Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 5


__ADS_3

Nyamuk silih berganti berdenging di telinga. Beberapa ekor juga menggigit tangan dan pipi. Gigitannya cukup membuat kulit gatal. Dua orang security berulangkali memukul nyamuk-nyamuk yang menyerang bahkan sampai menampar pipi sendiri.


Sambil berseteru dengan nyamuk, sesekali Pak Aryo mendongakan kepala melihat jam dinding di atasnya. Tanpa terasa waktu sudah jam satu dinihari. Tapi Non Mila tak kunjung pulang.


Sebenarnya malam ini bukan tugas jaga Pak Aryo. Namun, karena diperintah Pak Satria menunggu kepulangan Mila, beliau menurut saja.


Sekarang, Pak Satria memperkerjakan dua petugas keamanan. Satu orang yang hari ini ditemani Pak Aryo tugas malam, bernama Pak Sadikin yang baru dua bulan bekerja. Jadi belum Pak Satria percayai untuk mendapat tugas yang berhubungan dengan keluarga.


Meski kantuk melanda, Pak Aryo berusaha agar matanya tetap awas, barangkali tiba-tiba Mila datang. Sekali lagi petugas keamanan itu melihat jam dinding. Sudah pukul dua pagi. Pertanda malam makin larut. Tapi Non Mila belum juga pulang.


Sebenarnya kemana saja Non Mila sampai larut malam begini belum pulang? Padahal tidak baik seorang gadis pergi bersama pacarnya sampai larut malam begini. Pikir Pak Aryo sembari memandangi gerbang.


“Gimana, Pak Aryo?”


Suara Pak Satria kemudian terdengar. Dari jarak beberapa meter, beliau nampak berjalan bersama Ibu Retno. Buru-buru kedua security itu keluar pos, memberi hormat majikan mereka.


“Belum ada tanda-tanda Non Mila pulang, Pak. Padahal sudah jam 2 lho,” jawab Pak Aryo sembari menundukan kepala ketika majikannya tiba di hadapan.


Pak Satria terlihat amat geram.


“Dasar anak susah diatur,” tukas Pak Satria dengan menghantamkan tangannya yang mengepal ke telapak tangan sendiri. “Awas aja akan saya marahi habis-habisan Mila dan pacarnya itu."


Melihat suami marah-marah sendiri, Bu Retno coba menenangkannya dengan mengelus pundak suami. “Sabar, Yah. Bentar lagi juga pulang. Kita doakan saja semoga tidak terjadi apa-apa pada anak kita.”


Ibarat paranormal perkataan Bu Retno menjadi nyata, tak lama kemudian mobil yang ditumpangi Mila dan Andre datang dan berhenti depan gerbang.

__ADS_1


Bak singa yang menyergap mangsa, Pak Satria langsung mendamprat putrinya begitu melihatnya turun dari mobil. Tanpa disuruh, dengan sigap dua security-nya membukakan gerbang. Mereka segera menghentikan Andre yang hendak kabur.


“Ekh mau kemana elu,” tegur Pak Sadikin. Dengan sangat berani beliau menghadang mobil. “Mau kabur lu. tanggung jawab dong. Bawa anak orang sampe larut malam begini.”


Merasa tak bisa kemana-mana lagi, Andre akhirnya keluar.


“Santai dong, Pak. Jangan bentak-bentak gitu,” jawab lelaki yang berperawakan kurus tinggi itu.


Melihat Andre keluar dari mobil, Pak Satria langsung menghajarnya.


“Kurang ajar kamu ya. Berani-beraninya kamu bawa anak saya sampai malam begini,” bentak Pak Satria. Kemudian, satu tinju lagi dilayangkan ke hidung Andre hingga darah pun keluar dari salah satu lubang hidungnya.


Tak mau pacarnya dihajar, Mila berlari menghalangi sang ayah.


“Minggir kamu!” Pak Satria menyingkirkan Mila yang coba menghalangi.


Tak ada rasa kasihan lagi, anak gadisnya juga ditampar dengan amat keras. Sampai Bu Retno berteriak meminta suaminya berhenti meluapkan amarahnya. Tak mau terjadi hal yang tidak diinginkan, wanita itu berlari menyelamatkan putrinya.


“Sudah, Yah. Hentikan!” teriak Bu Retno sembari menangis. Biar bagaimanapun, Mila adalah anak perempuan satu-satunya. Sudah kewajibannya untuk melindungi dari orang yang menyakiti meski itu ayahnya sendiri. Karena itu beliau langsung memeluk Mila. Dengan begitu, ayahnya tak bisa lagi menampar. “Sadar, Yah. Kendalikan emosimu. Lihat ini putrimu. Biarpun dia bersalah, jangan begini caranya menghukum.”


“Sudah, Bu. Jangan membela Mila. Mila nggak butuh pembelaan siapapun,” ucap Mila. Tangannya terus mengelus bekas tamparan sang ayah lalu perlahan melepaskan dekapan ibu. Malahan gadis itu berpaling dan menghampiri kekasihnya. Mengacuhkan sang ibu yang justru sedang mengkhawatirkannya. Hati Mila benar-benar sedang dibutakan cinta. Sekarang dirinya sudah tak dapat lagi membedakan mana orang yang tulus mencintainya dan mana yang tidak.


“Nak, apa kau lebih sayang kekasihmu daripada Ibu?” tanya Bu Retno dengan terisak. Melihat putrinya memapah Andre menuju mobil.


“Biarkan saja dia, Bu. Anggap saja kita tidak mempunyai anak perempuan. Dasar anak tak bisa diatur!”

__ADS_1


Mata Mila terbelalak mendengar perkataan sang ayah yang membuat hatinya hancur seketika. Lalu menatap ayahnya penuh amarah.


“Kalau memang Mila susah diatur jangan lagi mengaturku, Yah. Aku sangat mencintai Andre. Kalau Ayah tak merestui hubunganku dengan Andre, biarkan aku pergi. Karena aku mau hidup dengan Andre.”


“Dasar kau sudah hilang akal. Kau harusnya tahu mana lelaki yang bertanggung jawab dan mana yang tidak,” tutur Pak Satria. Menatap tajam putrinya yang telah masuk ke dalam mobil. Anak gadisnya itu hendak menggantikan Andre yang tak mungkin bisa menyetir sekarang.


Perkataan sang ayah membuat Mila tersinggung. Karena tak kuat lagi mendengar makian yang tidak mengenakan, gadis itu menghidupkan mesin mobil dan segera meninggalkan kedua orang tuanya.


Bu Retno masih menangis tersedu-sedu di dada suami. Tangannya dilambaikan seraya meminta Mila kembali.


“Mila jangan tinggalkan Ibu lagi, Nak,” teriak Bu Retno. Merintih dan meratapi kepergian anaknya. Tangannya terus melambai sampai mobil yang dikendarai Mila lenyap dari pandangan mata. Wanita itu akhirnya menyerah. Tangannya kini memukul-mukul dada suaminya. “Ibu tak menyangka akan seperti ini, Yah. Mengapa saat sudah dewasa, Mila menjadi begitu sikapnya?”


“Ayah juga nggak tahu, Bu. Sudahlah anggap aja kita tak punya anak seperti dia,” jawab Pak Satria. Beliau mengelus pundak sang istri. “Sudahlah, Bu. Biarkan anak itu pergi. Sekarang, lebih baik kita masuk rumah. Udara sangat dingin. Nggak baik terlalu lama di luar. Ayah nggak mau Ibu sakit. Kita lebih baik kembali istirahat,” bujuk Pak Satria sembari menuntun istrinya berjalan masuk ke dalam rumah. Beliau terus memberi ketenangan sang istri yang masih menangis di pelukannya.


Sedangkan di lain sisi, hinaan demi hinaan orang tua Mila makin menyuburkan rasa dendam di hati Andre. Kalimat-kalimat yang begitu terasa menusuk hati terngiang di sepanjang perjalanan. Dia amat geram. Kekasihnya itu harus menerima akibat dari penghinaan ini.


“Kita mau kemana ini, Ndre?” tanya Mila kebingungan. Pikirannya begitu kalut karena keributan tadi.


Mendengar pertanyaan itu, Andre merasa mendapat jalan untuk balas dendam. Lalu terbesit di pikirannya, menggiring Mila ke hotel. Sakit karena dipukul ayah kekasihnya tadi, bisa dijadikan alasan untuk beristirahat ke hotel. Ia akan memanfaatkan rasa cinta Mila yang begitu besar pada dirinya untuk mau mengikuti semua keinginannya di hotel nanti.


“Ke hotel milik keluargaku aja, Mil. Kebetulan kita akan melewatinya. Udah deket kok. Aku ngantuk banget. Terus sakit banget nih luka lebam di pipi dan bibirku,” kata Andre sambil bertingkah seolah menahan sakit. Padahal hantaman Pak Satria tak ada apa-apanya dibanding rasa sakit di hatinya.


Ucapan Andre kemudian membuat Mila merasa bersalah. Gadis itu meminta maaf atas perlakuan ayahnya tadi. Tangannya yang halus mengelus pipi Andre yang lebam.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2