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 26


__ADS_3

Siang ini Ibu Ranita mendatangi diskotik. Menurut informasi dari teman Mila yang juga mengenal Reva, biasanya selesai jam makan siang Reva mengontrol diskotik untuk prepare karyawan.


Setibanya di tempat itu, beliau mengedarkan pandangan. Tidak menemukan keberadaan Reva sejauh mata memandang. Namun, Ibu Ranita tak mau hanya sekedar melihat dari jauh. Beliau pun mendekat ke salah satu karyawan yang sedang mengelap meja untuk memastikan keberadaan Reva di situ.


"Permisi."


Mendengar ada orang menyapa, karyawan itu menengok dan memberi senyum ramah.


"Ya ada yang bisa saya bantu, Bu?"


"Saya mau tanya apakah Ibu Reva ada di sini?"


"Belum, Bu. Mungkin sebentar lagi. Ibu tunggu saja di sini." Karyawan itu menyarankan dengan menghamparkan tangannya pada kursi tamu yang baru saja dibersihkan.


"Apakah Ibu Reva pasti ke sini?"


Sejenak karyawan itu terdiam. Mencerna perkataan wanita paruh baya yang ada di hadapannya. Benar juga ya, bisnis Ibu Reva 'kan banyak. Kali aja beliau tidak mampir ke sini.


"Baiklah, Bu. Saya akan menghubungi Ibu Reva sekarang. Ibu tunggu saja," ucap karyawan itu lalu bergegas menuju telepon yang terletak di meja dekat kasir.


Di tempat Ibu Ranita duduk, beliau melihat karyawan itu sedang menelepon. Ketika telepon tersambung, ucapannya sayup-sayup terdengar sampai ke telinga.


"Halo Ibu Reva. Ada tamu yang hendak menemui Ibu sekarang. Kelihatannya sih penting sekali."


Sesaat setelah mengatakan seperti itu, karyawan itu menaruh kembali gagang telepon di tempatnya. Lantas, ia kembali pada Ibu Ranita, melaporkan perintah atasannya supaya beliau menunggu.


"Ibu tunggu saja. Ibu Reva akan menuju ke sini."


Mendengar ucapan itu, Ibu Ranita pun mengangguk sembari tersenyum. "Terimakasih."

__ADS_1


"Baiklah, Bu. Saya lanjutkan bekerja." Setelah permisi, karyawan itu lanjut mengelap meja dan sofa yang ada di samping tempat duduk Ibu Ranita.


Tak perlu waktu lama beliau menunggu, Reva pun datang. Sembari berdiri, Ibu Ranita menyambutnya dengan senyum sumringah. Saat sudah di hadapan, beliau menyalami tangan sahabat putrinya itu.


"Silahkan duduk kembali, Bu." Atas permintaan Reva, Ibu Ranita pun kembali duduk. Sebelum ikut duduk, dia memanggil karyawan agar membawakan minuman untuk tamunya itu.


Bersamaan dengan Reva duduk, karyawannya datang membawakan menu minuman. Telunjuk Ibu Reva menunjuk saja minuman Jasmine Tea kesukaannya. Ketika mengetahui minuman yang diminta, karyawan itu menuju dapur untuk membuatkannya.


Selepas karyawan itu pergi, barulah Reva membuka pembicaraan.


"Duh ... maaf ya, Bu Ranita. Sudah membuat Ibu menunggu," ujar Reva.


Ibu Ranita tersenyum sambil melambaikan tangan memberikan isyarat bahwa beliau tak masalah menunggu Reva.


"Tidak apa-apa. Malahan saya merasa kalau kedatangan saya ke sini mengganggu kesibukan Nak Reva."


Ucapan Ibu Ranita itu kemudian dibalas dengan senyuman Reva. "Tidak, Bu. Seperti biasa saya hanya berkeliling memantau kinerja karyawan saya."


"Silahkan diminum dulu, Bu Ranita," tawar Reva selepas karyawannya pergi. Lantas, mereka pun bersama-sama meminum teh itu.


"Jadi begini, Nak Reva," ucap Ibu Ranita setelah menyesap sedikit dari minuman itu. Dengan antusias, Reva bersiap mendengarkan. "Saya ingin tanya apakah Nak Reva tahu Mila hamil dengan siapa?"


Deg. Jantungnya seolah berhenti. Akhirnya Ibu Ranita tahu kehamilan Mila. Yang sebelumnya dia sudah meyakini hal itu karena sudah barang tentu dokter harus memberitahukan yang terjadi pada keluarga pasiennya. Kini Reva pun gusar. Harus bagaimana menjawabnya. Kalau jujur tentunya akan sangat memalukan rumah tangganya. Akan tetapi kalau tetap disembunyikan, lama-lama bau busuk akan tercium juga.


"Hemmm ...." Reva begitu dilanda dilema. Beberapa kali jarinya mengetuk meja seraya berpikir apa yang harus dikatakannya.


"Ada apa Reva? Kelihatannya kau mengetahui," selidik Ibu Ranita. Karena beliau yakin ada sesuatu yang diketahui wanita itu.


"Ja-jadi begini, Bu. Memang sudah seharusnya saya terbuka sama Ibu." Perlahan dia coba ungkapkan yang sesungguhnya. Meski memalukan, tapi Reva harus menjelaskannya pada orang tua Mila itu. "Jadi yang sebenarnya Mila telah hamil oleh suami saya, Bu."

__ADS_1


Reva pun menelan ludah setelah mengatakan itu.


Namun, bagi Ibu Ranita ungkapan jujur itu seakan dirinya disambar petir di siang bolong.


"Apa kamu bilang, hamil oleh suami kamu? Mengapa bisa seperti itu?"


"Kemarin waktu kami bicara berdua, Mila telah mengatakan yang sesungguhnya kalau dia sendiri yang sengaja menjebak suami saya. Memberikan obat perangsang yang dicampur bersama minuman," jelas Reva. Lantas menghirup napas dalam-dalam usai mengungkapkan hal itu.


Di hadapannya, Ibu Ranita terlihat lebih terperanjat. Saking tak percayanya, beliau sampai menutup mulutnya sendiri yang menganga secara spontan.


"Ja-jadi begitu. I-Ibu tak mengira Mila dapat melakukan perbuatan segila itu," keluh Ibu Ranita. Kepalanya menggeleng tak percaya. Beliau benar-benar tak habis pikir putrinya mengajak suami sahabatnya sendiri berhubungan intim.


Reva menghela napas berat. Menatap nanar pada gelas di hadapannya. Beberapa detik suasana di antara mereka menjadi senyap.


Di raut wajah Ibu Ranita tersirat malu yang tak terkira pada Reva. Sehingga membuatnya menangkupkan telapak tangannya di atas punggung tangan Reva. Sentuhan itu memudarkan kejengahan di raut wajah wanita yang telah dikhianati putrinya itu. Kiranya dia perlu mewakilkan Mila untuk memohon maaf pada Reva.


"Nak Reva, saya minta maaf atas kelakuan anak saya," pinta Ibu Ranita. Tatap matanya sayu. Telah nampak kaca-kaca di pelupuk mata.


Sesungguhnya masih berat hati Reva memaafkan kesalahan sahabatnya itu. Seorang sahabat yang seharusnya bisa dipercaya malah berkhianat. Merenggut suaminya. Sampai tega menjebak agar bisa berhubungan intim. Di samping hilang kepercayaan, kini dia pun merasakan getahnya, kehilangan suami yang amat dicintai.


"Bu, tak perlu repot-repot memohon maaf atas nama putri Ibu," bisik Reva. Dengan halus menarik telapak tangannya. Setelah terlepas, tangannya kemudian mengaitkan kembali tali tasnya ke pundak. Bersiap untuk pergi dari hadapan Ibu Ranita.


"Saya mohon, Bu. Terimalah Mila kembali. Agar Mila tak mengganggu kehidupan saya lagi. Permisi."


Setelah mengatakan itu, Reva langsung beranjak pergi. Meninggalkan Ibu Ranita yang semakin tenggelam dalam kekecewaannya. Netra beliau pun terbelalak menatap kepergiannya. Tampak saraf matanya memerah karena menahan tangis.


Lihat, Reva pun enggan memaafkan putrinya. Tak dapat dipungkiri hati wanita siapa yang tak hancur kalau suaminya diajak selingkuh wanita lain.


Tapi perkataan Reva sebelum pergi tadi ada benarnya juga. Ibu Ranita berpikir kalau sekaranglah saatnya untuk membujuk sang suami agar memaafkan dan menerima kembali Mila. Walau dirasa sulit, beliau akan mencoba mengambil hati suami. Sebagai Ibu, walaupun anaknya telah melakukan kesalahan yang fatal, tetaplah Mila adalah putri yang lahir dari rahimnya sendiri.

__ADS_1


Bersambung ....


__ADS_2