Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 13


__ADS_3

Reva mengetuk perlahan pintu rumahnya. Letih sangat terasa menggelayuti badan. Ingin segera rebahkan diri setelah melewati perjalanan panjang.


Sayangnya pintu tak kunjung dibuka walau sudah beberapa kali mengetuknya. Hingga Reva menunggu cukup lama. Saat dia coba mengetuk pintu lebih keras lagi, alangkah terkejutnya dia, yang ternyata pintu tak dikunci.


Perempuan itu heran melihat pintu yang tidak dikunci. Tak biasanya suami tidak mengunci pintu rumah. Yang dia tahu selama ini, suaminya sangat teliti juga protektif pada rumah dan seisinya. Tapi sudahlah, dia tak mau berpikiran yang lebih jauh lagi, mungkin saja suaminya lupa mengunci pintu.


Wanita itu segera masuk rumah. Rumahnya terlihat lengang. Dengan pelan dia langkahkan kaki mencari keberadaan suami.


Setelah beberapa langkah, Reva dibuat terkejut karena di dalam rumah, ia mendengar suara perempuan sedang berbincang dengan laki-laki. Tawa dan obrolannya terdengar mesra, layaknya suami istri. Suara mereka terdengar menggema di telinga. Wanita itu sangat penasaran apalagi suara laki-laki yang terdengar, tidak asing di telinganya. Tidak salah lagi, ia sangat yakin kalau itu suara suaminya. Napasnya makin memburu seiring dia mempercepat langkah. Sekejap dirinya dirasuki kekhawatiran.


Matanya menjelajahi beberapa ruang, namun tak ada siapapun. Satu persatu ia melongok ke ruang baca, ruang piano, dan kamar tamu, nampak kosong. Tapi anehnya, suara itu makin terdengar jelas.


Langkah kakinya terus mengikuti suara tersebut. Hingga suara-suara itu menuntun Reva ke arah kamarnya sendiri. Memang benar, ketika berhenti di depan kamarnya, suara-suara itu terdengar lebih jelas dari sebelumnya.


Napas Reva makin terengah. Emosi dan takut pun bercampur. Tapi, ia harus segera tahu dengan perempuan siapa suaminya bercanda. Prasangka buruk pada suaminya pun kemudian berkecamuk di kepala.


Dan begitu pintu kamar dibukanya, alangkah terkejutnya dia saat melihat Zacky dan Mila tengah berpelukan dalam satu selimut. Sontak tangis Reva pun pecah seketika.


Di bingkai pintu Reva mematung. Darah di sekujur tubuhnya seakan berhenti mengalir. Lemas seketika. Saat itu juga dia ambruk ke lantai.


Dan bersamaan dengan itu, Reva pun terbangun dari mimpinya. Menarik napas panjang hingga ia terduduk. Napasnya pun terengah-engah. Dia mengusap muka berkali-kali. Kepalanya mendadak terasa pusing. Terasa berat sekali sampai harus disangga dengan dua tangannya.


Matanya Mengerjap. Tak habis pikir mimpi itu seperti nyata. Di dalam mimpi, Zacky dan Mila berselingkuh. Pertanda apakah ini. Dalam waktu singkat perasaannya berubah jadi tak enak.


Tak mau menunggu lama, dia bergegas ke kamar mandi. Membersihkan diri. Berganti pakaian. Hari ini juga ia harus terbang ke Jakarta. Sebab mimpi itu tak boleh terjadi.


...*****...

__ADS_1


Di bandara, Reva mengabarkan suaminya, bahwa hari ini akan terbang ke Jakarta. Kabar ini memang sangat mengejutkan. Tak pelak, membuat Zacky keheranan. Kerena memang sebelumnya tak ada rencana istrinya bakal pulang minggu ini.


“Kenapa bisa mendadak gini? Apa nggak lusa aja sekalian weekend?”


Mendengar suaminya seakan tak setuju dengan kepulangannya yang mendadak ini, Reva pun mulai menaruh curiga.


“Memangnya kenapa kalo aku pulang sekarang, Mas?” tanya Reva menyelidik


“Oh ti-tidak apa-apa. A-aku seneng kok kamu pulang. Aku hanya terkejut aja tadi. Soalnya yang aku tahu minggu ini kamu nggak ada rencana pulang. Kira-kira nyampe Jakarta jam berapa? Nanti biar kujemput.”


“Kemungkinan jam tiga sore. Nanti jemput aku di bandara aja ya, Mas.”


“I-iya.”


Dari balik telepon Reva menangkap keanehan dari nada bicara suaminya yang tersendat. Seperti dia sedang gugup. Apa yang sebenarnya terjadi padanya? Oh tidak. Reva terlalu sibuk bekerja sehingga tak pernah tahu rahasia besar yang terjadi selama dia di Malang.


Seketika mata Zacky terbelalak saat Reva bertanya seperti itu. Jangan sampai sang istri tahu kalau hari ini ada janji makan bareng Mila. Dia harus segera mengakhiri telepon ini supaya istrinya tak makin curiga pada dirinya yang belum bisa menguasai diri dari rahasia ini.


“Ng-nggak. Nggak ada yang aku sembunyiin. Kamu jangan curigaan begitu akh. Aku cuma lagi pegel-pegel aja nih. Udah dulu ya, Rev. Aku mau mandi dulu. Biar seger.” Zacky mencari-cari alasan untuk segera mengakhiri pembicaraan ini. “Assalamu’alaikum.”


“Wa’alaikum salam,” jawab Reva datar.


Usai teleponnya terputus, di kursi tunggu, Reva lantas berpikir. Menganalisa keanehan sikap suaminya tadi. Dia tahu pasti ada yang disembunyikan. Apa ini ada hubungannya dengan Mila? Jangan-jangan mimpi semalam benar. Akh ... tidak. Pikiran Reva menjadi kalut sehingga kedua tangannya memegangi kepalanya sendiri.


...*****...


Mila duduk di depan cermin. Memulas lipstik di bibir sampai merah sempurna. Wajahnya begitu berseri siang ini. Karena untuk kesekian kalinya Zacky mengajak jalan. Dia berusaha selalu tampil sempurna di depan Zacky. Dalam hati Mila terselip maksud kalau pria itu harus jatuh cinta kepadanya.

__ADS_1


Di dalam tas, ponselnya tiba-tiba berdering. Buru-buru ia merogoh tas itu lalu menjawab panggilan dari Zacky. Tampak riang, tatkala Mila menerima telepon dari pria itu. Pasti dia sedang dalam perjalanan ke sini.


“Halo, Mas Zacky. Aku udah siap nih.” Dengan nada yang amat sumringah Mila berkata. Sembari bercermin sekali lagi, make upnya sudah sempurna. Terlihat lebih cantik. Siapapun yang melihat pasti terpukau. Ditambah lagi pakaian seksi yang dipakainya akan menambah menawan penampilannya.


“Halo, Mbak Mila. Sebelumnya saya minta maaf kalau siang ini kita nggak jadi jalan.”


Bagai tersambar petir, Mila terkejut bukan kepalang. Sekejap rasa kecewa menjalari hati. Pria itu dengan mudahnya membatalkan janji. Padahal dia sudah berdandan maksimal.


“Lho, Mas. Nggak bisa gitu dong. Aku dari tadi udah repot-repot dandan tapi dengan mudahnya kamu membatalkan janji. Kenapa sih kamu, Mas?”


“Maaf, Mbak Mila. Siang ini Reva mau pulang.”


“Apa? Reva mau pulang? Kenapa bisa mendadak banget, Mas?” Suara Mila terdengar melengking di telepon. Menurutnya kedatangan Reva yang mendadak ingin pulang adalah hal yang aneh.


“Nggak tahu, Mbak. Saya juga heran.”


Tak mau menerima alasan lagi dari Zacky, telepon pun diputus. Apapun itu alasannya, Mila sangat kecewa. Saking kesalnya, dia melempar ponsel ke kasur. Mengacak-ngacak dandanan di wajah dan rambutnya. Rencana hari ini telah berantakan karena rencana kepulangan Reva.


Kalau saja hari ini tak batal, pasti suami sahabatnya itu akan terpukau karena dandanan hari ini adalah dandanan paling perfect dari hari sebelumnya. Tadinya dia ingin memancing hasrat kelelakian Zacky. Membangkitkan nafsu seksualnya sehingga dapat mengajaknya tidur. Namun hari ini semua rencanya gagal total. Sekarang wanita itu hanya bisa mematung beberapa saat di pinggiran kasur kusamnya.


Akan tetapi, beberapa lama kemudian di tengah rasa kesalnya, tiba-tiba ia teringat pada obat yang bisa membangkitkan birahi di dalam tasnya. Obat ini ampuh memanipulasi otak supaya apa yang dilihat adalah istrinya. Jadi nanti Zacky melihat Mila adalah Reva. Sehingga laki-laki itu dengan mudah diajaknya berhubungan intim.


Sembari memegang wadah berisi obat itu, Mila tersenyum licik. Dia harus memikirkan siasat agar dapat memberikan obat itu ke minuman Zacky. Dia yakin dengan obat ini suami sahabatnya itu akan terangsang.


Tujuan dari rencananya ini adalah agar dirinya dapat memberi Zacky anak. Bukankah ini baik untuk keluarga mereka yang selama ini menginginkan anak? Tak peduli dia dikatakan sebagai perebut laki orang. Menurutnya, kalau dia berhasil memberi Zacky anak, otomatis pria itu juga akan memberinya nafkah. Sehingga tak perlu bersusah-susah lagi mencari uang.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2