Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 29


__ADS_3

Ponsel dalam tas Ibu Ranita berdering. Untuk menjawab panggilan telepon itu, sementara beliau lepaskan genggaman erat telapak tangan dua cucunya. Bergegas merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Dilihatnya layar benda itu, ada nomor asing memanggilnya.


“Hallo, selamat siang,” ucap orang di seberang telepon.


“Selamat siang,” balas Ibu Ranita dengan raut wajah yang penuh tanya.


“Apakah ini dengan Ibu Ranita?”


“Ya benar saya sendiri. Ada apa ya Pak?”


“Saya dari rumah sakit memberitahukan bahwa hari ini, akan dilakukannya operasi pengangkatan rahim Ibu Mila,” terangnya.


Terkejut bukan kepalang ternyata operasi putrinya dimajukan hari ini. Bersamaan dengan matinya panggilan itu, Ibu Ranita bergegas menuju rumah sakit.


“Cucuku, jalan-jalan ke mall ditunda dulu ya. Soalnya Nenek harus menemui Ibu kalian,” kata wanita paruh baya itu. Tapi setelah mengatakan ini, beliau merasa keceplosan atas ucapannya tadi. Harusnya jangan mengatakan seperti itu di depan Nina dan Nani yang menggugah keingginan mereka untuk ikut menemui ibunya.


“Apa ketemu dengan Ibu, Nek? Kami ikut dong, Nek. Kami juga pengin ketemu Ibu,” rengek Nina.


Meski Ibu Ranita tahu betapa besar kerinduan Nina dan Nani pada ibunya, beliau tetap tidak akan mengabulkan permintaan dua anak itu untuk ikut. Mereka akan lebih aman kalau tetap tinggal di apartemen.


“Nina dan Nani, tadi Nenek salah ngomong. Maksudnya bukan bertemu dengan Ibu kalian, tapi Nenek mau bertemu dengan Ibunya teman Nenek,” kilah Ibu Ranita coba mencari alasan. Selain itu, wajahnya harus terlihat sumringah agar mereka percaya.


Dari alasan yang dikatakan neneknya, Nina langsung menekuk wajah. Merasa kecewa rengekannya tak dikabulkan. Dia tahu kalau neneknya berbohong.


“Ya sudah Nenek tinggal dulu ya.” Sebelum berdiri, beliau menciumi pipi kedua cucunya. Dan setelah puas, dua cucunya itu ditinggal kembali bersama baby sitter.


*****

__ADS_1


Di jalan Ibu Ranita melajukan mobil sekencang yang beliau mampu. Sambil menyetir, beliau berusaha menghubungi suami. Agar suami tahu kalau putrinya akan dioperasi hari ini. Beliau dengan sabar menunggu sampai panggilan ponselnya tersambung. Sudah panggilan yang kedua kalinya, panggilan itu belum tersambung juga.


Akhirnya, pada panggilan yang ketiga, barulah Pak Saka menerima panggilan itu.


“Halo, ada apa, Bu? Aku lagi meeting nih. Akh kau mengganggu aja,” sahut Pak Saka dengan nada tinggi. Sialnya, Ibu Ranita tak tahu kalau sekarang suaminya sedang meeting. Sudah dapat dipastikan kalau suaminya tidak akan mau menunggu putrinya sampai operasi selesai. Akan tetapi, ini sebenarnya bukan masalah, karena meeting bisa ditunda. Apalagi sekarang keadaan putrinya sedang sangat memprihatinkan.


“Yah, lebih baik kau tunda dulu lah meeting kamu itu. Sejam lagi Mila mau operasi pengangkatan rahim lho,” protes Ibu Ranita.


Akan tetapi sikap Pak Saka benar-benar keras. Alih-alih khawatir, diberi kabar seperti itu, laki-laki itu justru berkata bahwa itu bukan urusannya. Diangkatnya dinding rahim Mila adalah akibat dari perbuatan dia sendiri.


“Ibu ini memang susah dibilangin ya. Ayah ‘kan sudah pernah bilang kalo semua yang menimpa anak itu bukan urusan Ayah lagi. Kalau dia mau operasi, ya itu akibat dari perbuatan anak itu sendiri.”


Mendengus kesal, Ibu Ranita mendengar jawaban itu. Tak mau berbicara terlalu lama lagi, beliau langsung mengakhiri pembicaraan dengan suaminya.


...*****...


“Ya, Nak. Ibu akan selalu mendoakanmu. Kamu tak usah khawatir ya. Ibu ada di sini. Pasrahkan saja semuanya pada Tuhan,” tutur Ibu Ranita sembari mengimbangi langkah dua orang perawat yang begitu cepat membawa putrinya. Sembari berjalan, tanpa terasa air mata mengalir begitu saja.


Ketika tiba di depan ruang operasi, Ibu Ranita diminta menunggu di luar. Rasa takut Mila semakin menjadi. Seolah kematian ada di depan mata. Sesungguhnya, dia ingin sang ibu terus berada di dekatnya.


“Suster, biarkan Ibu saya ikut masuk ke dalam,” pinta Mila kepada perawat. Namun, perawat yang mengantarnya hanya diam saja tak mengabulkan pasien itu.


Sedang dari dalam mata Mila masih bisa melihat sang ibunda ketika pintu ruang sedikit demi sedikit ditutup. Dengan segenap tenaga, Mila sedikit mengangkat badan untuk melihat ibunya yang hanya bisa terpaku.


“Ibu Mila tenang aja ya. Operasi ini akan berhasil kalau Ibu Mila tenang dan optimis. Banyak berdoa saja.” Perawat baru buka suara begitu dia selesai mempersiapkan segala peralatan yang diperlukan dokter. Tak lama kemudian, beberapa dokter spesialis datang dan bersiap memulai operasi.


Sementara di luar, Ibu Ranita menunggu dengan cemas. Ribuan pujian terhadap Tuhan beliau gumamkan di bibirnya yang bergerak-gerak. Di hatinya penuh harap agar putri satu-satunya itu selamat. Beliau terus gelisah menunggu di sudut kursi tunggu.

__ADS_1


Dan di tengah kegelisahannya, tiba-tiba terdengarlah suara seorang wanita memanggil namanya.


“Bu Ranita.”


Sontak Ibu Ranita mendongak. Beliau sungguh terkejut melihat kehadiran Reva. Bagaimana dia bisa tahu?


“Nak Reva?”


Reva pun segera menghampiri Ibu Ranita dan memeluknya. Keduanya lantas menangis sambil berpelukan.


“Apa operasinya sudah dimulai, Bu?” bisik Reva.


“Baru saja. Dari siapa kau tahu kalau hari ini Mila menjalani operasi, Nak?”


“Nggak tahu, Bu. Sejak kemarin Reva merasa ada dorongan yang kuat untuk kembali menjenguk Mila. Sebetulnya Reva ingin mengabaikan begitu saja dorongan itu. Tapi entahlah, semakin diabaikan, dorongan itu terasa semakin kuat. Karena itulah sekarang Reva putuskan menjenguk Mila lagi. Begitu tanya perawat, dia bilang kalo Mila sedang dioperasi sekarang. Jadi Reva langsung ke sini.”


Mendengar penjelasan Reva, Ibu Ranita tersenyum dan melepaskan pelukannya. Tangan teman anaknya itu digandengnya menuju kursi untuk bersama-sama duduk.


“Sekali lagi Ibu minta maaf atas kelakuan Mila yang sudah mengkhianati kamu dan rumah tanggamu, Nak,” ucap Ibu Ranita kembali minta maaf karena tempo hari Reva belum bisa memaafkan kesalahan putrinya. Wanita itu berucap sembari berlinangan air mata. “Ibu tahu kalau yang dilakukan putri Ibu adalah kesalahan yang sangat besar. Meski berat tapi Ibu mohon maafkan putri Ibu, Nak.”


Hati Reva merasa iba atas permintaan maaf Ibu Ranita yang sepertinya keluar dari lubuk hati yang paling dalam. Tak mau wanita paruh baya itu terus menerus memohon maaf, Reva pun dengan ikhlas memaafkan sahabatnya. Lagian dia juga merasa kalau dirinya tak boleh terlalu lama menyimpan amarah atas peristiwa yang sudah terjadi.


“Saya sudah memaafkan Mila kok, Bu.”


Mendengar ucapan itu, Ibu Ranita bernapas lega. Betapa Reva sudah berjiwa besar, mau memaafkan kesalahan sahabatnya.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2