
Ponsel Mila berdering saat baru mengambilnya dari loker. Waktu menunjukkan pukul satu siang. Semua karyawan lekas istirahat dari pekerjaannya.
Mumpung lagi rehat, Mila segera menerima panggilan itu. Dan suara lelaki terdengar di seberang telepon. Dikiranya pria yang menelepon itu adalah pelanggannya yang akan mengajaknya tidur. Ternyata dugaannya salah. Pria penelepon itu ternyata Zacky.
Jelas senang rasanya mendapat telepon dari pria itu. Hati Mila pun bersorak. Rasanya lebih menggembirakan dibanding pria-pria hidung belang yang biasa mengajaknya tidur.
“Iya halo, Mas,” Mila berusaha memelankan suara supaya tak ada seorang pun mendengar. Sebab Zacky cukup dikenal di perusahaan ini. Kalau teman kerjanya tahu, tentu akan timbul gosip murahan.
“Mbak Mila, makan siang yuk. Di rumah makan padang depan pabrik.”
Apa Mas Zacky mengajaknya makan siang? Mimpi apa Mila semalam?
Diajak makan siang oleh pria setampan Zacky, wanita itu jadi terbawa perasaan. Akibatnya dia seperti orang gila. Berjalan dengan senyum-senyum sendiri. Ajakan ini seakan Zacky sedang menyemai bibit-bibit asmara di hati Mila. Memantik api cinta. Tanpa perlu pikir lagi, wanita itu pun langsung mengiyakannya.
“Baik, Mas. Tapi Mas sejujurnya ....”
Ucapan Mila tiba-tiba berhenti karena ada yang mengganjal di hati. Bukannya menolak, hanya saja sedikit kurang nyaman jika makan siang di tempat itu. Takut kalau teman kerja menggosipinya. Ditambah lagi sebagian dari mereka sudah tahu kalau Zacky punya istri.
“Sejujurnya apa, Mbak Mila?”
“Sejujurnya aku nggak suka makan di situ. Aku takut teman kerjaku ngegosipin macam-macam tentang kita. Mas tahu ‘kan mulut karyawan di sini?” jawab Mila makin memelankan suara, sebab ini perkataan yang sangat sensitif buat didengar. “Gimana kalo warung sate yang agak jauhan. Itu tuh yang deket perempatan.”
“Oh gitu. Okelah. Saya jemput ya pas jam makan siang.”
“Jangan, Pak. Lebih baik Bapak nunggu aja di warung itu. Nanti saya ke situ.”
__ADS_1
Zacky pun setuju saja. Setelah menyetujui, pria itu memutuskan pembicaraannya di telepon, mungkin dia langsung bergegas ke tempat yang diminta. Sedangkan Mila bergegas naik angkutan umum yang akan melewati warung sate. Tak lupa tengok kanan-kiri memastikan tak ada yang melihatnya.
Sesampainya di tujuan, dengan cepat Mila turun dari kendaraan itu. Sekali lagi ia harus tengok kanan-kiri memastikan keadaan aman. Ia tak mau ada karyawan lain tahu. Kencannya dengan Zacky harus aman tanpa seorang pun orang pabrik melihatnya.
Dari dalam warung, Mila melihat mobil Zacky sedang menepi. Kemudian pria itu pun keluar. Menyebrang jalan dan segera masuk warung.
Melihat penampilan Zacky hari ini yang terlihat sangat tampan dengan setelan jas warna biru, Mila langsung terpukau. Siapa wanita yang tak jatuh hati kalau melihat pria ini. Ketampanan dan kekayaannya, mendorong Mila untuk mendekatinya. Meskipun pria itu adalah suami sahabatnya sendiri.
“Bang, pesan sate sama lontong dua porsi, ya,” kata Zacky sambil menarik kursi. Pucuk dicinta ulam pun tiba, Mila duduk berhadapan dengan Zacky
Posisi duduk ini sangat diharapkan Mila. Wanita itu berusaha merapikan rambutnya agar tak terlihat berantakan. Tersipu saat mata Zacky memandangi. Sungguh, tatapan pria itu bisa membuat hati wanita siapapun meleleh.
“Ada apa mengajak saya makan siang ya, Mas?” tanya Mila coba mengawali pembicaraan.
Kepala Mila mengangguk beberapa kali seraya memahami perkataan Zacky. Wanita itu mengira Zacky akan membicarakan sesuatu yang penting. Jadi hanya itu, dia mengajak makan siang.
"Keadaan Mila sudah baikan kok. Buktinya hari ini Mila berangkat kerja," jawab Mila datar.
...*****...
Sejak pertemuan di warung sate kemarin, Mila lebih sering mengajak Zacky bertemu. Contohnya hari ini, Mila kembali mengajak jalan. Dan yang membuatnya teramat senang, pria itu mau saja diajak jalan. Membuat wanita itu berpikir kalau Zacky menaruh perasaan padanya.
Mila tahu kalau Zacky adalah pria kesepian semenjak bisnis kuliner Reva di Malang makin berkembang. Menjadikan pertemuan keduanya makin berkurang. Dari yang dulu dua minggu sekali, sekarang menjadi sebulan sekali. Perhatian Reva ke Zacky pun lambat laun makin terpinggirkan oleh kesibukan. Keinginan mereka untuk punya anak pun kemudian memudar. Mana mungkin Reva ada waktu untuk melanjutkan program hamilnya. Pulang ke Jakarta pun kalau dia senggang.
Lama-lama Zacky berubah jadi pria yang rindu buaian istri. Kesempatan ini tentunya benar-benar dimanfaatkan Mila dengan baik. Kapan pun pria itu minta ketemu, Mila selalu ada waktu.
__ADS_1
Tak lama menunggu, Zacky pun datang. Seperti biasa gaya pria itu selalu membuat Mila kesengsem dengan kerapian dan tentu wajah tampannya. Potongan rambutnya rapi dan selalu terlihat klimis.
“Hai, Mas.” Senyum Mila merekah menyambut kedatangannya. Tak lupa dia mengajak Zacky cium pipi kiri dan kanan. Sengaja supaya lebih intim.
“Maaf ya buat Mbak Mila menunggu.”
“Tidak apa-apa.” Kemudian Mila pun memberanikan diri mengusap lembut bahu Zacky.
Zacky pun menengok ke bahu yang sedang disentuhnya. Merasa tak enak berlama-lama di bahu pria itu, Mila lekas menarik tangannya. Dan wanita itu menjadi gugup. Cepat-cepat mengalihkan pandangannya ke arah lain. Menyembunyikan pipinya yang memerah.
Dari dalam rumah, Nina melihat ibunya bersama Om Zacky. Mereka tak tahu apa-apa. Hanya tahu tentang rasa senangnya pada Om Zacky yang sering datang akhir-akhir ini. Dan mereka pun bersyukur, ibu jadi jarang menyiksa mereka.
Maklum saja, anak sekecil itu belum mengetahui tujuan ibu sebenarnya. Kalau saja saat ini Nina bukan anak kecil, mungkin dia akan terang-terangan menentang apa yang dilakukan ibunya.
Dua anak kembar itu kemudian didekati Zacky. Tangannya menyodorkan dua es krim untuk mereka. Sementara di belakang, Mila melihat sinis pada kedua anaknya. Seakan iri pada mereka karena selalu diberi perhatian yang lebih.
“Mba Mila, Mba harus bersyukur dikaruniai dua anak yang baik seperti mereka.”
Mila hanya berdehem. Dengan terpaksa mengiyakan perkataan Zacky. Memutar bola matanya jengah. Melempar pandangan ke arah lain. Pemikirannya berlawanan dengan perkataan pria itu. Karena yang sebenarnya, ia tak ingin direpotkan anak-anaknya.
“Kalo saja Tuhan memberiku anak-anak yang lucu seperti mereka. Pasti aku akan menyayangi dengan sepenuh hati,” kata Zacky sekaligus menyindir halus agar Mila memberi perhatian lebih pada kedua anaknya. Tidak menyuruh mereka mengemis lagi.
Namun sayangnya, Mila tidak merasa tersindir. Bahkan kata-kata Zacky itu memberikannya ide. Ia ingin memanfaatkan keinginan Zacky itu. Kalau wanita itu siap memberinya seorang anak kapan saja dia mau. Dibanding Reva yang belum bisa memberi anak di empat tahun usia pernikahannya. Dia dapat menebak kalau pria itu sebetulnya menginginkan kehadiran seorang anak.
Bersambung ....
__ADS_1