Kuakhiri Nestapa Kami

Kuakhiri Nestapa Kami
Bab 32


__ADS_3

Angkot yang ditumpangi Mila berhenti tepat di depan gerbang yang terbuka lebar. Pemandangan yang tidak biasa. Nampak banyak sekali mobil terparkir di halaman rumah. Dalam waktu singkat kematian Ranita Estina dapat terdengar oleh banyak orang penting di negeri ini. Tak bisa dipungkiri nama ibu sebagai pengusaha besar begitu tersohor dan mempunyai banyak kolega. Dari mulai pejabat, anggota dewan, artis, jenderal, dan banyak pengusaha dari berbagai kota datang bertakziah mengucapkan bela sungkawa pada sosok yang sangat diperhitungkan dalam perbisnisan Jakarta itu.


Walaupun tamu yang datang kebanyakan orang penting, Mila tak peduli. Dari gerbang dengan menggandeng Nina dan Nani, ia berlari menerobos tamu-tamu agar bisa segera melihat wajah terakhir ibu.


Sesampainya di muka pintu, Mila menangis histeris. Berlari sekali lagi dan merangkul jasad ibu yang sudah terbujur kaku. Seperti yang dilakukan ibunya, Nina yang pernah merasakan hangatnya kasih sayang nenek ikut menangis tersedu-sedu. Melihat ibu dan Nina menangis, pelan-pelan air mata Nani juga keluar dari sudut matanya. Meskipun pendengarannya terganggu, dia masih bisa merasakan kesedihan mereka. Mereka pun bersimpuh di samping pembaringan sang ibu.


Semua tamu yang bertakziah memandangi Mila dan anak-anaknya menangis. Ada yang ikut terharu. Ada pula yang bisik-bisik menggunjing Mila terkait gosip miring yang pernah mereka dengar.


“Itu putrinya Ibu Ranita yang hamil di luar nikah ‘kan?”


Sayup-sayup perkataan itu terdengar di telinga Mila. Namun ia tak mau marah karena itu memang kenyataannya. Dalam suasana duka seperti ini, dia sungguh tak peduli dengan gunjingan orang.


Mendengar tangis keras Mila, membuat ayahnya yang sedang mengobrol dengan tamu di ruang tengah, keluar untuk melihat wanita yang sedang menangis begitu keras itu.


Begitu tahu yang menagis itu adalah putrinya sendiri, Pak Saka pun terperanjat. Kulit mukanya mulai memerah. Kehadiran putrinya sendiri yang tak beliau duga sebelumnya membuat emosinya langsung naik. Tak peduli dalam suasana duka, saat itu juga beliau tak segan-segan mengusir Mila. Beliau yang sudah dikuasai amarah, seakan tak punyai malu dilihat orang-orang yang bertakziah.


“Ekh ngapain kamu datang ke sini segala,” bentak Pak Saka. Suaranya menggelegar dan memekakan telinga.


“Kakek ...,” teriak Nina sambil merangkul kaki Pak Saka yang ia tahu, pria itu adalah kakeknya.


“Hey, anak kecil jangan kau panggil kakek. Aku tak sudi menganggap anak Andre dan perempuan yang susah diatur itu sebagai cucuku. Sekarang pergi kalian dari sini!” Tanpa belas kasih beliau mengibaskan kakinya hingga Nina terjengkang. Dengan langkah penuh amarah Pak Saka mendekati Mila. Memaksanya bangkit. Ketika beliau berhasil memaksa berdiri, Mila didorong ke arah pintu keluar. Sementara Nina ditolong seseorang dan langsung didekatkan pada Mila.

__ADS_1


Takut terjadi hal-hal yang tak diinginkan, seorang tamu yang merupakan Kapolres setempat berusaha menahan Pak Saka yang hendak menyerang Mila lagi. Komandan polisi itu dibantu anak buahnya memegangi tangan Pak Saka.


“Cepat pergi kamu dari sini. Aku tak sudi Ibumu ditangisi oleh anak pembangkang seperti kamu,” teriak Pak Saka yang terus meronta agar para polisi melepaskannya lalu bisa menghajar Mila lagi dengan leluasa.


Atas kode yang diberikan oleh salah satu polisi, Mila pun pergi bersama anak-anaknya sembari menangis sesenggukan. Betapa tidak sampai sekarang pun ayahnya masih murka kalau melihatnya.


...*****...


Atas petunjuk dari sekretaris kepercayaan ibunya, Mila mendatangi makam ibu. Bersama Nina dan Nani, mereka mendoakan beliau di samping pusara. Mila menengadahkan tangan, mengharapkan agar Tuhan mengampuni dosa-dosa ibunda.


Dia tak kuasa menahan sedih saat memanjatkan doa. Air mata pun menetes pada tangannya yang menengadah. Ternyata begini rasanya kehilangan orang tua yang begitu baik dan mau merangkul kembali dirinya yang saat itu sedang berlumuran dosa dan dalam keadaan begitu hancur. Berkat sang ibu juga, ia bisa menumbuhkan rasa sayang pada Nina dan Nani.


“Nenek, terimakasih ya sudah mengembalikan kebahagiaan Nina dan Nani,” lanjut Nina ikut bicara juga sembari memandangi nisan nenek. Bersama Nani jemari kecilnya mengelus gundukan tanah yang terbaluti bunga-bunga yang masih segar.


Sementara Mila masih tertunduk pilu. Tetesan demi tetesan air mata mengalir lalu menetes di pucuk hidungnya, jatuh mengenai potongan mawar yang berserakan di pusara. Hening tercipta. Hembusan angin pekuburan yang sepoi-sepoi terasa menyejukkan. Seolah membawa pesan damai dari ibunda dari alam sana. Bahkan rambut panjang sekretaris kepercayaan ibunya yang berdiri di belakang mereka, tersibak angin. Kepalanya ikut menunduk memanjatkan doa.


“Ibu Mila, maaf sekarang sudah saatnya saya kembali. Sebentar lagi petang,” ucap sekretaris itu.


Benar juga apa kata wanita itu, saat Mila memandang sekeliling, sore sudah mulai beranjak pekat. Dia dan anak-anaknya segera bangkit. Namun, sebelum meninggalkan makam ibu, Mila melontarkan begitu saja perkataan yang tak terduga, “Tenang, Bu. Sebentar lagi kami akan menyusul Ibu.”


Perkataan yang terucap itu sontak membuat sekretaris dan Nina terbelalak. Apa maksud kata-katanya itu? Dan setelah berkata seperti itu Mila pun beranjak pergi. Menimbulkan tanya pada mereka yang mendengarnya.

__ADS_1


Saat langkahnya sampai di pintu areal pemakaman, tanpa disangka, mereka berpapasan dengan Pak Saka. Seperti biasa pria tua itu tak pernah memelankan suara pada Mila. Selalu berkata ketus dan tak mengenakan hati. Sepertinya rasa bencinya pada Mila sudah sampai ke ubun-ubun.


“Hey Mila, ngapain kamu ke sini. Jangan injakan kaki kotormu itu ke atas pusara Ibumu!”


Sindiran ayahnya sungguh sangat menyakitkan bagi Mila. Kalau dia mengerti putrinya kotor, seharusnya sebagai orang tua, dia menutupinya. Seperti yang dilakukan ibu. Bosan diperlakukan seperti itu, dia memberanikan diri mendebat perkataan ayah.


“Ayah jangan kau siksa Mila terus-terusan dengan umpatan, makian, dan hinaan yang menyakitkan hati Mila. Mila tahu, Mila salah. Waktu itu Mila ‘kan sudah pernah minta maaf. Tapi ayah bersikukuh tak mempedulikan Mila. Jangan menyesal kalo tak lama lagi Mila menyusul Ibu, Yah.”


Setelah berkata demikian, Mila langsung pergi dari hadapan orang tuanya. Mulut Pak Saka pun terbungkam.


Saat melihat mobil yang ditumpangi Mila berjalan meninggalkannya, Pak Saka memutuskan untuk membuntutinya. Tujuan semula berziarah ke makam istri terpaksa dibatalkan hanya untuk mengetahui tempat tinggal anaknya sekarang.


Dengan cepat, beliau naik mobil kembali dan langsung menginjak pedal gas takut kehilangan jejak. Mobilnya berjalan dengan tetap menjaga jarak agar mereka tak curiga.


Lima belas menit kemudian, mobil itu masuk ke dalam area parkir apartemen. Tempat yang tak asing bagi Pak Saka. Seingatnya dulu ibu pernah membeli apartemen di sini. Lantas beliau berpikir, mengapa anak itu bisa tinggal di apartemen ini?


Tak butuh waktu lama, beliau pun mengetahui alasan Mila dan anak-anaknya sekarang memasuki apartemen itu. Beliau tahu kalau selama ini istrinya mengizinkan dia tinggal di apartemen ini. Jangan-jangan istrinya sengaja agar Mila tinggal di situ.


Pak Saka pun lantas panas hati. Ini tak boleh dibiarkan. Beliau tak ikhlas seluruh harta kekayaannya ditinggali anak kurang ajar itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2