
Di ruang tunggu ICU, Reva merasa resah. Apa yang harus dilakukannya? Sebenarnya dia bisa dengan mudah menelantarkan Mila yang sudah mengkhianati itu. Namun dia tak sampai hati melakukannya. Satu hal yang membuatnya tak tega menelantarkan sahabatnya adalah kenangan. Memang ada beberapa manusia di dunia yang tak bisa membuatnya kejam pada seseorang, hal itu karena kenangan yang pernah dilalui mereka dulu.
Dan puing-puing kenangan itulah yang sekarang membuat Reva jadi teringat pada orang tua Mila. Sudah lama memang Reva tak bertemu keduanya. Seketika muncul perasaan untuk mengabarkan kondisi Mila yang sedang kritis pada mereka. Dorongan itu pun semakin kuat, hingga membuatnya mampu untuk beranjak menuju ke kediaman Pak Saka.
Tak sabar ingin segera mengabarkan kondisi Mila pada mereka, dengan kencang Reva memacu mobilnya. Karena biar bagaimanapun Pak Saka dan Ibu Ranita harus tahu. Kiranya sudah cukup mereka membenci Mila. Sekarang putri mereka sedang sangat membutuhkan pertolongan kedua orang tuanya.
Sejurus kemudian tibalah Reva di rumah orang tua Mila. Dari luar pintu gerbang, terlihat Pak Saka dan Ibu Ranita hendak pergi. Untungnya, dia sampai tepat waktu. Kalau saja ia datang setelah mereka pergi, pasti akan lain ceritanya. Karena itulah, Reva segera membunyikan klakson mobil bertubi-tubi agar security rumah itu dengar dan secepatnya membukakan gerbang.
Usahanya pun berhasil, tanpa menunggu lama, security keluar. Segera membuka gerbang. Namun, begitu pintu gerbang terbuka, Reva tak langsung diperbolehkan masuk. Ia musti ditegur dulu oleh security. Cara Reva membunyikan klakson terus menerus, membuat security kesal. Penjaga keamanan itu mengetuk kaca mobil dengan cukup keras.
"Keluar elu. Bikin brisik aja. Nggak ada sopan santunnya elu ya," hardik security itu sembari menunjuk-nunjuk. Dari dalam Reva dapat mengartikan makian security dari gerakan bibirnya.
Tanpa takut pada hardikan security, Reva membuka kaca mobil. Wanita itu tak berbalik marah. Agar penjaga keamanan tak terus-terusan menghardik, dia melempar senyum dan memberi hormat dengan anggukan kepala.
"Maaf, Pak. Terpaksa saya melakukan itu, karena ada kabar duka yang harus saya kabarkan pada Pak Saka," jelas Reva mencoba tak terpancing pada teguran security. Tapi usahanya tak berhasil, penjaga keamanan itu tetap melotot dan berkacak pinggang. Reva memaklumi, sebagai penjaga keamanan dia harus bersikap tegas. Reva menyadari kesalahannya membunyikan klakson bertubi-tubi. Andai posisinya tak sedang darurat pasti tidak akan melakukan itu.
"Gue bilangin elu ya, kalau bertamu ke rumah orang tuh yang sopan."
"Pak, denger nggak tadi saya sudah minta maaf. Kenapa Bapak ini masih marah-marah?" tukas Reva melebarkan mata, dia lama-lama jengah pada nada keras security itu. Hingga security akhirnya menurunkan nada suaranya.
__ADS_1
"Saya melakukan itu karena saya ingin secepatnya bertemu dengan Pak Saka. Kabar duka ini harus secepatnya disampaikan pada beliau," lanjut Reva.
"Kabar duka apa? Sampaikan kepada saya dulu baru saya izinkan masuk," timpal security itu.
Sikap security itu lantas membuat Reva makin kesal. Menurutnya tidak patut seorang bawahan mau tahu urusan yang akan disampaikan pada atasan. Takut beritanya tersebar kemana-mana.
"Ekh Pak. Bapak tidak perlu tahu urusan saya dengan atasan Bapak. Karena tidak patut dan tidak sopan Bapak melakukan ini. Lebih baik buka gerbangnya dan perbolehkan saya masuk."
Perdebatan yang cukup lama itu akhirnya membuat Ibu Ranita melihat dari kejauhan. Beliau heran pada mobil yang tak segera disuruh masuk oleh security-nya. Lama-lama beliau pun tahu, kalau penjaga keamanannya sedang berdebat dengan orang di dalam mobil. Ini tak boleh dibiarkan. Tidak enak kalau sampai tetangga melihat. Segera beliau bilang ke suami kalau di depan ada tamu. Pak Saka yang sudah bersiap di dalam mobil, keluar kembali dari kendaraan itu. Secepatnya, mereka menghampiri security dan tamunya yang sedang beradu mulut.
"Ada apa ini?" tanya Ibu Ranita setelah mendekat. Pandangannya beredar pada security dan Reva.
Melihat majikannya datang, security langsung mengambil sikap hormat. Dia berusaha menjelaskan kesalahan Reva yang tak punya etika.
"Stop nggak perlu dibahas lagi! Biar saya yang bicara," sela Reva saat security hendak menjelaskan, dengan cepat Reva memotong perkataannya. Menurutnya tak penting lagi untuk membahas masalah keributan yang sepele ini. Karena ada masalah yang lebih penting lagi. Agar Ibu Ranita dan Pak Saka mengenali, Reva keluar dari mobil. Saat Reva sudah keluar, security pun kembali ke pos jaga. Membiarkan bos dan tamunya berbicara.
Namun, ketika melihat Reva, kedua orang tua Mila malah sudah tak mengenali. Maklum empat tahun sudah kami tak pernah bertemu. Ketika permintaan maaf Mila ditolak mentah-mentah, Reva tak menyambangi lagi rumah itu.
"Maaf, Anda siapa ya?" tanya Ibu Ranita. Matanya menyoroti penampilan tamunya itu dari atas ke bawah.
__ADS_1
Untuk menjaga suasana hati kedua orang tua itu, Reva berusaha untuk tetap bersikap ramah. Bersalaman dan mencium tangan mereka.
"Nama saya Reva, Tante. Apakah Om dan Tante masih ingat saya?"
Dengan kompak suami istri itu saling berpandangan lalu menggeleng. Mereka lupa pada sosok Reva yang waktu itu pernah menemani Mila.
"Baiklah. Ada perlu apa Nak Reva ke sini?" Sembari menyedekapkan tangan ke dada, kening Ibu Ranita tampak berkerut.
"Jadi begini. Kedatangan saya ke sini, hanya untuk mengabarkan kalau Mila sedang koma di rumah sakit akibat kecelakaan kemarin," jelas Reva dengan sangat berhati-hati. Tentunya berita tentang Mila sangat sensitif untuk keduanya.
Terbukti, tanpa perlu waktu lama, berita itu langsung membuat Ibu Ranita menangis. Beliau pun sangat terkejut mendengarnya. Bagaimanapun beliau adalah orang yang pernah melahirkan Mila. Jadi lebih peka terhadap apa yang sedang menimpa putrinya.
"Pah, Mila kecelakaan, Pah." Sembari menangis, Ibu Ranita membenamkan wajah ke dada suami. Menangis sesenggukan di sana. "Pah, ayo jenguk anak kita, Pah. Aku ingin melihat keadaannya."
Akan tetapi, perasaan Ibu Ranita dan suaminya bertolak belakang. Kabar komanya Mila tak membuat hati Pak Saka tersentuh. Malah menyangka berita ini adalah akal-akalan putrinya agar mendapat simpati mereka. Agar kedua orangtuanya itu mau memaafkan. Sebab kini beliau sudah tak percaya anak itu lagi.
"Tak perlulah Bu, kita melihat anak itu. Barangkali ini adalah akal-akalan anak itu aja. Lagi pula aku sudah tak menganggap anak itu sebagai anakku."
Terkesiap Ibu Ranita mendengarnya. Hati suaminya seakan sudah membatu tak mau merasakan betapa susah keadaan putrinya saat ini. Reva pun tertegun saat mendengarnya juga.
__ADS_1
Tekad Ibu Ranita untuk tetap menjenguk putrinya tak sampai membuat hati suami tergerak juga. Pak Saka benar-banar tak mau membuka hati sedikitpun untuk memaafkan putrinya. Sampai sekarang sepertinya beliau belum bisa melupakan kekurangajaran Mila yang mengabaikan peringatannya dulu. Kalau saja anak itu mau menurut untuk menjauhi Andre, pasti tak akan begini. Kalau ingat pembangkangan putrinya dulu, rasanya untuk mendengar namanya pun jadi malas.
Bersambung ....