Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 8


__ADS_3

Hari ini usia kehamilan Mila genap 7 bulan. Mual, nyeri ulu hati, kram perut, dan gangguan pencernaan mulai dirasakannya. Selain itu, seringkali ia mengalami rasa cemas dan perubahan suasana hati yang begitu cepat. Cemas karena bayi yang dikandungnya bakalan tidak berbapak. Seringkali rasa marahnya tiba-tiba meledak ketika mengingat perselingkuhan Andre.


Air matanya mengalir lalu menetes ke perut buncitnya. Di sofa, Mila duduk termangu sembari mengelus perut.


Berkali-kali terbesit di pikiran untuk mengakhiri hidup bersama buah hati yang dikandungnya. Pernah sebulan yang lalu ia memukul-mukul perutnya berharap janinnya keguguran. Beruntung Reva mendapatinya dan segera mencegah.


Tak bisa dipungkiri, selama ini sahabatnya itu selalu peduli. Reva percaya kalau Mila dapat melewati semua ini. Beruntung, di saat masalah begitu deras mendera, dia masih punya sahabat sebaik Reva. Bahkan, selama delapan bulan sahabatnya itu dengan baik hati mengizinkan Mila tinggal di rumahnya.


Karena Reva tahu Mila tak punya uang untuk mengontrak rumah. Setiap kali kontrol kandungannya, Mila harus berhutang pada Reva semenjak semua kartu kredit diblokir ayah.


Pemblokiran itu dilakukan Pak Saka setelah pertengkaran besar itu terjadi. Selain itu, sewaktu pacaran dengan Andre, tagihan terus membengkak untuk berfoya-foya. Nasi sudah menjadi bubur sekarang. Sesal pun sepertinya tak ada guna. Uang dan harga diri Mila telah lenyap gara-gara kekasihnya yang berengsek itu. Kalau saja ia menurut pada kemauan ayah dan ibu, pasti tidak akan mengalami nasib buruk seperti ini.


“Mil, minum susunya dulu. Biar janinmu sehat?”


Reva mendekat sambil membawakan segelas susu lalu disodorkan pada Mila.


“Thanks, Rev.”


Diambilnya gelas itu lalu diminum isinya. Sungguh terasa menyegarkan. Sedikit melegakan pikirannya yang kalut.


“Terus apa yang akan kau lakukan, Mil. Apa kau akan terus mencari Andre agar dia mau bertanggung jawab?” tanya Reva setelah Mila menghabiskan susu.


Kepala Mila lantas menunduk tak tahu lagi. Hanya air mata terus menetes sampai membasahi daster. Menangis terisak. Di sampingnya, Reva ikut terharu.


“Gue nggak tahu, Mil. Gue pengen pulang ke ortu gue,” rintih Mila. Tangannya mengambil beberapa tisu yang disodorkan Reva untuk menghapus air mata yang sudah sangat membasahi pipi.


“Apa tidak apa-apa kalo elu ke ortu elu sementara elu dalam keadaan seperti ini?” tanya Reva, mengalihkan pandangan ke perut Mila. Ia ragu dengan keinginan sahabatnya. Bukannya kedua orang tua Mila bahagia karena mendapatkan cucu, yang ada mereka akan marah besar. Betapa tidak yang namanya hamil di luar nikah itu sangat mencoreng nama baik keluarga.

__ADS_1


“Ya gue tahu pasti Ayah akan makin marah dengan keadaan gue ini. Tapi gue perlu mereka, Rev. Belum lagi biaya persalinan yang nggak sedikit. Gue juga nggak pengen terus-terusan ngrepotin elu.”


Untuk beberapa saat Reva terdiam mencerna ucapan sahabatnya. Ada benarnya juga. Setidaknya Mila perlu dukungan dari orang tua untuk bisa menguatkannya.


“Baiklah besok gue antar elu balik. Gue harap nggak akan terjadi apa-apa. Bokap elu mau maafin sehingga elu diterima kembali.”


Dibalik sosoknya yang suka dengan dunia gemerlap, Reva mempunyai kepedulian yang tinggi. Hal itu dirasakan Mila sejak sekolah dulu. Membuat hati Mila kembali terenyuh lalau merengkuh sahabatnya itu. Di bahu Reva, ia menangis tersedu-sedu.


"Rev, thanks banget. Elu udah baik banget sama gue. Apa jadinya gue kalo nggak punya sahabat sebaik elu. Mungkin gue udah jadi gelandangan."


"Tak usah dipikirkan. Udah jadi kewajiban gue. Lagian kita 'kan udah sahabatan lama. Elu udah gue anggep seperti saudara gue sendiri," balas Reva sembari mengusap lengan Mila.


...*****...


Gerimis menyambut mereka saat membuka pintu mobil. Khawatir sahabatnya kehujanan, dengan sigap Reva turun terlebih dahulu untuk memayungi Mila.


Tanpa pikir panjang beliau segera membukakan gerbang. Mengabaikan perintah tuannya. Semenjak peristiwa memalukan itu, Pak Saka mengeluarkan perintah agar tidak membukakan gerbang apabila Mila pulang. Tapi siapa sangka keadaannya berbeda sekarang, sungguh tak tega membiarkan Non Mila yang sedang hamil dibiarkan kehujanan. Apalagi hujan bertambah deras. Akhirnya, Pak Aryo segera meminta mereka masuk ke pos. Beliau berharap, mudah-mudahan dengan datangnya Non Mila yang tengah hamil, hati tuannya bisa tersentuh.


“Silahkan duduk, Non!” Disodorkannya kursi plastik yang tadi didudukinya. “Saya mau menelepon Pak Saka dulu.”


Mila mengangguk. Perlahan ia duduk di kursi itu sembari meringis menahan sakit di punggungnya.


Biarlah hari ini Mila berjuang agar orang tuanya dapat menerimanya kembali. Perasaan takut juga harap menyelimuti hati ketika mendengar lirih suara orang tuanya di telepon.


“Silahkan, Non. Non Mila boleh masuk.”


Tak lama hujan mereda, Reva bersama Mila memasukkan mobil ke halaman. Perlahan mereka menapakkan kaki di teras rumah. Penuh dengan rasa was-was, tangannya gemetar begitu menekan bel. Ia berusaha menguatkan hati. Berharap kedua orang tuanya dapat menerima kembali dirinya dan janin yang dikandung sebagai cucu mereka.

__ADS_1


Jantungnya pun makin berdebar, saat pintu rumahnya terbuka. Mila menatap lamat-lamat sosok ayahnya yang makin terlihat di hadapannya. Sebuah sorot mata menyala menyambutnya. Celaka, ini pertanda tidak baik. Terbukti, tanpa basa-basi ayahnya mendekat dan langsung menamparnya.


Tamparan itu sangat keras. Reva pun sampai menutup mata, tak kuasa melihatnya.


Di sana Ibu Ranita hanya bisa mematung. Tak lagi membela seperti dulu. Raut mukanya menyiratkan kekecewaan yang luar biasa. Diam seribu bahasa, menatap nanar Mila yang sangat mencoreng nama baiknya.


“Dasar anak memalukan. Mau ditaruh mana mukaku, kalau anaknya datang-datang sudah hamil begini!”


Mendengar itu, Mila langsung bersimpuh memegangi kaki ayahnya. Sambil menangis ia memohon ampun.


“Yah, maafin Mila. Ampuni Mila, Yah.”


“Aku sudah tidak peduli lagi dengan kamu. Kehamilanmu adalah kesalahanmu sendiri yang dengan mudahnya percaya pada laki-laki yang tak kau tahu asal-usulnya," maki Pak Saka yang sudah sangat tersulut emosi. Tak ingin dipeluk putrinya, kakinya dikibaskan dengan kasar hingga Mila terjengkang ke belakang. "Aku tak sudi kakiku disentuh oleh anak kotor seperti kamu."


Sepertinya keadaan menjadi sangat mencekam. Melihat temannya terjengkang, Reva langsung menolong. Membantu Mila untuk kembali berdiri. Dipandanginya Pak Saka dengan sinis. Menurutnya perbuatan itu sangat keterlaluan pada seorang perempuan yang tengah hamil.


"Jangan panggil aku dengan sebutan ayah lagi. Karena mulai sekarang kau bukan anakku,” sambung Pak Saka. Setelah mengatakan itu, beliau melempar wajahnya. Tak ingin melihat Mila.


“Yah, jangan begitu, Yah. Maafin Mila. Mila benar-benar menyesal.” Mila kembali bersimpuh kembali menangis sesenggukan. Namun, Pak Saka tak bergeming. Perempuan itu menolak diajak berdiri oleh Reva karena tak ada gunanya dia bersimpuh lagi di kaki ayahnya. Tapi dia menolak. Ia ingin terus bersimpuh sampai ayah memaafkannya.


Merasa permohonan maafnya tak diterima ayah, Mila mencoba mengejar ampunan dari ibu. Bersimpuh juga di kakinya. Berharap ibu yang berhati mulia itu memaafkannya. Namun, permohonan maafnya itu ternyata sia-sia juga. Ibunya tak berkata sepatah katapun. Malah ikut membuang muka seperti yang telah dilakukan ayah. Air matanya saja yang mengalir. Miris, melihat anaknya sudah separah ini.


Melihat Mila diabaikan, hati Reva merasa iba. Ia tahu kalau orang tua Mila tak mungkin memaafkan kesalahannya sekarang. Tak bisa dipungkiri, Mila yang datang dalam kondisi hamil tanpa suami itu, tentu sangat memalukan dan menghancurkan reputasi keluarga.


“Mil, sudah, Mil. Ayo kita pergi,” ajak Reva menghampiri sahabatnya yang masih bersimpuh di kaki ibunya. Gadis itu ikut berlinang air mata. Merasakan juga kesedihan ini. Setelah cukup lama dibujuk, Mila pun bersedia diajak pergi dari hadapan orang tuanya. Karena memang sudah tak ada maaf lagi untuknya. Buktinya, mereka tak menahan saat keduanya beranjak dari situ.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2